SALAH MENDENGAR (Bagian 1)





"SALAH MENDENGAR"

(Bag 1)


Ilham Ramadhan











“Nduk...”

Sapa seorang wanita setengah tua sembari menjinjing belanjaan sayurnya. Aku sedikit menganggukkan kepala dan melemparkan senyum tipis kepadanya. Suasana kampung ini selalu membuatku rindu akan lingkungannya, para warga yang saling bercengkerama dengan tetangganya, aroma udara serta pemandangan menyejukkan hati dan netra, atau hanya sekedar suara ayam yang sedang diberikan makan oleh bapak-bapak bersarung di sore hari. Semuanya sempurna, seperti yang saat ini aku inginkan, menjauh dari hiruk pikuknya kota.

 

Tapi tujuanku bukan di pusat kampung ini, melainkan di ujung perkampungan yang samar-samar ku ingat berdekatan dengan sebuah perbukitan, yaitu rumah nenekku. Entah sudah berapa lama aku tidak berkunjung ke rumahnya, maklum seorang pelajar yang setiap hari selalu disibukkan oleh tugas dan pergaulan zaman sekarang. Walau aku sudah sangat merindukannya, namun gas motorku tidak kutarik dengan kuat, aku masih terpukau dengan suasana perkampungan yang jauh berbeda dengan yang biasanya kulihat di apartemen keluargaku di kota, yaaa kalau tidak sepetak jendela yang tidak menampilkan apapun mungkin hanya secuil tanaman yang ibu taruh di ujung kusen, hanya itu yang bisa aku lihat setiap hari. Ditambah aku termasuk orang yang lebih sering menghabiskan waktu di kamar, keluar hanya saat perlu atau ketika ada ajakan dari teman yang sudah benar-benar akrab. Selebihnya entah kenapa, aku tidak pernah merasa ada sesuatu yang cukup menarik untuk membuatku bertahan lebih lama di luar, bahkan ajakan untuk pergi liburan dari orang tuaku ku tolak kemarin. Rasanya aku terlalu lelah untuk ke tempat tamasya, terlebih ayahku pasti selalu memilih tempat yang sama untuk liburan, jadi biarkan kedua adikku yang ikut tanpa diriku, aku lebih memilih liburan sendiri ke kampung ini.

 

Memang benar kata orang, kalau kita menikmati sebuah momen, pasti waktu akan berlalu secepat itu, buktinya aku sudah sampai di depan rumah ibu dari ibuku, setidaknya dari selipan memori di kepalaku, inilah rumahnya. Rumah tua yang terlihat seperti tidak terawat, maklum saja mungkin nenekku sudah terlalu tua untuk membersihkannya seorang diri, tapi otakku berpikir, mungkin disinilah kedatanganku berfungsi, mungkin aku bisa membantu nenek kesayanganku ini untuk minimal membersihkan dan merawat rumahnya. Tanpa pikir panjang, aku mengetuk pintu rumahnya, tak ada jawaban. Ku ulangi hingga 5 menit lamanya, hingga aku terpikir mungkin lagi di belakang, jadi tidak mendengar. Benar saja, ketika aku ke belakang, nenek sedang duduk di depan tungku tua miliknya, berteman dengan asap tebal dari kompornya.

 

“Neneeekkkk!” Aku mencoba memecah lamunannya. Namun seperti kebanyakan manula pada umumnya, nenekku tak berbeda, ia mengernyitkan dahi dan menyipitkan matanya sebelum akhirnya tersenyum dan menyapaku, “Sofiaaa”

“Udah gede kamu dek”, ucapnya. Benar kan, nenekku seperti manula pada umumnya, selalu menganggap dan berharap aku ini masih kecil, padahal aku sudah mempunyai 2 adik.

“Sofia darimana? Capek ya? Udah makan belum? Makan yuk, nenek barusan selesai masak.”

Belum sempat aku menjawab satu pertanyaan pun darinya, tapi aku sudah diajak masuk ke rumahnya yang kehangatannya tak pernah hilang dari ingatanku ini. Setelah meletakkan semua barang bawaanku, aku dan nenek makan di ruang tengah, kami berdua sangat lahap memakan masakannya, mungkin aku sudah kelaparan dan nenek yang sangat senang melihat cucu pertamanya ini kembali mengunjunginya. Beberapa pertanyaan terlempar ke meja makan, diantaranya tentang sekolahku, teman-temanku, hingga perjalanan panjang yang ku tempuh kesini tadi. Tapi dari semua pertanyaan itu, aku merasa ada satu yang terlewat, yaitu nenekku tidak menanyakan apapun tentang rumah dan orang tuaku. Ah, mungkin nenek sudah sangat paham kalau aku mengunjunginya sendirian, pasti ada masalah dirumah, rasa pengertian dan kehangatan inilah yang membuatku sangat menyayanginya.

 

Malam menyapa, sebelum benar-benar tertidur, aku meminta maaf kepada nenek karena mengunjunginya hanya ketika ada masalah dirumah dan butuh kehangatan dari perlakuannya padaku, nenek hanya tersenyum dan menyuruhku istirahat. Di dalam kamar, aku melihat tepat kearah pandangan mataku saat merebahkan badan, terlihat plafon yang sudah dimakan air setengahnya, sehingga pandanganku dapat menembus langsung ke arah genting coklat yang juga seakan menatapku kaku. Aku langsung memejamkan mata tanpa membuka dan menggulirkan gawai seperti yang biasanya ku lakukan, aku sudah terlalu lelah menempuh perjalanan tadi, dan rasanya sudah cukup dengan semua kenyamanan dan kehangatan dirumah ini. Mungkin seperti inilah seharusnya setiap malam ku jalani, benar-benar mengistirahatkan mata dan pikiran tanpa adanya gangguan dari cahaya handphone.

 

Mataku dielus oleh sinar mentari pagi yang menyelinap masuk lewat ventilasi kamar, kamu pasti tahu bagaimana aroma pagi hari di desa yang asri, ditambah rumah nenekku ada di dekat perbukitan. Belum ada niat seutuhnya di badan ini untuk beranjak dari kasur, namun gawai yang ku taruh dibawah bantal tiba-tiba bergetar. Saat aku ingin mengambilnya, suara nenek terdengar jelas memanggil dari arah dapur. Sontak aku langsung menuju dapur tanpa menghiraukan notif apa yang kiranya masuk di handphoneku, nenek lebih penting, siapa tahu dia perlu bantuan.

 

Terlihat nenek sudah menyiapkan piring dan sendok, sebagai tambahan amunisi untuk berbagai masakan yang sudah siap diatas meja makan, kali ini makanan lebih banyak dari kemarin sore, seperti nenek tahu bahwa aku merasa kurang atas makanan kemarin. Dan uniknya, aku memang masih sangat lapar, entah karena baru bangun dari tidur atau karena memang makanan kemarin kurang banyak untuk porsiku yang baru menempuh perjalanan jauh. Tapi disamping itu, aku justru sangat merasa bersalah karena alih-alih aku membantu menyiapkan sarapan, justru aku malah baru bangun se siang ini untuk ukuran seorang gadis.

“Nek, Sofia minta maaf ya, Sofia baru bangun malah langsung makan. Ga bantuin nenek tadi bikin sarapan.” Aku meminta maaf sepenuh hati kepada nenek.

“Haish, udah gapapa. Kan kamu kesini memang mau liburan. Toh juga tadi nenek liat kayaknya kamu capek banget ya, tidurnya lelap banget.” Ucapnya sembari mengambilkan beberapa sendok nasi untukku.

“Aduh nek, udah gapapa, biar Sofia aja yang ngambil sendiri ya. Sini biar Sofia ambilin nenek juga, nenek mau semana?” aku menolak dengan lembut kebaikannya kali ini yang mungkin sudah ke sejuta kali sejak aku tiba dirumah ini.

 

Sarapan kami yang khidmat tiba-tiba dikejutkan oleh ketukan pintu depan. Terlihat samar siluet seorang berbadan tegap berdiri di depan jendela. Aku agak kaget melihat pemandangan itu, namun nenek langsung menyuruhku untuk membukakan pintunya, segera aku menuju pintu depan untuk membukakannya. Ketika aku membuka pintu, seorang pria berbadan proporsional berpakaian rapi berdiri tegap menghadapku.

 

“Assalamu’alaikum... Nduk” Salamnya.

“Wa’alaikumussalam, pak” Jawabku singkat.

“Oh, hahahaha. Kenalin, saya kepala desa disini. Pasti kamu bingung ya, hehehehe. Sudah lama disini, nduk?” Ucapnya yang kali ini sembari mengenalkan diri. Tampaknya dia sudah melihat ketakutan dan kebingungan yang aku radarkan lewat gestur.

“Oh, pak kades, hehehe. Nggih pak, sudah dari kemarin aku sampai. Ini lagi makan bareng nenek.” Aku menjawab sejujurnya.

Dia hanya melemparkan senyuman yang tak berubah dari awal membuka percakapan.

“Ngomong-ngomong, ada apa ya pak kades ini pagi-pagi sudah kesini?” Tanyaku yang saat ini sudah tersulut api penasaran.

“Oh, engga. Saya tadi baru pulang dari observasi di bukit belakang sini, terus lewat sini dan ngeliat ada motor parkir. Saya cuma mau bilang, parkir motornya jangan sembarangan disini, hehe. Yaaaa, walaupun kampung ini asri dan damai, tapi namanya kejahatan itu bukan karena ada niat kan, justru karena ada kesempatan.” Dia memberikan imbauan sembari terus memberikan senyum ramahnya.

“Owalah, nggih pak. Nanti saya pindahin nggih. Makasi banyak pemberitahuannya.” Pungkasku singkat yang detik ini mulai kurang nyaman dengan senyumannya.

“Yasudah, kalau begitu, saya pamit dulu nggih.” Pamitnya.

“Nggih pak, hati-hati di jalan nggih pak.” Ucapku menemani kepulangannya.

 

Pak kades pun berlalu memunggungiku, namun masih dapat kulihat dengan jelas beberapa kali dia melihat kanan kiri dan ke belakang, yaitu rumah nenekku. Sampai saat ini, ada 2 hal yang berputar di pikiranku. Pertama, harus seperti itukah normalnya seorang kepala desa memberikan senyum kepada para warga lain di kampung? Ah, tapi jelas sekali bahwa itu adalah ketidakbiasaanku dalam bertemu dan berinteraksi dengan orang lain, ditambah aku adalah anak yang hampir tak pernah keluar dari kamar. Dan yang kedua, sebegitunya kades itu memandangi rumah nenekku? Ini sudah sangat jelas dan wajib bagiku untuk membantu nenek membersihkan area rumahnya.

 

“Siapa tadi?” Tanya nenek yang masih duduk di meja makan.

“Pak kades, nek. Katanya tadi mampir dari bukit belakang.” Jawabku tenang.

“Nek, nanti Sofia mau bantu beberes rumah depan ya.” Pintaku kepada nenek.

Nenek hanya tersenyum manis dan mengangguk pelan, mengamini niat yang memang sudah seharusnya ku lakukan. Pandangan dari pak kades tadi agak membuatku risih, karena aku yakin 100% alasan dia melihat rumah nenek sampai sebegitunya memang karena rumah ini sudah terlihat seperti tak terawat. Dan mumpung masih di kampung ini, aku juga ingin menemukan tempat favorit baruku disini, siapa tahu aku dapat menemukan tempat tenang untuk pelarianku dari hiruk pikuk tugas sekolah.

“Oiya, nek. Nanti sekalian agak sorean boleh ga Sofia jalan-jalan muterin kampung? Hehe, Sofia suka banget sama kampung ini.” Ucapku menyampaikan niat.

“Boleh nduk, tapi jangan jauh-jauh ya, dan gaboleh pulang lebih dari maghrib. Kan kamu baru dateng kesini, takutnya ada apa-apa.” Jawabnya.

“Siap, nek.” Jawabku tegas nan lega.

 

Selesai sarapan, aku membersihkan meja makan dan mencuci semua piring, sementara nenek beristirahat di kamarnya. Dapat terlihat dari tempatku mencuci piring, kaki nenek di ujung kasur sedang diolesi minyak olehnya, tampak sangat lelah sekali nenek tersayangku itu, entah gadis macam apa aku ini, membiarkan dirinya masak sendirian tadi pagi, sedang aku malah tidur lelap sekali. Segera ku selesaikan tugasku ini dan kemudian aku memasuki kamarnya, pasti dapat kamu bayangkan aroma kamar seorang nenek yang sudah memiliki 5 cucu seperti nenekku. Benar sekali, aroma minyak urut yang memenuhi seisi kamar, ditemani udara pengap sebab jendela jarang dibuka karena engsel kuncinya sudah rusak. Namun yang aku kagumi, ruangan nenek tidak seburuk dan sebau itu, aroma yang wangi nan menenangkan lebih dominan disini.

 

“Nek, nenek pegel ya? Sini Sofia pijitin.” Aku membuka percakapan sembari menarik sedikit betisnya.

“Nek, maafin Sofia ya. Rasanya setiap Sofia main kesini, Sofia malah selalu bawa masalah dan rasa bosen dari rumah, ga bantuin nenek dan ga ngapa-ngapain.” Ucapku kembali meminta maaf.

“Ndapapa, nduk. Nenek malah seneeeeng banget Sofia masih inget kesini kalo mungkin lagi bosen atau lagi marah sama ayah dan ibu disana. Artinya Sofia masih percaya kalo nenek ini masih bisa ngasih ketenangan dan kasih sayang yang Sofia butuhin, iya kan?” Jawab nenek sambil mencoba meyakinkan keyakinannya.

Tanpa banyak jawaban, aku kembali memeluk nenek yang sekilas kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Di sela hangatnya pelukan kami berdua, tak terasa rombongan air ikut terjun bebas dari mata ini. Di runyam dan hampanya hidupku selama ini, ternyata masih ada sosok yang bisa mencintai dan menyayangiku tanpa syarat, sialnya terkadang aku lupa akan kehadirannya.

 

Pada siang hari, aku melakukan yang sudah ku niatkan sedari tadi, membersihkan area rumah nenek. Oiya, aku lupa sampaikan kalau rumah di rumah nenek terdapat 2 pohon beringin besar yang berdiri tegak setelah gerbang putih setinggi pinggang layaknya penjaga yang tak lelah menjalankan tugasnya, ditemani beberapa pohon cherry, pisang dan jambu di sekitarnya. Aku menyapu dedaunan dan ranting yang gugur dari pohonnya, mengelap jendela, membersihkan sawang yang ada di langit-langit rumah dan diatas pintu depan yang sudah sangat terlihat jelas dari pagar. Lelah rasanya membersihkan semuanya sendirian, tapi akan lebih menyedihkan lagi jika memikirkan nenek melakukan semua ini sendirian.

 

Setelah membersihkan rumah selesai, aku segera berpamitan dengan nenek untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung ini, nenek mengizinkanku pergi dengan pesan yang diberikannya di meja makan tadi. Aku pun berangkat dan kali ini aku memilih berjalan kaki, rasanya mungkin akan lebih seru jika berjalan pelan dan melihat keindahan kampung ini secara khidmat. Benar saja, aku menemukan ketenangan berjalan diantara para warga kampung ini, tidak sedikit aku melihat keluarga yang dengan riangnya bersenda gurau di beranda rumah mereka masing-masing, anak-anak yang ditemani ayahnya belajar mengendarai sepeda, hingga ibu yang menatih balitanya berjalan. Namun ternyata perhatianku tidak berhenti pada pemandangan indah ini, karena aku menemukan sebuah area mirip hutan kecil tepat di samping bukit kampung ini.

 

Tipikal hutan yang dapat kamu bayangkan, hutan yang dapat kamu temui jika kamu sedang berlibur ke kampung nenekmu, hutan yang menenangkan nan dipenuhi pepohonan rindang. Sebuah hutan kecil yang setelah aku memasukinya, aku baru ku tahu ada sungai kecil di dalamnya, mungkin ini adalah jalur mata air dari bukit itu. Tepat di tengah hutan ini, aku menemukan sebuah bongkahan batu besar yang cukup untuk ukuran punggungku, hatiku seketika berkata “SEMPURNA”. Aku memutuskan untuk beristirahat disini, dan ketika aku baru saja menempatkan punggungku di batu ini, aku baru saja tersadar kalau aku lupa membawa handphoneku. Sial, tapi tak apa, setidaknya aku bisa benar-benar terperangkap dalam hutan yang asri. Aku memejamkan mata sembari mendengarkan gemericik air dari sungai disana, angin yang berhembus tenang pun seakan membawa hadiah berupa rasa kantuk untukku.

 

“TOLOOOONNNGGGG!!!!!!! TOLOOOONGGGG!!!!!!”




-BERSAMBUNG-


Komentar

Postingan Populer