SEWINDU
SEWINDU
Karya : Ilham Ramadhan
Sudah
sewindu, kamu pergi meninggalkan aku. Sudah sewindu, kamu pamit berlalu. Sudah
sewindu, aku tidak mendengar kata-kata ajaibmu. Sudah sewindu kamu melambaikan
tangan ke arahku. Sudah sewindu, aku kehilangan sosok bendu. Sudah sewindu, aku
merindukan seorang guru, sekaligus teman yang mampu membawa aku beranjak dari
singgasana penuh kerakal yang aku sebut rumah ini.
Sudah
sewindu, tapi aku masih ingat setiap senyuman yang selalu berhasil kamu
suguhkan kepadaku. Aku ingat setiap ajakan persuasif darimu yang berusaha
mengajak aku berjalan, walaupun dengan terseok-seok untuk keluar dari ngarai
kegelapan menuju ke titik dimana terdapat secercah cahaya yang disebut
kehidupan. Jika aku ditawari untuk meminta, maka aku akan meminta untuk kembali
bertemu denganmu, walaupun hanya untuk lima menit saja. Aku ingin kembali
memikirkan setiap saran yang engkau berikan setiap kali aku berkeluh kesah.
Beberapa
minggu ini, aku selalu mampir ke warung es coklat langganan kita dulu. Warung
es Mamang, yang selalu ramai disambangi anak-anak SMA ketika jam istirahat.
Tidak ada yang berubah disini, mulai dari kursi yang selalu menjadi tempat
duduk kita, tepat di ujung warung dengan warna merah tua, termos es mamang yang
berwarna hijau ditemani dengan lap kotak-kotak hitam putih, hingga tulisan di
meja, "DINDA DAN SYIFA SELAMANYA". Semuanya masih sama, hanya saja,
saat ini kamu tidak ada di sampingku untuk kembali mendengarkan cerita dariku.
Kamu
tidak lagi disini, untuk hanya sekedar mendengarkan berbagai masalah yang aku
simpan dari rumah, hanya untuk membagi itu denganmu di sekolah. Kamu tidak lagi
berada disini hanya untuk membuatku merasa sedikit lebih tenang. Bagaimana
kabarmu disana? Kudengar kamu sudah menemukan cahaya untukmu ya? Selamat
bermain dengan cahaya baru kamu disana, ya. Andai saja aku tidak mengizinkanmu
untuk ikut dengan kedua orang tuamu dulu untuk tinggal di kota itu, mungkin
kamu masih ada di sampingku sekarang.
Sudah
sewindu, tapi aku masih sering melewati jalan yang selalu kita lalui saat
pulang sekolah. Garis jalan yang makin hari kian memudar, seakan mengingatkanku
bahwa dulu kamu pernah mencoba menguatkan aku.
"Kalau
Tuhan ngasih cobaan ke kita, itu kayak ujian tau, ujian naik kelas. Artinya
Tuhan itu sebenernya mau kita untuk naik kelas dari level kita sekarang.
Makanya jangan ngerasa terlalu berat atau bahkan males ketika kita dapet
cobaan."
Kata-kata
itulah yang masih terpatri dalam ingatan, satu dari banyaknya kata-kata yang
kamu coba lontarkan hanya untuk membuat akal dan pikiranku ini sedikit lebih
sehat. Eh, ayo kita teriakkan kembali yel-yel kita. "DINDA SANGAR, SYIFA
PINTAR, SIAP MEMBUAT DUNIA BERGETAR!!!" Hahaha, yel-yel jenaka yang kamu
buat dulu selalu berhasil menghadirkan sebuah irisan senyum di bibir ini.
Rangatku hanya ingin kembali mendengarkan setiap pesan kecil yang kamu
sampaikan, namun bisa membuka mata ini untuk melihat setiap hal dari sisi
positif.
Sudah
sewindu, tapi aku baru menyadari sesuatu, hal yang menyakitkan namun tertutup
abu semu. Tersadar aku bahwa tidak semua orang yang pandai menguatkan orang
lain, juga pandai menguatkan dirinya sendiri. Kamu begitu lihai menggiring isi
pikiran ini selalu ke arah positif, kebaikan dan kekuatan. Kamu selalu rajin
untuk menanyakan bagaimana kabar diriku setiap hari, kamu tak pernah bosan untuk
selalu ingin tahu rasa apa yang masih hinggap di sanubari. Tapi percayalah, aku
menyesal, aku lupa untuk berbalik menanyakan hal serupa kepadamu, aku kira
memang kamu sekuat yang aku pikir, ternyata tidak.
Kamu
berhasil. Kamu berhasil membuatku berpikir bahwa kamu adalah orang terkuat
sedunia. Kamu berhasil membuatku beranggapan bahwa kamu adalah orang yang
mempunyai pemikiran terbuka dan berwawasan luas. Kamu berhasil menunjukkan
kepada diriku bahwa tidak semua hal yang terlihat menunjukkan sesuatu yang
tersimpan dibaliknya. Lagi-lagi kamu berhasil mengincau pikiranku terhadap
hal-hal yang sebenarnya terjadi.
Masih
bertaut setiap petuah yang kamu berikan untuk setiap curahan hatiku yang berisi
tentang kekejaman orang tuaku di rumah. Kamu selalu mendengarkan isak tangisku
ketika aku mulai bercerita tentang garangnya Ayah kepadaku, bagaimana perlakuan
Ibu terhadapku. Iya, kamu tahu itu semua. Itu semua terjadi karena hubungan Ayah
dan Ibu yang saat itu sedang di ujung tanduk. Kondisi rumah yang kalut menjadi
topik utama dalam setiap cerita yang aku sampaikan kepadamu. Tapi tenang saja,
sekarang semuanya sudah membaik, setidaknya untuk segenap warsa terakhir.
Sudah
sewindu, tapi aku masih ingat kata-kata terakhirmu kepadaku. Kamu mohon diri
untuk pergi, ikut pulang bersama keluarga ke kota asalmu, katamu karena alasan
ekonomi. Aku tidak pernah menyadari kamu adalah pembohong yang ulung sampai
kamu bilang padaku
"Nanti
kita ketemu lagi, ya."
Entah
mengapa aku hanya mengangguk sambil menahan isak tangis saat itu. Kamu pasti
sangat paham bahwa aku harusnya menangis saat itu, tapi aku ingin menunjukkan
bahwa aku kuat, aku ingin menunjukkan kepada orang yang selalu menguatkan
diriku ini bahwa aku sudah lebih baik, aku sudah jadi pribadi yang lebih tahan
banting, tapi sepertinya kamu tahu ya bahwa saat itu aku sedang berpura-pura
setengah mati untuk menutupi semuanya? Hahaha,
mungkin karena aku bukan aktor yang piawai seperti dirimu.
Sudah
sewindu, tapi masih sangat melekat sebuah warta yang tersaji dari salah satu
program berita nasional di televisi saat itu. Aku ingat kabar itu tersiar
seminggu setelah kamu berpamitan denganku. Tayangan itu memberitakan bahwa ada
orang tua yang tega membunuh anaknya, alasan pelaku membunuh anaknya itu adalah
karena masalah ekonomi. Geram adalah hal pertama yang aku rasakan saat itu,
namun tergemap seketika aku saat mengetahui korbannya adalah kamu.
Kenapa
kamu bisa begitu licik? Padahal dulu aku yang selalu bertanya
"Kalau
aku meninggal duluan, kamu gimana?"
Dan
dengan tegasnya kamu menjawab
"Kok
ngomong gitu? Jodoh, rezeki, dan takdir itu kan udah diatur sama Tuhan."
Kenapa
kamu bisa mengelabui temanmu ini? Aku adalah orang yang selalu menginginkan
kematian menghampiriku lebih dulu, tapi kenapa justru kamu yang dengan sigap
menyapanya? Wahai sahabatku, rinduku ini akan selalu aku sampaikan dalam bentuk
doa, yang semoga saja berubah jadi cahaya, dan akan selalu menerangimu disana.
Aku janji tak akan pernah lupa untuk selalu memanjatkan pinta kepada sang
pencipta untuk sahabatku, Dinda. Terima kasih untuk semua titah yang kamu
berikan untukku, sampai jumpa disana.
~
.jpg)

Komentar
Posting Komentar