SAMPAI AKU TUTUP USIA
"SAMPAI AKU TUTUP USIA"
Ilham Ramadhan
Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu untuk melindungi privasi narasumber.
~ ~ ~ ~ ~
Aku tidak ingin
berputar terlalu lama pada permainan kata. Hidupku sudah cukup penuh dengan
hal-hal yang tak sempat dijelaskan satu per satu. Tapi untuk dirinya, aku akan
mencoba menyusunnya perlahan. Sebut saja aku Dika. Usiaku 28 tahun, tidak
istimewa, wajahku bisa kamu temukan di antrean mana saja, di lampu merah, di
meja rapat, atau di sudut kedai kopi yang terlalu bising untuk disebut nyaman.
Saat ini aku
menjalankan sebuah usaha keluarga di bidang pangan. Bisnis lama yang diwariskan
turun-temurun. Tapi jangan bayangkan aku hanya duduk di kursi empuk sambil
menerima hasil jadi. Aku tumbuh bersama aroma dapur, suara panci beradu, dan
malam-malam yang dihabiskan menghitung ulang angka-angka agar esok tetap bisa
berjalan.
Untuk hidup, aku tidak
kekurangan. Untuk masa depan, aku tidak khawatir. Tapi untuk hati, aku masih
mencarinya.
Aku masih mencari
sebuah pelabuhan, bukan sekadar tempat berlabuh, tapi tempat yang mau menerima
kapal yang telah berlayar terlalu lama. Kapal yang badannya tak lagi mulus, deknya
sudah mulai berlubang dan keropos dimana-mana, dan di beberapa sisinya ada
lumut serta bekas gesekan karang.
Lucu
memang, belakangan ini aku dipertemukan dengan banyak orang. Beberapa datang
dengan niat baik, beberapa dengan keseriusan yang tak main-main. Mereka cantik,
mereka dewasa, mereka tahu bagaimana bersikap. Tapi entah mengapa, tidak ada
yang terasa seperti rumah. Ironisnya, di saat aku sesulit ini menemukan
tambatan hati, dulu pernah ada seseorang yang begitu ku yakini adalah
jawabannya. Seseorang yang, meski membawa sejuta teka-teki, justru terasa
paling selaras denganku, dan mungkin… di situlah kesalahanku bermula.
~
Cerita ini dimulai pada
tahun 2007, kami tinggal di lingkungan yang sama. Rumahnya berada di ujung gang
kecil, rumah yang dari lapangan tempatku bermain bola, atap rumahnya dapat terlihat
dengan jelas. Lapangan itu bukan lapangan sungguhan, hanya tanah berdebu dengan
dua batu sebagai gawang, tapi di sanalah sebagian besar masa kecilku habis. Sore
itu, seperti biasa, aku berlari tanpa peduli apa pun, keringat bercampur debu.
Nafasku terengah, aku berhenti sejenak di pinggir lapangan, menyandarkan diri
pada pagar kayu tua yang mulai rapuh. Lalu suara itu datang.
“Awas. Bajumu nanti
kotor.”
Aku menoleh. Namanya
Alina, ia berdiri beberapa langkah dariku, rambutnya tergerai sederhana,
wajahnya masih polos seperti anak-anak pada umumnya. Tapi entah kenapa, di
antara riuh teriakan teman-temanku, hanya suaranya yang terdengar jelas. Aku
tidak tahu harus menjawab apa, aku bahkan tidak benar-benar peduli pada bajuku.
Yang kuingat hanya satu hal, pada detik itu aku ingin sekali berdiri lebih
tegap dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, aku merasa diperhatikan.
Sejak sore itu, setiap
kali bermain bola, tanpa sadar aku selalu memastikan satu hal: Apakah ia ada di
sekitar? Kadang ia muncul di teras rumahnya, kadang hanya sekadar melintas membawa
buku kecil di tangannya, dan kadang hanya ikut duduk bersama teman perempuan
yang lain dengan tujuan ingin melihat permainan sepak bola di lapangan itu. Dan
entah kapan tepatnya, aku mulai menyadari bahwa ada alasan lain selain sepak
bola yang membuatku betah bermain di lapangan itu.
Di
lapangan itu, bukan hanya dia yang berdiri menonton, ada beberapa anak
perempuan lain yang ikut menyaksikan kami berlari-lari tanpa arah, tapi
anehnya, mataku tak pernah benar-benar mencari yang lain. Aku hanya sadar pada
satu suara, suara yang tidak keras, tidak memanggil namaku berulang-ulang, hanya
sebuah peringatan sederhana tentang bajuku. Dan mungkin sejak saat itu, aku
mulai menyukai cara seseorang memperhatikanku tanpa berusaha menarik perhatian.
Aku tidak tahu apa namanya waktu itu, aku hanya tahu, setiap sore terasa
sedikit lebih menyenangkan jika ia ada di sekitar.
Entah
bagaimana, rasa itu tidak berhenti di lapangan, kami mulai saling mengirim
surat kecil. Bukan lewat pos, bukan dengan amplop resmi, hanya selembar kertas
yang dilipat rapi, dititipkan lewat teman yang kebetulan sekelas dengannya.
Isinya sederhana, tentang pelajaran, tentang permainan sore hari, dan kadang
hanya kalimat singkat yang sekarang terdengar konyol jika kuingat.
Suatu
hari, ia mengembalikan balasan dengan satu komentar yang sampai sekarang masih
kuingat jelas.
“Tulisan
kamu kayak cacing kepanasan.”
Aku
kesal, tapi juga tertawa. Sejak hari itu, entah kenapa aku jadi lebih
memperhatikan caraku menulis, huruf-hurufku mulai kucoba luruskan, jarak antar
katanya kuatur lebih rapi. Lucu memang, bahkan sebelum aku mengerti arti
mencintai, aku sudah belajar membenahi diri demi satu orang.
Singkat cerita, ternyata waktu tidak pernah benar-benar memihak siapa pun.
Kami sempat berpisah sekolah saat masuk SD, masa itu terasa biasa saja, karena
usia belum cukup dewasa untuk mengerti kehilangan. Kami masih tinggal di gang
yang sama, masih sesekali bertemu, tapi tidak lagi setiap hari berbagi cerita
yang sama.
Lalu SMP datang, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami
kembali berada di sekolah yang sama. Seharusnya itu menyenangkan, seharusnya
aku merasa seperti mendapat kesempatan kedua, tapi justru di masa itulah aku
membuat pilihan yang sampai sekarang masih sering kuingat dengan nada tanya.
Aku berpacaran. Dengan orang lain.
Aku tidak tahu apakah saat itu aku sedang mencoba terlihat lebih dewasa,
atau sekadar membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa disukai tanpa harus
menunggu seseorang yang rasanya terlalu tinggi untuk kugapai.
Alina ada di sekolah yang sama, kami sering berpapasan di koridor, kadang
satu kantin, kadang satu kegiatan, ia tahu, tentu saja ia tahu. Tapi seperti
dua orang yang sama-sama menjaga gengsi, kami tidak pernah membahas apa pun
tentang itu. Aku menjalani hubungan itu seperti remaja pada umumnya. Tidak
dalam, tidak rumit, tapi cukup untuk membuatku terlihat “baik-baik saja”. Sampai
bertahun-tahun kemudian, aku mengetahui sesuatu yang mengubah cara pandangku
terhadap masa itu.
Ia pernah menuliskan di buku hariannya bahwa ia cemburu, cemburu melihatku
bersama orang lain di masa SMP itu, dan entah mengapa, setelah mengetahui hal
itu, masa remaja yang dulu terasa biasa saja tiba-tiba berubah menjadi sesuatu
yang rapuh, karena ternyata…
yang kupikir tidak ada, sebenarnya ada. Yang kukira hanya satu arah, ternyata
saling menunggu. Dan mungkin, di usia yang terlalu muda itu, aku terlalu sibuk merasa
tidak pantas… sampai tidak sadar ada seseorang yang diam-diam berharap aku
memilihnya.
Kami sudah bukan anak SMP lagi ketika aku mengetahui tentang diary itu. Kami
sudah melewati bangku SMA, kuliah, pekerjaan pertama, patah hati masing-masing,
dan versi diri yang terus berubah dari waktu ke waktu. Usia kami cukup untuk
memahami arti cemburu, cukup untuk mengakui rasa tanpa harus menertawainya. Suatu
malam, dalam percakapan yang entah bagaimana berubah menjadi terlalu jujur, ia
menyebutnya dengan nada ringan.
“Dulu aku cemburu, tahu nggak?”
Aku tertawa kecil, mengira ia bercanda. Tapi ia tidak ikut tertawa.
Ia bercerita tentang buku diary yang dulu selalu ia simpan di laci meja, tentang
halaman yang ditulisnya saat melihatku berjalan di koridor bersama perempuan
lain, tentang bagaimana ia berpura-pura biasa saja di depanku, tapi menuliskan
semuanya setelah sampai di rumah. Aku tidak langsung menjawab, bukan karena
tidak peduli, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sadar bahwa
mungkin selama ini aku tidak pernah benar-benar sendirian dalam perasaanku.
Aku pikir dulu aku satu-satunya yang menunggu, ternyata kami hanya dua
orang yang sama-sama takut melangkah lebih dulu. Ironisnya, saat kami
membicarakan itu, keadaan kami tidak banyak berubah dari masa remaja dulu. Kami
masih dekat, masih saling ada, masih tahu kabar satu sama lain bahkan tanpa
harus bertanya, tapi tetap tidak bersama. Tidak ada yang menghalangi secara
terang-terangan, tidak ada larangan, tidak ada jarak kota, tidak ada musuh
dalam cerita ini. Yang ada hanya waktu yang terlalu sering kami sia-siakan, dan
keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah cukup berani kami ambil, yaaaaa,,
setidaknya yang berani aku ambil.
Kadang aku bertanya dalam hati, apakah kami memang ditakdirkan untuk selalu
berada di “hampir”? Hampir mengakui, hampir memilih, hampir menjadi rumah satu
sama lain, dan mungkin sejak malam itu, sejak aku tahu ia pernah cemburu,
sesuatu di dalam diriku berubah. Bukan karena egoku terpuaskan, tapi karena aku
sadar, jika dulu saja kami sama-sama menyimpan rasa, maka sampai hari ini pun…
perasaanku padanya bukan kebetulan yang bertahan terlalu lama. Ia bukan sekadar
kenangan, ia adalah satu-satunya nama yang tetap terasa sama, meski semua hal
lain dalam hidupku berubah.
~
Setelah SMP berakhir, hidup kembali memisahkan kami, kali ini bukan hanya
beda kelas atau beda jadwal, kami benar-benar bersekolah di tempat yang
berbeda, lingkungan baru, teman baru, dunia baru. Dan seperti kebanyakan remaja
yang sedang belajar menemukan diri, kami mulai sibuk dengan petualangan
masing-masing. Di SMA, aku mengenal cinta dengan cara yang berbeda, bukan lagi
sekadar gengsi atau pembuktian, kali ini lebih dalam, lebih serius, atau
setidaknya terasa begitu saat itu. Aku belajar tentang komitmen, tentang
cemburu yang lebih nyata, tentang pertengkaran kecil yang membuat malam terasa
panjang.
Alina pun begitu, aku tahu karena sesekali kabarnya masih sampai ke
telingaku, kabar dan berita yang datang dari teman, dari cerita yang menyelip
tanpa sengaja.
“Aku lihat Alina sama cowok itu.”
“Mereka kelihatan dekat.”
Setiap mendengar itu, aku selalu bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada
yang terganggu. Padahal setiap kali mendengarnya, ada sesuatu yang terasa tidak
pada tempatnya. Aneh ya, padahal aku juga sedang bersama orang lain, kami tidak
benar-benar menjauh, sesekali masih bertukar pesan, hingga kadang mengucapkan
selamat ulang tahun, tapi kedekatan itu tidak pernah cukup untuk disebut
kembali. Kami seperti dua orang yang berjalan di jalan masing-masing, namun
sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan yang lain masih ada.
Walaupun di masa SMA, hubungan kami kembali berubah bentuk, kami tidak satu
sekolah, tidak satu lingkungan pertemanan, tapi media sosial mulai menjadi jembatan
yang terasa cukup untuk menjaga jarak tetap dekat. Suatu hari, SMA Alina membuat
akun menfess sekolahnya, tempat orang-orang mengirim pesan anonim untuk
diposting. Isinya macam-macam, dari yang benar-benar serius sampai yang sekadar
bercanda. Aku melihatnya sebagai kesempatan yang terlalu menggoda untuk
dilewatkan. Dengan nama pengirim yang samar, aku mengirim pesan ke akun itu.
F : Sekolah lain
T : @Alina
M : Semangat belajarnya, jangan ngelike postingan IG terus :v Semoga bisa masuk
PTN yang diinginkan ya :v Aamiin
Receh. Sangat receh. Tapi di balik emotikon dan candaan itu, ada satu hal
yang tidak pernah kutulis terang-terangan: aku masih memperhatikannya. Aku tahu
kebiasaannya, aku tahu ia sedang mengejar sesuatu, aku tahu ia tak pernah menunda
belajar, dan mungkin, dengan cara konyol itu, aku ingin memastikan bahwa aku
masih ada.
Pesan itu diposting, ia tidak pernah membalas secara langsung, tidak ada
chat pribadi, tidak ada klarifikasi, tapi di malam itu, aku merasa kembali
menjadi bagian kecil dari dunianya. Kami tidak jadian, tidak ada pengakuan
cinta, tidak ada janji, seolah-olah itu sudah cukup.
Pesan menfess itu tidak mengubah apa pun secara besar-besaran, tidak
membuat kami tiba-tiba lebih sering berbicara, tidak membuat kami mengaku
apa-apa, tapi sejak saat itu, aku tahu satu hal. KAMI BELUM SELESAI.
Di masa SMA, komunikasi kami seperti lampu yang tidak pernah benar-benar
mati, kadang redup, kadang terang, tapi selalu ada sedikit cahaya, sebulan sekali
mungkin kami berbincang, kadang tentang sekolah, kadang tentang rencana kuliah,
kadang hanya tentang hal remeh yang bahkan tidak layak dikenang, percakapan
kami tidak pernah panjang, tidak pernah terlalu dalam, tapi juga tidak pernah
canggung, dan setiap tahun, ada satu momen yang selalu sama.
“Ulang tahun”.
Entah sedang sedekat apa pun kami, entah sedang jarang bicara atau tidak,
pesan itu selalu datang.
“Selamat ulang tahun ya.”
Sederhana, tidak berlebihan, tidak ada emotikon hati, tapi selalu tepat waktu. Lucunya,
aku selalu menunggu pesan itu, dan aku yakin, diam-diam ia juga begitu.
Hubungan kami di masa itu seperti dua orang yang berjalan di jalur berbeda,
tapi tetap saling melambaikan tangan dari kejauhan, tidak cukup dekat untuk
disebut bersama, tidak cukup jauh untuk disebut asing, dan mungkin, di usia SMA
itu, kami sama-sama merasa masih punya banyak waktu. Masih ada kuliah, masih
ada masa depan, masih ada kesempatan. Kami tidak tahu bahwa justru di fase
berikutnya, jarak akan benar-benar mengambil perannya.
~
Lalu kuliah datang, dan di fase itu, jarak tidak lagi hanya soal sekolah. Aku
tenggelam dalam dunia yang benar-benar baru, kesibukan menjadi alasan yang
sempurna untuk pelan-pelan mengurangi intensitas. Pesan yang dulu dibalas dalam
hitungan menit berubah menjadi jam, jam berubah menjadi hari, hari berubah
menjadi… tidak sama sekali. Dan untuk pertama kalinya sejak sore berdebu di
lapangan itu, aku benar-benar tidak tahu kabarnya. Kami tidak bertengkar, tidak
ada drama, tidak ada kata perpisahan, kami hanya berhenti. Seperti dua orang
yang sama-sama mengira, jika memang ditakdirkan, nanti juga akan bertemu lagi.
Di masa kuliah inilah,
aku bertemu seorang wanita, Namanya Diana. Dan untuk pertama kalinya dalam
hidupku, aku merasa menjalani hubungan yang benar-benar bisa disebut hubungan.
Bukan lagi gengsi remaja, bukan lagi rasa penasaran, bukan lagi sekadar ingin
merasa dipilih. Diana baik, manis, dan pengertian. Ia hadir bukan dengan
teka-teki, tapi dengan kepastian. Jika ada yang ingin dibicarakan, ia bicara. Jika
ada yang mengganggu, ia tidak memendamnya terlalu lama. Bersamanya, semuanya
terasa lebih lurus. Aku menyayanginya.
Bersama Diana, aku
merasakan banyak hal untuk pertama kalinya. Perjalanan jauh pertama dengan
pasangan, perdebatan serius pertama tentang masa depan, rencana-rencana kecil
tentang hidup setelah lulus, bahkan cara memandang komitmen pun berubah ketika
bersamanya. Ia bukan pelarian, ia bukan pengganti, ia adalah seseorang yang
benar-benar hadir di hidupku pada waktu yang tepat. Dan mungkin karena itu, di
masa kuliah itulah untuk pertama kalinya Alina benar-benar hilang dari
rutinitasku.
Pesan ulang tahun yang
dulu selalu ada… perlahan terlambat. Percakapan sebulan sekali… berubah menjadi
beberapa bulan sekali. Lalu satu hari, tanpa kesadaran yang jelas, kami
benar-benar tidak lagi saling menyapa. Aku sampai lupa sejak kapan tepatnya. Yang
aku tahu, di fase itu, aku tidak merasa kehilangan, karena aku sedang sibuk
membangun sesuatu yang nyata bersama Diana.
Namun hidup tidak selalu selesai hanya dengan rasa yang cukup. Hubunganku
dengan Diana berjalan lama. Cukup lama untuk membuatku percaya bahwa mungkin,
inilah akhirnya. Cukup lama untuk membuat kami membicarakan masa depan dengan
serius. Tapi semakin dewasa, semakin banyak hal yang tidak bisa hanya
diselesaikan dengan saling sayang.
Ada prinsip, ada nilai yang kami pegang masing-masing, ada cara pandang
tentang hidup yang perlahan mulai terlihat berbeda ketika pembicaraan menjadi
lebih nyata, dan ada satu hal lain yang tidak bisa kuabaikan, aku anak tunggal.
Sejak kecil, aku tumbuh dengan kesadaran bahwa suatu hari nanti, aku akan menjadi
satu-satunya tempat orang tuaku bersandar. Dalam banyak keputusan hidupku, termasuk
memilih pasangan, suara mereka bukan sekadar saran yang bisa kuanggap angin
lalu.
Orang tuaku tidak pernah melarang dengan keras, mereka hanya berbicara
pelan.
Tentang kecocokan, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana pernikahan bukan
hanya tentang dua orang, tapi juga dua keluarga dan banyak hal yang
menyertainya. Aku mendengarkan. Aku dan Diana tidak berakhir dengan teriakan, tidak
ada pintu yang dibanting, kami duduk dan berbicara sebagai dua orang dewasa. Dan
untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti bahwa mencintai seseorang
kadang berarti mengakui bahwa rasa saja tidak selalu cukup untuk membawa sampai
akhir.
Ketika hubungan itu benar-benar selesai, aku tidak langsung memikirkan
siapa pun. Tidak Alina, tidak masa lalu, aku hanya diam cukup lama. Karena kehilangan
yang satu ini nyata, tidak seperti nostalgia yang samar, ini kehilangan yang
benar-benar pernah kupegang. Di masa diam itu, aku lebih banyak berada di
rumah, mungkin karena lelah, mungkin karena butuh kembali menjadi anak kecil
yang tidak perlu mengambil keputusan besar.
Suatu malam, saat kami duduk berdua di ruang tengah, ibuku tiba-tiba
berbicara tentang hal yang tidak kuduga.
“Memangnya kamu nggak sama Alina lagi?”
Aku menoleh, sedikit terkejut. Sudah lama namanya tidak disebut di rumah.
“Kenapa, Bu?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja.
Ibuku tersenyum kecil.
“Ya… dia pintar. Anaknya manis. Nggak neko-neko. Ibu lihat dari dulu kamu
sama dia cocok. Kalau nanti jadi apa-apa juga, kayaknya enak hubungan
keluarganya.”
Kalimat itu disampaikan tanpa tekanan, tanpa nada memaksa, hanya seperti
seorang ibu yang mengingat satu nama yang tidak pernah benar-benar asing di
hidup anaknya. Aku tidak langsung menjawab. Lucunya, ketika bersama Diana dulu,
ibuku berbicara tentang prinsip dan kecocokan dengan nada hati-hati, tapi
ketika menyebut nama Alina, ia berbicara dengan nada ringan, seperti menyebut
sesuatu yang sudah lama dikenalnya. Aku tidak tahu apakah itu pertanda, atau
hanya nostalgia seorang ibu yang sudah melihat kami tumbuh sejak kecil.
Yang jelas, malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nama Alina
kembali hadir bukan sebagai kenangan… tapi sebagai kemungkinan. Dan anehnya,
aku tidak merasa terganggu. Aku hanya merasa… waktu benar-benar berputar dengan
cara yang tidak pernah bisa kutebak.
~
Dari obrolan malam itu, aku tidak langsung melakukan apa-apa, aku memilih
diam. Aku benar-benar istirahat dari urusan hati, fokus menyelesaikan skripsi,
menghadapi hari-hari yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Bangun pagi,
mengerjakan revisi, pulang, tidur. Sesederhana itu. Patah hati yang satu itu
cukup membuatku lelah. Aku tidak ingin langsung mengisi ruang kosong dengan
nama lain.
Sampai pada suatu hari, sebuah siang yang panas dari luar karena cuaca dan
panas dari dalam hati dan kepala karena revisi dosen yang belum juga selesai,
tiba-tiba gawaiku berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk, bukan dari grup
keluarga, bukan dari teman kampus, melainkan dari sebuah nama yang lama tidak
muncul di layar, Alina. Aku sempat menatap layarnya beberapa detik sebelum
membukanya, ia mengirim sebuah foto. Seorang anak kecil yang berdiri rapi
dengan seragam sekolah, ponakanku.
Di bawahnya, satu kalimat singkat.
“Kenal nggak sama anak ini?”
Aku terdiam, membeku seperti baru saja divonis mati oleh hakim. Dunia ini
luas, kota ini juga tidak kecil, tapi entah bagaimana, ia kini berdiri di ruang
kelas yang sama dengan salah satu keluarga besarku. Ia menjadi guru, dan
ponakanku adalah muridnya. Aku tertawa kecil sendiri. Setelah sekian lama kami
berhenti tanpa perpisahan, setelah masa kuliah yang benar-benar tanpa kabar…
pertemuan kembali kami bukan lewat pengakuan rasa, tapi lewat buku pelajaran
dan seragam sekolah. Semesta punya selera humor yang aneh.
Aku membaca pesannya sekali lagi sebelum membalas. Jantungku berdetak lebih
cepat dari yang seharusnya untuk sebuah foto anak kecil berseragam. Ingatan
secepat kilat langsung menyambar otakku yang membawa memori bahwa beberapa hari
sebelumnya ibuku baru saja menyebut namanya, dan sekarang, tanpa aku melakukan apa-apa,
ia muncul di layar ponselku. Aku menarik napas panjang. Balasannya harus biasa
saja.
“Lah itu ponakan aku, Kenapa bisa di kamu?”
Santai, ringan, seolah tak ada apapun. Padahal di dalam kepala ini, pikiranku
berlarian ke mana-mana. Ia membalas cepat, ia mengirim foto itu karena merasa
familiar dengan wajahnya, lalu baru sadar bahwa itu keluargaku. Dunia memang
tidak selebar yang kita kira.
Sejak hari itu, percakapan kami tidak lagi sebulan sekali, tidak lagi
menunggu ulang tahun, kami berbicara hampir setiap hari. Awalnya tentang
ponakanku, lalu tentang pekerjaannya sebagai guru, lalu tentang hidup
masing-masing. Percakapan kami terasa berbeda dari masa SMA dulu, lebih dewasa,
lebih jujur. Aku masih menyimpan sisa lelah dari hubungan yang baru saja
selesai, dan ia pun tampak sudah melewati beberapa cerita hidupnya sendiri. Kami
tidak langsung membicarakan masa lalu, tidak juga membahas diary atau
kecemburuan, kami hanya… hadir. Kami seperti berjalan lagi, seperti dua orang
yang sempat berhenti di tengah jalan, lalu tanpa banyak kata memutuskan untuk
melanjutkan langkah yang sama.
Percakapan kami semakin sering, tapi tetap dalam batas yang nyaman, hingga
suatu hari, skripsiku benar-benar selesai. Revisi terakhir disetujui, tanda
tangan lengkap, dan setelah berbulan-bulan hidup dengan kopi dan begadang, aku
bisa bernapas lega, wisuda sudah di depan mata. Aku mulai memikirkan hal-hal
teknis yang sebelumnya tidak terlalu kupedulikan, salah satunya… batik. Entah
kenapa, tanpa banyak pertimbangan, aku mengirim pesan padanya.
“Kamu ngerti batik nggak? Rekomendasiin dong buat wisuda.”
Sederhana, ia membalas dengan antusias yang tidak dibuat-buat, mengirim
beberapa tautan toko daring, lengkap dengan komentarnya.
“Yang ini warnanya kalem.”
“Ini lebih dewasa.”
“Kalau kamu pakai ini kayaknya cocok.”
Aku tersenyum sendiri membaca itu, lucu ya. Dari menfess receh di SMA, sekarang
ia memilihkan batik untuk hari wisudaku. Akhirnya aku memilih salah satu yang
ia rekomendasikan. Keesokan harinya, saat makan malam, aku bercerita pada
ibuku.
“Bu, kemarin minta saran batik sama Alina. Ini yang dia pilih.”
Ibuku langsung berhenti mengunyah.
“Alina? Yang di ujung gang itu?”
“Iya.”
Reaksinya jauh lebih heboh dari yang kuduga.
“Ya sudah itu saja yang kamu beli! Selera dia bagus. Anaknya juga rapi
orangnya.”
Aku tertawa kecil melihat semangat ibuku, aneh rasanya, aku belum
mengatakan apa-apa tentang kemungkinan apa pun, kami bahkan belum membahas masa
lalu, tapi namanya sudah kembali terdengar akrab di rumahku. Dan entah kenapa,
mengenakan batik pilihannya di hari wisuda terasa seperti membawa sedikit
bagian darinya di salah satu momen penting hidupku. Bukan sebagai pasangan,
bukan sebagai status, hanya sebagai seseorang yang kembali hadir di waktu yang
tepat.
~
Hari H wisuda pun datang, aku seperti mahasiswa lain pada umumnya,
melakukan gerakan dan beberapa ritual kelulusan seperti yang sudah diperagakan
saat gladi resik. Berdiri ketika nama dipanggil, berjalan lurus tanpa menoleh,
menerima map dengan dua tangan, lalu menunduk sedikit sebelum kembali ke kursi.
Semua sudah ada aturannya, semua terasa seperti prosedur yang sudah dilatih. Tak
ada yang lebih istimewa di hari itu selain melihat senyum merekah dari kedua
orang tuaku.
Ibuku terlihat lebih sibuk dari biasanya, sejak pagi ia memastikan toga
terpasang rapi, kerah tidak terlipat, bahkan lipatan lengan batikku ia
perhatikan lebih lama dari yang seharusnya. Ayahku tidak banyak bicara, tapi dari
tatapannya cukup untuk membuatku tahu bahwa hari itu bukan hanya tentang kelulusan,
tapi tentang satu fase yang benar-benar selesai. Aku mengenakan batik yang ia
pilih, motifnya sederhana, warnanya tidak mencolok, tapi entah kenapa, rasanya
berbeda ketika kupakai, seperti ada cerita kecil yang ikut terselip di balik
kainnya.
Namaku dipanggil, tepuk tangan terdengar, kamera-kamera menyala, aku
berjalan ke depan dengan langkah yang kupastikan stabil, meski di dalam kepala,
pikiranku melintas ke arah yang tak ada hubungannya dengan panggung, ia tidak
datang. Dan aku sudah tahu sejak awal bahwa ia memang tidak akan datang, bukan
karena tidak peduli, bukan karena tidak ingin, tapi karena menjadi penonton di
keramaian bukanlah caranya hadir. Ia selalu lebih nyaman berada sedikit di
belakang. Pagi itu, sebelum acara dimulai, sebuah pesan masuk ke ponselku.
“Selamat ya atas gelarnya, semangat hari ini. Semoga harinya lancar.”
Beberapa menit kemudian, menyusul satu kalimat lagi.
“Maaf yaa, aku ga jago nulis kyk kamu.”
Aku tersenyum membaca itu.
Dari dulu, ia memang tidak pernah banyak kata, bahkan ketika cemburu, ia
menuliskannya di diary, bukan di depanku. Aku membalas sederhana saja.
“Yang penting kamu nulis.”
Tanpa sadar, aku bergumam dalam hati,
“Sejak dulu, kamu memang tidak pernah banyak kata. Tapi entah kenapa, aku
selalu bisa membaca yang tidak kamu tulis.”
Siang itu, sebelum acara benar-benar selesai, ia
kembali mengirim pesan.
“Ada titipan. Nanti ambil ya.”
Aku tidak terlalu memikirkannya sampai beberapa hari
kemudian sebuah kotak kecil sampai di tanganku, isinya dompet, warna gelap,
sederhana, tidak mencolok, persis seperti seleranya. Tidak ada kartu panjang,
tidak ada paragraf menyentuh, hanya satu pesan singkat.
“Biar yang lama diganti.”
Senyumku kembali hadir waktu itu, entah kenapa benda
sekecil itu terasa lebih personal dari ucapan panjang mana pun. Dompet itu
kupakai sejak hari itu, dan sampai sekarang, masih kupakai. Setiap kali
membukanya untuk membayar sesuatu, selalu ada satu pikiran kecil yang lewat, ia
pernah memilih ini untukku. Setelah wisuda, hidup kembali berjalan seperti
biasa. Aku mulai sibuk di usaha keluarga dan beberapa pekerjaan yang aku coba
untuk memantaskan diri sebagai calon keluarga, ia sibuk dengan sekolah dan
murid-muridnya. Tapi di sela-sela itu, kami selalu menyisakan ruang kecil untuk
satu sama lain.
Pesan pagi, cerita siang yang receh, keluhan malam
tentang hari yang melelahkan. Tidak selalu panjang, tidak selalu dalam, tapi
hampir selalu ada. Ada hari-hari ketika kami berbicara seperti tidak pernah
kehabisan topik, ada juga hari-hari ketika percakapan berhenti di satu balasan
singkat karena lelah atau suasana hati yang tidak menentu. Kadang kami “libur”
beberapa hari, tidak bertengkar, tidak ada drama, hanya dua orang yang
sama-sama capek, lalu salah satu dari kami akan kembali muncul dengan pesan
sederhana. “Udah baikan?” Dan semuanya kembali seperti biasa.
Tapi jangan salah, di sela-sela kebiasaan yang terlihat ringan itu, kami
juga pernah berbicara tentang masa depan, dan bukan sekali dua kali, aku pernah
bertanya, “Karena aku anak tunggal… nanti kamu mau tinggal di rumah ini sama
aku, atau kita bikin rumah sendiri?”
Ia tidak menertawakan pertanyaanku, ia menjawabnya. Ia juga pernah bertanya
balik, bagaimana kalau nanti ia tetap ingin bekerja setelah menikah, bagaimana
pembagian waktunya, bagaimana kalau kesibukan kami bertabrakan. Aku bahkan
pernah bertanya bagaimana caranya ia beradaptasi dengan keluargaku, dan
bagaimana aku harus bersikap pada keluarganya. Kami membahasnya dengan serius,
dengan nada yang tidak bercanda. Lucu memang, dua orang yang belum jelas
statusnya, tapi sudah membicarakan atap, pekerjaan, dan keluarga.
Waktu itu aku memikirkannya dengan ringan, dengan optimis yang mungkin
terlalu polos. Bukan karena aku ingin semua harus mengikutiku, justru
sebaliknya, aku berpikir, kalau memang harus tinggal di rumah ini ataupun ingin
membangun rumah dan apapun yang dia inginkan nanti, aku akan mengusahakan
semuanya agar ia nyaman. Aku akan menyesuaikan, aku akan belajar. Toh selama
ini dia juga selalu mengusahakan banyak hal untukku, dengan caranya sendiri, rasanya
adil kalau kali ini aku yang lebih dulu bersiap. Dan
mungkin ini terdengar seperti pikiran yang terlalu sederhana, tapi saat itu aku
benar-benar percaya satu hal, rumah kecil, biasa saja, di sudut mana pun…
selama di dalamnya ada dia, dan tidak ada drama yang aneh-aneh, rasanya itu
sudah cukup. Sesederhana itu pikiranku waktu itu.
Tapi di balik
obrolan-obrolan masa depan itu, ada pola kecil yang lama-lama mulai terasa. Ada
beberapa pertanyaan yang ia jawab dengan, “Kalau itu aku ngikut kamu aja.” Ada juga yang sejalan dengan pikiranku, nyambung, rasanya
seperti sedang berbicara dengan seseorang yang berdiri di titik yang sama. Tapi tidak jarang pula ia berkata, “Iya… kita lihat
nanti ya.”
Kalimat
yang terdengar ringan, tidak salah, tidak menolak, tidak juga mengiyakan
sepenuhnya. Dari percikan-percikan kecil itulah, perlahan mulai muncul
pertanyaan di dalam hatiku. “Kalau memang sama-sama mau berusaha dan tulus,
bukankah seharusnya kita bisa merancang jalan ke depan bersama?”
Bukan
mendahului Tuhan, bukan memaksa takdir, tapi secara logika, kalau dua orang
sepakat untuk berjuang, bukankah harus ada rencana yang sejalan? Setidaknya
arah yang sama? Aku mulai sadar, mungkin aku terlalu suka memastikan, terlalu
ingin semuanya jelas. Tapi bagiku, kejelasan bukan soal mengikat, kejelelasan
adalah bentuk tanggung jawab.
Dan mungkin masalahnya memang ada padaku, aku ini
terlalu logis, terlalu suka menyusun kemungkinan, terlalu cepat membaca pola, terlalu
ingin memastikan sebelum melangkah lebih jauh. Awalnya aku mencoba mengabaikan
kegelisahan itu, meyakinkan diri bahwa setiap orang punya tempo yang berbeda
dalam memantapkan hati, bahwa tidak semua orang nyaman dengan rencana yang
detail. Tapi semakin sering jawaban-jawaban itu muncul, semakin pikiranku
bekerja tanpa diminta, dan buat orang yang hidupnya banyak ditopang logika
sepertiku, pikiran yang dibiarkan bekerja sendirian itu berbahaya, pelan-pelan
ia berubah jadi gelisah.
Aku
masih menyimpannya sendiri waktu itu, tidak langsung menuduh, tidak langsung
bertanya, hanya ada satu pertanyaan kecil yang terus berputar di kepala, “Dia
ini benar-benar mau diajak hidup bareng atau tidak, sebenarnya?” Pertanyaan itu
tidak pernah keluar dari mulutku saat itu, ia hanya tinggal di dada, seperti
bisikan yang tidak mau diam, sampai pada akhirnya, pertanyaan itu tidak bisa
terus kupendam.
Suatu malam, entah karena lelah, entah karena pikiranku
sudah terlalu penuh, aku akhirnya menanyakannya, “Kalau nanti ada orang yang datang dan mau
ngambil kamu duluan… gimana?”
Aku tidak bertanya dengan nada menantang, tidak juga
bercanda, hanya ingin tahu, sejelas apa posisiku sebenarnya. Lalu ia menjawab
dengan tenang.
“Tergantung orangnya.”
Kalimat itu singkat, biasa saja, bahkan mungkin jujur. Tapi
di kepalaku, sesuatu berbunyi pelan, seperti alarm kecil yang akhirnya menyala
setelah lama berkedip. Bukan karena ia berkata ingin pergi, bukan karena ia
menyebut nama lain, tapi karena untuk pertama kalinya, kemungkinan itu
terdengar nyata. Dan yang membuatku diam bukan jawabannya, melainkan kesadaran
bahwa aku belum ada di posisi “tidak mungkin digantikan”.
Ada jeda setelah jawabannya, bukan jeda di layar,
melainkan jeda di dalam dadaku. Aku membaca ulang kalimatnya beberapa kali.
“Tergantung orangnya.”
Lalu aku menjawab, setenang yang aku bisa.
“Menurutku cuma ada dua kategori jawaban. Yang pertama
‘enggak’. Yang kedua… semua jawaban lainnya. Berarti setelah semua ini, aku
memang belum jadi prioritas di hidup kamu, ya?”
Aku
tidak mengetiknya dengan emosi, tidak ada huruf kapital, tidak ada tanda seru,
hanya logika yang akhirnya kubiarkan bicara. Karena bagiku sesederhana itu,
kalau seseorang sudah memilih, jawabannya refleks, tidak bersyarat, tidak
bergantung pada siapa yang datang. Dan di situlah, untuk pertama kalinya, aku
merasa sedang berdiri sendirian di titik yang kupikir kami pijak bersama. Aku
tidak ingat persis kalimat lengkapnya malam itu, tapi kurang lebih ia menjawab
seperti ini,
“Maaf ya kalau bikin kamu kecewa.”
Kalimat yang lembut, tidak defensif nan membantah, tapi
juga… tidak mengubah apa pun. Ia meminta maaf atas rasa kecewaku, bukan atas
jawabannya. Dan entah kenapa, justru di situ semuanya terasa semakin jelas. Karena
yang kuharapkan bukan permintaan maaf, namun penegasan. Sebuah “enggak.”, Sebuah
“kamu tahu kok kamu prioritas.”, Alih-alih sesuatu yang membuat pikiranku
berhenti bekerja sendiri, justru yang datang hanya pengakuan bahwa aku kecewa.
Namun aku sama sekali tidak merasakan amarah, aku hanya berpikir pelan di dalam
hati, “Oh. Berarti aku memang tidak salah menangkap semuanya selama ini.”
Seperti keyakinan yang selalu kukatakan pada diriku
sendiri, aku memang tidak bisa mengubah arah angin, tapi setidaknya aku bisa
mengatur layarku. Aku ingin tetap tenang menghadapi segala sesuatu yang sudah
berada jelas di depan mataku, walaupun disitu ada ombak, angin nan besar yang
seharusnya jadi alasan logis aku mengeluh dan menyerah. Lagipun, selama janur
kuning itu belum melengkung, masih ada berjuta alasan untuk tetap mengusahakan
dia, bukankah begitu? Aku tidak ingin kalah hanya karena takut, aku tidak ingin
mundur hanya karena ragu. Kalaupun memang Tuhan nanti berkata bukan aku
orangnya, setidaknya aku ingin sampai di titik itu tanpa penyesalan, tanpa
pikiran, “harusnya dulu aku lebih berjuang.”
Tapi setelah malam itu, aku belajar satu hal yang
tidak pernah diajarkan di bangku sekolah mana pun, mencintai dengan tulus bukan
berarti memaksa diri untuk buta. Aku tetap ada, tetap mengusahakan, tetap hadir
di pagi yang ia lewati, tetap mendengar keluhannya tentang murid yang sulit
diatur. Tidak ada yang berubah secara kasat mata, kami masih berbicara, masih
bercanda, masih membahas hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tidak
berarti apa-apa.
Tapi di dalam diriku, ada satu penyesuaian kecil, aku
berhenti berlari terlalu jauh sendirian. Jika ia ingin berjalan dengan tempo
yang berbeda, aku akan berjalan. Jika ia masih ingin “melihat nanti”, aku akan
menghargainya. Namun aku juga mulai bertanya pada diriku sendiri. “Apakah aku
mencintainya karena aku benar-benar siap hidup bersamanya, atau karena aku
terlalu lama tumbuh bersamanya?” Karena kadang, yang membuat sesuatu terasa tak
tergantikan bukan selalu karena ia yang terbaik, tapi karena ia adalah yang
pertama kita perjuangkan dengan sepenuh hati.
Hari-hari tetap berjalan. Ada waktu di mana ia kembali
lebih hangat, lebih yakin, lebih terlibat dalam rencana-rencana yang dulu
terasa samar. Ada juga hari ketika jawabannya tetap menggantung, dan setiap
kali itu terjadi, aku tidak lagi panik, aku hanya mengamati. Sampai pada satu
sore, tanpa drama, tanpa pertengkaran, aku menyadari sesuatu yang sederhana:
aku tidak lagi takut kehilangannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku
sudah memberikan yang bisa kuberikan.
Jika suatu hari ada seseorang yang benar-benar datang
dan ia memilih pergi, maka itu bukan karena aku kurang berjuang, bukan karena
aku kurang jelas, bukan karena aku tidak siap. Itu hanya karena memang bukan aku
orangnya. Jika kelak ia berdiri di pelaminan dengan orang yang lebih siap,
lebih pantas dan lebih dari segalanya, aku tetap akan tersenyum. Mungkin tidak
hari itu, mungkin butuh waktu, tapi akan aku jamin bahwa aku akan sampai pada
titik menerima. Karena mencintainya tidak pernah salah. Yang salah hanya jika
aku berhenti menghargai diriku sendiri.
Dan sampai hari ini, ketika aku menulis ini, ia masih
ada, masih menjadi nama yang jika muncul di layar ponselku membuat sudut
bibirku terangkat sedikit, namun aku tidak lagi menggenggam dengan gelisah. Aku
mencintainya dengan cara yang lebih dewasa sekarang. Dan jika suatu hari cerita
ini benar-benar sampai pada akhirnya, entah itu bersatu atau berpisah, aku tahu
satu hal pasti:
Aku sudah mengusahakan. Dan bagiku, itu cukup.
Dan kalau memang pada akhirnya aku bukan yang
dipilihnya, mungkin gantian saja. Biarlah aku mencintainya dengan cara yang
selama ini ia pakai untuk menyayangiku. Pelan, tidak tergesa, tidak menggenggam
terlalu erat, mungkin tidak penuh kepastian, tapi tetap ada.
~ ~ ~ ~ ~
Alina
Kalau suatu hari kamu membaca cerita ini dan merasa ada bagian yang terlalu
mirip dengan hidupmu, mungkin itu memang bukan kebetulan. Kita tumbuh bersama waktu,
tenggelam bersama di palung ragu, tak jarang pula kita bertemu di ruang rindu,
dan belajar mencintai dengan cara yang tidak selalu sempurna. Pahamilah bahwa aku
tidak pernah menyesal mengenalmu, tidak juga menyesal menunggumu.
Kalau boleh aku berimajinasi, aku akan menggambarkan
kita berdua ada di sebuah danau pada sebuah sore yang tenang. Ada dua kursi
disana yang memang sudah diatur oleh semesta khusus untuk dua orang yang ingin
berada di tempat yang sama tanpa harus bersatu, salah satu dari kita membawa
sebuah lampu petromax dengan niat siap menerangi ganasnya malam yang akan jatuh
saat itu. Kendati malam tak pernah benar-benar jatuh, danau tak pasti
benar-benar berarus, atau bahkan sore tak benar-benar tenang, karena sejatinya
kita tak pernah benar-benar disana.
Dan kalau nanti kamu membaca sampai di bagian ini, aku hanya ingin
kamu tahu satu hal terlebih dulu— aku baik-baik saja, lebih baik dari yang
mungkin kamu kira. Aku sudah berdamai dengan banyak hal, dengan kemungkinan,
dengan ketidakpastian, dengan apa pun yang nanti Tuhan tuliskan untuk hidupku…
termasuk tentang kita. Aku tidak lagi berdiri di titik yang penuh tanya, aku
berdiri di tempat yang lebih tenang sekarang.
Terima kasih.
Untuk waktu yang pernah kamu luangkan, untuk perhatian-perhatian kecil yang
mungkin bagimu biasa saja, tapi bagiku punya arti besar.
Untuk komentar “tulisan kamu kayak cacing kepanasan”
yang tanpa kamu sadari membuatku belajar merapikan banyak hal—bukan cuma huruf,
tapi juga diri.
Untuk batik di hari wisudaku.
Untuk dompet yang sampai hari ini masih kupakai.
Untuk semua bentuk hadir yang tidak pernah kamu
ucapkan panjang, tapi selalu bisa kurasakan.
Aku juga ingin minta maaf, Kalau ada janji yang dulu
kuucapkan dengan yakin tapi belum bisa kutepati. Kalau ada sikapku yang terlalu
logis, terlalu banyak berpikir, terlalu cepat membaca arah. Kalau ada
kata-kataku yang tanpa sengaja melukai, atau membuatmu merasa tidak cukup aman
untuk menetap. Mohon percayalah, tak pernah sekalipun aku berniat menyakitimu.
Satu
hal yang mungkin belum pernah benar-benar kuucapkan dengan lantang—aku masih
berjuang. Bukan dengan cara memaksa, bukan dengan cara menahan, tapi dengan
cara memperbaiki diriku sendiri. Kalau suatu hari kamu melihatku tetap ada, itu
bukan karena aku tak bisa pergi, melainkan karena aku memilih untuk tinggal
selama masih ada kemungkinan yang layak diperjuangkan.
Dan kalau pun nanti jalan kita tidak berujung di
tempat yang sama, kamu tidak perlu merasa bersalah. Karena aku sudah
mengusahakan dengan sadar. Aku sudah mencintai dengan utuh, dan aku tidak
membawa penyesalan untuk itu. Kali ini aku tidak akan berjanji, tapi lurus aku
sampaikan bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, aku akan tetap menyayangimu
sampai di ujung usiaku. Dan kamu Alina, akan selalu jadi bagian dari perjalanan
yang membentukku.
Terima kasih sudah pernah ada.
Dengan caramu sendiri.
PLEASE USE YOUR EARPHONE FOR THE BETTER EXPERIENCE 👀💖

.jpg)

Komentar
Posting Komentar