SALAH MENDENGAR (Bagian 2)
CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen "SALAH MENDENGAR" ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara berurutan dari "BAGIAN 1" terlebih dahulu.
TERIMA KASIH :)
"SALAH MENDENGAR"
(Bag 2)
Ilham Ramadhan
“TOLOOONGGG!!!!
TOLOOONGGG!!!!”
Aku terkejut mendengar
suara teriakan yang sepertinya berasal dari dasar sungai disana. Segera aku
menuju ke tempat suara berasal, sangat terkejut diriku ketika aku menemukan
bahwa sungai ini tak sedangkal yang ku kira saat aku melihat kedalamnya. Dari
riuhnya riaknya air sungai ini, aku melihat sebuah bayangan tangan yang seperti
meminta tolong untuk diangkat dari dasar, dengan cepat aku mencoba menyambut
pergelangan tangan itu dan mencoba menariknya keatas. Namun semakin aku mencoba
menariknya keatas, justru tanganku yang terasa lebih ditarik ke bawah, hingga
akhirnya aku mencoba untuk melihat ke arah sungai itu, tiba-tiba sebuah wajah
mendadak melompat kearahku dengan kecepatan penuh.
“Hah!” Aku tersentak
terbangun dari tidurku, seperti mimpi jatuh dari ketinggian.
Sial, malam sudah
menyelimuti kampung, jam berapa ini? Oiya aku tidak membawa handphone. Aku
harus segera kembali ke rumah nenek, pasti dia sudah risau menunggu
kepulanganku seorang diri disana. Berlari adalah cara yang kupilih saat ini
untuk pulang kerumah, namun efek mimpi tadi rasanya terlalu nyata, nafasku
masih terengah-engah layaknya pelari marathon yang baru menyelesaikan lombanya.
Tapi di sisi lain, aku juga memikirkan bagaimana respon penduduk kampung jika
aku berlarian malam-malam. Aku memang harus secepatnya sampai ke rumah, namun
aku tidak mau mengubah suasana seisi kampung hanya karena diriku seorang.
Apalagi kampung ini adalah tipikal kampung yang semakin malam semakin hangat
suasananya, begitulah sekiranya yang kurasakan saat di perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah,
nenek sudah tertidur. Aneh, bukankah seharusnya ia risau dan menunggu
kepulanganku? Tapi sudahlah, cucu macam apa aku ini, berharap seorang manula
menunggu kepastian dari anak yang masih teledor sampai saat ini, biarkanlah
nenek beristirahat. Dan rasanya aku juga harus segera beristirahat, karena aku
sudah berniat besok pagi harus aku yang membuatkan sarapan untuknya.
Sesampainya di kamar, aku langsung berusaha memejamkan mataku, mencoba kembali
beristirahat seutuhnya, aku tidak ingin memikirkan apapun yang sudah dan akan
terjadi, besok aku harus menjadi cucu yang berbakti, yang membuatkan sarapan
untuk ibu dari ibuku itu.
Hari ketiga menyapa,
kali ini aku bangun di waktu shubuh, aku bergegas membersihkan diri di belakang
dan menyiapkan beberapa bahan masakan untuk sarapan. Di tengah perjalanan
menuju kamar mandi, aku melewati kamar nenek dan sekilas aku melihatnya masih
tidur, aku tersenyum kecil, kali ini nenek akan melihat dan mencoba masakan
enak buatan cucu tersayangnya ini. Aku mandi pagi di tengah tajamnya angin pagi
dari sebuah kampung yang bersebelahan dengan bukit, dapat kamu bayangkan
dinginnya bukan? Saat aku sedang mencoba membersihkan wajah yang mulai terlihat
lebih tua dari umurku seharusnya ini, tiba-tiba aku mendengar sebuah desus
kecil dari arah rumah belakang nenek, “sofia” suaranya kecil. Namun aku kembali
berfikir, bukankah logikanya cukup besar untuk sebuah suara bisa terdengar di
sela-sela bisingnya gemericik air yang sedang ku gunakan untuk membasuh wajah
ini?
Ah, mungkin itu hanya
bias suara yang berasal dari penduduk kampung yang sedang mengerjakan sesuatu
di belakang. Selesai membersihkan diri, aku segera ke dapur dan memilih
berbagai bahan makanan yang tersedia untuk membuat sarapan, dan diluar
dugaanku, ternyata banyak sekali sayur mayur disini, oiya aku lupa, nenekku
juga punya ladang sayuran di belakang rumahnya. Sembari memasak, sesekali aku
melirik ke arah kamar nenek, kaki nya masih terlihat dari atas kasurnya,
artinya nenek masih tidur. Singkat cerita, sarapan pun selesai aku buat,
saatnya aku membangunkan nenek untuk sarapan. Di depan pintu kamarnya, aku
melihat begitu pulasnya dia tidur, aku tidak tega membangunkannya.
Biarlah, tidur 10 menit
lagi tidak akan menyakiti siapapun. Aku menuju ke tempat cuci piring untuk
membersihkan berbagai perabotan yang sudah aku pakai untuk masak tadi. Begitu
aku sampai di persimpangan pintu dalam rumah dan tempat cuci piring diluar,
tiba-tiba nenek datang dari belakang rumah.
“Sofia, kamu masak ya?
Harum banget aromanya, nenek sampe bisa nyium dari ladang belakang, padahal
nenek ngambilin sayur untuk makan hari ini lho. Tapi gapapa deh kalo makanan
nya udah jadi, hahaha. Yuk makan.”
LOOOOOOHHHHHHH!!!!!!!!
SEBENTAAAAAAAAAAARRRR!!!!!!
“Nenek,, ne ne nenek
dari ladang belakang? Dari kapan nek?” Tanyaku sembari menahan sekuat tenaga
agar suara gemetarku tidak terdengar jelas.
“Dari shubuh tadi, tadi
nenek tau kalo kamu lagi bebersih. Nenek tadi pamit ke kamu mau ke ladang, tapi
mungkin kamu ga denger ya. Kenapa?” Nenek memberikan jawaban juga pertanyaan,
mungkin dia mulai merasakan keanehan yang dialami cucunya ini.
“Ehm, engga nek.
Yasudah yuk kita makan.” Aku mencoba menutup obrolan.
Sarapan kali ini aku
menunjukkan raut wajah yang berbeda. Kalau tadi nenek dari ladang, lantas siapa
yang aku lihat tidur di kamar tadi? Bukankah aku sudah melihat dengan mata
kepalaku sendiri? Jadi tadi yang memanggil namaku saat cuci muka itu nenek
karena ingin pamit ke ladang? Lalu, siapa yang aku lihat di kamar dari aku
mulai memasak sampai selesai tadi? Semua pertanyaan ini berputar di kepalaku
tanpa henti, sesekali aku melirik ke kamar nenek selama sarapan ini. Sepertinya
nenek pun mulai curiga dengan gelagatku ini,
“Sofia, kamu kenapa?”
Nenek bertanya.
“Eh, anu.. gapapa nek.
Kayaknya Sofia agak capek aja karena abis masak.” Jawabku.
“Oiya, Sofia minta maaf
ya nek, karena kemarin Sofia pulang malem banget dari jalan-jalan.” Aku mencoba
menyinggung kejadian semalam.
“Iya, gapapa. Nenek
juga minta maaf ya. Bukannya nungguin kamu, nenek malah tidur, semalem nenek
udah ngantuk banget. Terus nenek mikirnya Sofia udah bisa jaga diri sendiri,
mungkin Sofia lagi main ke salah satu rumah orang di kampung ini.” Jawabnya
yang secara tidak langsung juga menjawab rasa penasaranku dari semalam.
Sangat masuk akal
memang, terlebih dalam kepalaku juga sudah ada alasan kenapa nenek memang
sebaiknya tidur terlebih dahulu. Namun entah kenapa kejadian dalam mimpiku di
hutan semalam tidak terucap di meja makan pagi ini. Semuanya sudah terkubur
oleh kejadian yang aku alami pagi ini, rasanya bahkan jauh lebih terasa
menegangkan pagi ini. Tidak dengan rasa terengah-engah seperti mimpi semalam,
namun lebih meninggalkan bekas yang dalam pada jiwaku ini.
Pada siang hari, aku
kembali pamit kepada nenek untuk mengelili kampung ini lagi, aku beralasan
bahwa ada yang belum aku jamah di kampung ini. Dan mungkin, aku akan mengamini
ucapan nenek tadi, mungkin saja aku akan mampir ke salah satu penduduk kampung untuk
sekadar bercengkerama dengan mereka. Tapi mau bagaimanapun juga, tujuanku tetap
satu, yaitu kembali ke hutan itu, aku ingin merasakan kembali nuansa yang
ditawarkan disana, dan kali ini aku akan membawa handphoneku, aku tidak ingin
melewatkan keindahan alam yang ada disini dengan sia-sia. Semua sudah siap,
kali ini aku berangkat dengan motorku, berniat mengambil jalan yang berbeda
dari yang kemarin, siapa tau ada hutan lain yang lebih menawarkan ketenangan,
atau mungkin ada sebuah tempat yang lebih indah dari yang sudah kulihat sejauh
ini, kita lihat saja.
Kurang lebih satu jam
aku berkeliling di kampung ini, namun ternyata tidak ada satupun tempat yang
dapat menarik perhatianku lebih dari hutan semalam. Kembalilah aku ke hutan
kecil nan rindang ini, dan anehnya, tak ada ketakutan yang berhasil mengangkat
satupun bulu kudukku. Semua misteri yang kurasa dari semalam seperti tertutup
oleh daya tarik yang lebih banyak ditawarkan oleh tempat ini. Namun lagi-lagi
kesialan menghampiriku, handphone yang aku bawa dari rumah nenek tadi, ternyata
baterainya habis.
“Adaaaaaaa aja....”
Gumamku.
Tapi memang setelah aku
ingat-ingat, aku belum pernah mengisi daya handphone ini sejak aku sampai rumah
nenek. Huft, sekali lagi terlewat sudah keindahan alam seindah ini. Tapiii,
sepertinya ini waktu yang tepat bagiku untuk melihat sungai itu, bukan? Apakah
misteri yang dihadirkan lewat mimpiku semalam dapat menghapuskan keindahannya?
Akhirnya dengan semua rasa penasaranku, aku mulai mendekati sungai kecil yang
bergemiricik kecil menenangkan itu. Sungai ini ternyata tidak sedalam yang
terlihat semalam, sungai ini dapat ku perkirakan memiliki dalam se mata kaki
dan di pinggiran kanan dan kirinya dipenuhi tanaman berakar rambat. Sedikit
memang, tapi cukup rasanya untuk menambah kecantikan dan keanggunan sungai ini.
Benar kan, tidak ada
ketakutan yang sepadan mengalahkan keindahan ciptaan tuhan. Aku bernafas lega,
berjalan-jalan mengelilingi seisi hutan sebelum akhirnya aku kembali
mengistirahatkan punggungku di batu itu lagi. Hingga ada di suatu titik, saat
mataku dirayu kembali oleh lembutnya angin, terdengar suara “Sofiaaa...” Sontak
mataku mencoba sekuat tenaga untuk terbuka kembali, tapi halusnya angin sore
ini ternyata dengan gagahnya mengalahkan rasa penasaranku. Ketika mataku
kembali sedikit tertutup, kembali terdengar “Sofiaa, tolong...” Kali sang
penasaran berdiri paling depan diantara yang lain, aku segera mencari asal dari
suara itu. Aku menatap jalan raya tempat motorku terparkir, namun suara itu
ternyata lebih kuat terdengar dari arah belakangku, dan itu adalah... iya,
sungai.
Aku bergegas
meninggalkan hutan ini, tak ada pertanyaan yang perlu untuk dijawab kali ini,
dan ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan. Aku memacu motorku lebih cepat dari
biasanya, rumah nenek adalah tempat paling aman untuk saat ini, setidaknya itu
yang terlintas di pikiranku. Di jalan pulang, aku bertemu pak kades yang
kemarin ke rumah nenek, aku hanya melemparkan senyum tipis padanya, aku tidak
ingin memberikan kesan panik padanya, tapi senyum template nya itu justru
memberi tambahan rasa panik pada diriku saat ini. Sesampainya dirumah nenek,
aku menceritakan semua keanehan di hutan dan rasa curiga yang muncul ketika aku
menatap pak kades kepada nenek, dan nenek hanya tersenyum. Aku sangat paham
bahwa nenek hanya ingin memberikan rasa hangat dan nyaman kepada cucunya yang
sedang dihantam rasa takut ini, namun bukankah seharusnya tidak hanya senyum
yang diberikannya saat ini?
Malam kembali
menyelimuti kampung, semua kegiatan di rumah nenek kembali berulang, dari makan
malam hingga tidur, tapi kali ini aku mengisi daya handphoneku. Aku tidak ingin
melewatkan keindahan hutan itu untuk ketiga kalinya, benar, walaupun ketakutan
selalu menyapaku disana, tapi sangat sayang rasanya jika aku berlibur beberapa
hari disini namun tak ada “oleh-oleh” berupa gambar yang bisa ku tunjukkan dari
kampung ini kepada teman-temanku di kota nanti, dan aku benar-benar penasaran
bagaimana reaksi mereka setelah akhirnya aku membalas pesan-pesan mereka dari 2
hari yang lalu. Aku tak sabar melihat kembali wajah mereka setelah ku tinggal
berlibur selama 4 hari ke kampung ini. Agenda untuk besok pun sudah aku
persiapkan, sebelum pulang aku akan mengunjungi hutan itu sekali lagi,
mengambil beberapa gambar dan menghirup udara sedalam-dalamnya untuk yang
terakhir kali sebelum aku kembali ke kota dan menghirup udara dari AC kamar lagi.
Hari terakhir pun tiba,
setelah sarapan seperti biasa, aku bergegas membawa gawai dan buku catatanku,
rasanya ada jutaaan hal yang bisa aku tulis tentang kampung ini di buku, hanya
untuk kenang-kenangan bagi diriku di rumah nanti, dan aku akan menulisnya di
tempat favoritku nanti, di batu hutan itu. Aku berpamitan dengan nenek sekali
lagi untuk ke hutan, kali ini aku jujur padanya. Seperti biasa, nenek
mengizinkanku untuk pergi dan menitipkan pesan untuk hati-hati, tapi kali ini
ada tambahan darinya. Nenek menawarkan untuk membantuku membereskan pakaiannya
agar nanti ketika ingin pulang, aku tidak repot lagi. Namun aku menolaknya, aku
sama sekali tidak ingin lagi merepotkannya lagi, biarlah nanti aku sendiri yang
membersihkan semua bawaanku, begitulah sekiranya aku menolak tawaran nenek.
.png)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar