IMPULSIF (Episode 1)

  





 "IMPULSIF" 



Ilham Ramadhan















~ ~ ~ ~ ~





Banyak orang yang meyakini bahwa tak semua cerita harus berakhir indah. Namun keyakinanku berbeda, aku selalu percaya bahwa semua hal di hidup ini pasti berakhir indah. Perhatikan! Aku tidak menggunakan kata “mungkin” atau “akan”, tapi “pasti”. Seyakin itu dan akan selalu begitu isi pemikiranku.

 

Sudah lama sekali aku meyakini bahwa indah atau tidaknya akhir dari sebuah cerita, adalah tergantung sudut pandang orang yang melihatnya. Ada yang menyandarkan kata “indah” pada keinginan dan harapan akan sesuatu, padahal mungkin yang menurutnya indah tidak selalu mendatangkan kata “indah” yang semestinya. Begitupun sebaliknya, mungkin yang terlihat buruk, justru malah mendatangkan hal yang paling baik untuknya. Biar kuceritakan sedikit tentang semua ini, berdasarkan kisah dan pengalamanku selama ini.

 

Bukan berarti menggurui atas sesuatu, namun biar kuceritakan hal ini agar tersampaikan maksud dan isi pikiranku padamu, syukur jika nantinya pemikiranmu akan berubah tentang kata “indah” dan harapan yang selama ini sudah mengincau pemikiran hampir setiap orang di dunia ini.

 

Tulis Rafi di laptopnya, di sudut malam yang dia sendiri tidak tahu entah kapan sang malam akan membawa kebahagiaan fajar. Ditemani secangkir kopi kesukaannya, rafi mencoba menggugah hati para pembacanya, walau tak semua orang harus dan bisa langsung percaya pada semua tulisannya, minimal Rafi masih punya harapan untuk melukis segaris isi pikirannya kepada orang-orang yang disayanginya. Rafi adalah tipikal remaja laki-laki biasa yang dengan sangat mudah bisa ditemui di berbagai sudut dan titik kota, tipe remaja yang akan kamu temui di baris antrean coffe shop, atau seperti sesosok yang duduk diam di sebuah sudut perpustakaan. Namun kegiatan favoritnya adalah mengajak beberapa kepala manusia untuk sekadar mengimajinasikan sesuatu atau bahkan berfikir lewat tulisan-tulisannya.

 

Tepat 7 hari sebelum ia menulis potongan tulisannya, Rafi mengalami sebuah pelajaran yang sangat berharga untuknya. Sebuah kejadian yang semakin menguatkan prinsipnya terhadap kata “indah” dan harapan. Rafi adalah seorang karyawan di sebuah toko elektronik di salah satu kota besar di ujung pulau jawa. Dia adalah lelaki yang sebagaimana mestinya, mencoba mencari dan mengusahakan rezeki yang dijanjikan Tuhan untuknya.

 

Diantara beberapa rasa syukurnya dalam bekerja, baik itu gaji, rasa nyaman dan tentram dalam hati, Rafi juga mensyukuri sebuah anugerah Tuhan lainnya yang tanpa ia sadari ternyata menambah rasa semangat kerjanya. Benar sekali, anugerah itu bernama Dinda. Wanita cantik, lembut dan belakangan Rafi ketahui bahwa Dinda adalah wanita bersuku sunda. Dapat Rafi rasakan secara langsung betapa lembut tutur kata Dinda dalam percakapan sehari-hari, tiada nada tinggi, tiada kata-kata kotor nan sia-sia, sempurna. Sialnya, Rafi sudah lama merindukan wanita dengan tipikal seperti itu.

 

Sebenarnya, tidak ada satu kejadian besar yang bisa ia tunjuk dan katakan, “Oh, sejak saat itu aku suka dia.”

Semuanya berjalan begitu saja. Berawal dari percakapan sederhana di sela kesibukan, sapaan ketika berpapasan, candaan yang kadang tidak lucu, tetapi tetap membuat salah satu dari mereka tertawa. Sesekali bertukar cerita tentang pekerjaan, makanan yang sedang ingin dimakan, atau tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting untuk dibicarakan. Namun entah sejak kapan, hal-hal kecil itu mulai memiliki tempat tersendiri di kepala Rafi, ia mulai hafal beberapa kebiasaan Dinda.

 

Cara Dinda memanggil namanya ketika membutuhkan sesuatu, cara ia tertawa ketika merasa malu, cara ia terkadang mengetik pesan cukup panjang, lalu menghapus dan menggantinya dengan kalimat yang jauh lebih singkat. Beberapa hal yang sangat sederhana, terlalu sederhana bahkan jika Rafi ingin memasukkan hal tersebut kedalam “alasan menyukai Dinda”. Namun merasakan ada yang mulai tumbuh dalam hatinya, Rafi akhirnya mulai berani mengambil langkah pertamanya untuk Dinda. Tidak dengan cara yang berlebihan, ia hanya mencoba memberikan lebih banyak perhatian, lebih sering mengajaknya berbicara, dan sesekali mencari alasan agar percakapan mereka tidak berhenti terlalu cepat.

 

Rafi sadar bahwa dirinya sedang mendekati seseorang, Dinda pun mungkin sadar atas keadaan itu, hanya saja, mereka tidak pernah benar-benar membicarakan kemana semua itu akan dibawa. Sampai suatu malam, sebuah percakapan melalui gawai yang Rafi mulai lebih dulu. Tidak ada suasana khusus, tak ada langit penuh bintang, atau hujan yang turun saat Rafi memulai langkahnya yang kedua itu, hanya seperti malam-malam biasa yang terjadi di sepanjang bulan juni. Dan mungkin karena semua hal “biasa” itulah, justru yang membuat Rafi tak pernah menyangka bahwa percakapan di malam itu akan mengubah banyak hal di kepalanya.

 

Di percakapan panjang malam itu, mereka berdua sampai di titik pembicaraan tentang hubungan, Rafi bertanya “Kamu sendiri sekarang punya pacar?”

“Enggak kak.” Jawaban singkat dari Dinda yang membuat Rafi menampilkan seiris senyum tipis di ujung wajahnya.

Kemudian Dinda melanjutkan, “Tapi kalo yang deketin, banyak.”

Rafi membaca kalimat itu beberapa kali, kesunyian yang sudah diisi oleh detik jam dinding malam itu dilengkapi oleh lamunan Rafi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan jawaban itu, Dinda tidak berbohong, Dinda juga tidak pernah menjanjikan apa-apa kepadanya. Bahkan sejak awal Rafi tahu bahwa mendekati seseorang berarti harus siap dengan kemungkinan bahwa orang tersebut juga sedang didekati oleh orang lain. Tapi mengetahui sesuatu yang ada dalam kepalanya ternyata berbeda dengan kehendak hatinya, ada rasa hampa yang tak bisa Rafi lukiskan dengan kata yang singkat.

 

Banyak sekali yang ingin Rafi sampaikan pada detik itu, “aku nggak mau bersaing”, “aku nggak suka harus menunggu dipilih”, “aku takut ternyata aku cuma salah satu dari sekian banyak orang”. Tapi tiada satu pun dari kalimat itu yang ia kirim. Alih-alih mengirim apa yang sebenarnya ia pikirkan, Rafi justru menggunakan sebuah jawaban yang sering kali dipakai manusia ketika sebenarnya ada terlalu banyak hal yang tidak baik-baik saja.

“Gapapaaa.”

Rafi bisa saja mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman dengan keadaan itu, ia bisa bertanya siapa saja yang sedang mendekati Dinda, bisa saja meminta Dinda memberikan kesempatan padanya, namun malam itu Rafi memilih sesuatu yang jauh lebih mudah, pergi.

“kayaknya lebih baik gitu.” Dalam hatinya bergumam.

 

Rafi meletakkan ponselnya di atas meja, selesai, begitu pikirnya. Ia sudah mengambil keputusan, dan bukankah keputusan selalu terasa lebih mudah ketika kita menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling tahu apa yang kita butuhkan? Rafi bersandar di kursinya, menarik nafas panjang, ada sedikit rasa lega. Setidaknya ia tidak perlu menjadi salah satu dari banyaknya orang yang menunggu seseorang menentukan pilihannya, ia tidak ingin seperti itu. Ia tidak mau menjadi seseorang yang harus bertanya-tanya setiap malam tentang apakah dirinya cukup layak untuk dipilih. Maka malam itu, Rafi meyakinkan dirinya sendiri bahwa pergi adalah keputusan terbaik.

 

Belum juga jam dinding berputar 180 derajat penuh, tetapi tangan Rafi kembali meraih ponselnya dan membuka ruang chatnya dengan Dinda, ia kembali membaca obrolan sebelum malam itu, berbagai kabar, cerita dan candaan. Tanpa niat yang penuh, jarinya mengetuk kolom pesan, mengetik “Din...” berhenti, dihapus, mengetik lagi, dihapus lagi, sampai pada akhirnya ia mengunci layar. Rafi tersenyum kecil, seolah sedang menegaskan kepada dirinya sendiri “CUKUP”

 

Rafi masih ingat dengan jelas bahwa suasana malam itu persis rasanya seperti dinginnya malam ini, ketika ia duduk di depan laptopnya untuk menulis. Rafi melihat ponselnya, jam digital menunjukkan pukul 02.17 WIB. Tak lagi ia hiraukan dinginnya angin malam yang merusak tubuhnya secara perlahan, tak lagi ia hiraukan kewajibannya untuk tetap hadir bekerja pagi harinya. Ia ingin menyelesaikan tulisannya malam ini karena menurutnya, sebuah tulisan akan lebih terasa jika moodnya sedang pas, sekarang lah contohnya.

 


“TOK TOK TOK!!!!”




~BERSAMBUNG~


Komentar

Postingan Populer