PANCARONA

 


 PANCARONA


Karya : Ilham Ramadhan 














Diksi pembuka biasanya adalah kunci dari sebuah puisi

Tapi kali ini, biarkan aku memilah kata yang alami

Tak sekadar bersandar pada halusnya imaji

Biarlah kali kali ini liarnya ekspektasi yang menari

Akrab sekali ia bergurau dengan sang ambisi

Riang berdua bermain dibawah terik sinar dekadensi

 

 

Biar kuceritakan padamu sebuah kisah sederhana

Yang terselip nama indahmu disana

Riwayat yang telah berjalan sejak lama

Namun ku usahakan untuk tidak berendam di air keruh

Aku tahu hatimu sudah terlalu bising oleh gaduh

Atau mungkin saja disana sudah singgah sang jenuh

 

 

Kalaupun akhirnya nanti kita tak searah

Kupastikan bahwa aku adalah orang terakhir melupakan tentang kita

Bukan berarti aku adalah orang yang lemah

Namun aku yakin ini semua tak mudah lenyap seketika

Miliaran kenangan yang tersusun megah

Rasanya mustahil tertiup angin putus asa begitu saja

 

 

Akhir-akhir ini aku bertemu berbagai macam warna

Pancarona yang tetap tak menggugah sanubari

Banyak dari mereka yang tetap berusaha mengetuk pintu hati

Namun bukankah jika sudah ada yang menempati

Tak pantas kita membuka kesempatan untuk yang lain?

 

Babak belur aku dihantam berbagai ekspektasi

Berat diri ini menyandang impian dan harapan dari berbagai sisi

Aku yakin kau masih ingat ketika aku bertanya

“Dosa apa yang sudah ku perbuat hingga bisa seperti ini?”

Rasanya tak pantas aku terus berandai, tapi saat ini aku ingin mengatakan

“Andai aku masih punya peluang untuk berbicara denganmu.”

 

 

Sialnya aku sudah menemui titik lelahku

Ribuan kali aku berharap kabar darimu lah yang menghidupkan layar handphone ku

Namun jutaan kali rasa itu hancur ketika melihat bahwa semua itu bukan darimu

Entah berapa lama lagi aku kuat bertahan tentang ini

 

 

Belakangan ini, seolah semua sedang berbaris rapi meninggalkanku

Hampa adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya

Bohong jika aku mengatakan bahwa aku kuat dan tak ingin menyerah

Tapi aku masih percaya bahwa pulau kebahagiaan yang selama ini aku cari

Berada tepat diujung samudera kesedihan ini

Hanya terkadang aku tetap memerlukan map dan kompas untuk menapakkan kaki disana

 

 

Tak baik terlalu mengharapkan sesuatu yang sudah jelas diluar kendali kita, bukan?

Jadi biarkan aku kembali mencoba untuk berusaha dan mengikhlaskan semuanya

Aku tidak tahu pancarona ini akan membawa kabar apa

Yang aku tahu, aku akan lebih berantakan jika terus meratap

 

Pada akhirnya, selamat melanjutkan perjalanan kita masing-masing ya.


Komentar

Postingan Populer