LAMPU MERAH (SERPIH)

CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen "LAMPU MERAH" ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara berurutan dari "PROLOG" dan "JEDA" terlebih dahulu. 




TERIMA KASIH :)






 "LAMPU MERAH"

(SERPIH) 



Ilham Ramadhan











Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu untuk melindungi privasi narasumber. 













Malam telah sepenuhnya jatuh saat motor tuaku berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang tampak kusam. Berbeda dengan kosan Dina yang terasa "hidup" dengan tawa mahasiswi dan aroma masakan instan, tempat ini terasa pengap dan terlalu tenang. Hanya ada beberapa motor terparkir acak di teras yang sempit.

 

"Kamar Rendi yang di pojok atas, Kak," bisik Dina, suaranya agak ragu. Mungkin dia juga merasakan aura yang berbeda malam ini.

 

Saat kami menaiki tangga kayu yang berderit, seorang pemuda dengan kaos oblong dekil keluar dari kamar sebelah Rendi. Matanya merah, tatapannya kosong, dan dia tampak terkejut melihat kami.

 

"Cari siapa?" tanyanya ketus.

"Rendi ada? Saya kakaknya," jawabku berusaha setenang mungkin.

"Oh... Rendi. Nggak ada. Tadi pergi sama anak-anak. Masuk aja, pintunya nggak dikunci kok, paling bentar lagi balik."

 

Pemuda itu berlalu tanpa pamit, meninggalkan bau rokok yang menyengat. Aku dan Dina saling pandang. Rendi yang aku kenal sangat disiplin soal keamanan. Dia tidak akan membiarkan pintunya tidak terkunci di tempat seperti ini. Tanganku mendorong pintu kayu itu perlahan.

 

Hal pertama yang menyambutku bukan pemandangan, melainkan bau. Sebagai orang yang menghabiskan sepuluh jam sehari di antara uap parfum laundry dan deterjen segar, hidungku menjadi sensor yang sangat sensitif. Di kamar ini, ada bau yang salah. Bukan bau baju kotor yang manusiawi, tapi bau logam yang tajam bercampur dengan sesuatu yang manis namun menusuk seperti bahan kimia yang terbakar.

 

"Kok kamarnya berantakan banget ya, Kak?" Dina melangkah masuk, menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala pucat.

 

Aku terpaku. Kamar ini adalah serpihan dari hidup yang tidak ku kenali.

Meja Belajar yang Mati: Tidak ada buku yang terbuka. Yang ada hanya tumpukan puntung rokok di dalam kaleng minuman bekas dan beberapa plastik klip bening kecil yang berserakan di bawah meja. Kosong, tapi tampak mencurigakan.

Foto Keluarga yang Terbalik: Di atas lemari, foto ayah, aku, Dina, dan Rendi yang dulu kupasang rapi di bingkai kayu, kini tergeletak telungkup. Seolah siapa pun yang tinggal di sini tidak sanggup menatap mata kami.

Baju-baju yang 'Sakit': Aku mendekati tumpukan jaket di pojok kasur. Aku menyentuhnya. Kainnya terasa lembap dan berminyak. Dan di situlah aku menemukannya, di sela-sela lipatan jaket yang seharusnya bersih, ada sebuah alat rakitan dari botol plastik kecil dengan pipa kaca tipis yang masih menyisakan jelaga hitam.

 

Dina memungut sebuah kertas di lantai. "Kak... ini surat peringatan dari kampus? Rendi belum bayar semesteran dua bulan?"

 

Duniaku rasanya seperti mesin cuci yang mendadak rusak di tengah putaran paling kencang. Glek. Jantungku berdentum. Uang yang kukirim setiap bulan... uang yang kucari sampai punggungku encok dan tanganku keriput karena air sabun... ke mana perginya?

 

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari tangga. Langkah yang tidak stabil, terseret-seret, disusul suara tawa serak yang sangat aku kenali, tapi terasa sangat asing.

 

"Hahahaha, tenang aja, besok gue kasih lagi barangnya. Kakak gue baru transfer kok kemarin..."

 

 

~

 

 

Pintu itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan bunyi gedebuk yang tumpul. Rendi masuk sambil tertawa kecil, kepalanya miring ke arah ponsel yang dijepit di antara telinga dan bahunya. Ia belum sadar ada dua pasang mata yang menatapnya dari dalam remang cahaya neon yang berkedip.

 

"Iya, besok gue kasih. Aman, Kakak gue baru transfer kemarin"

 

Kalimatnya terputus. Ponsel di bahunya merosot, jatuh ke atas tumpukan baju kotor di lantai tanpa ia pedulikan. Rendi mematung di ambang pintu. Bau itu kembali. Begitu Rendi melangkah masuk, aroma logam dan kimia yang tadi mengambang di ruangan kini meledak, menempel erat di jaket yang ia kenakan. Indra penciumanku memberontak. Ini bukan bau keringat mahasiswa yang habis beraktivitas. Ini bau kehancuran.

 

"Kak... Citra? Dina?" suaranya pecah, serak seperti amplas yang digosokkan ke kayu.

 

Aku tidak bergerak. Tanganku masih menggenggam plastik klip kecil yang tadi kutemukan di bawah meja, benda yang beratnya tak seberapa, tapi rasanya lebih membebani daripada satu kuintal cucian basah. Aku mengangkat tangan itu, memamerkan benda bening itu di depan wajahnya.

 

"Rendi... ini apa?" suaraku datar, tapi aku bisa merasakan getaran hebat di ujung lidahku.

 

Rendi mundur satu langkah. Matanya yang merah bukan karena tangis merayap gelisah, mencari celah untuk lari, tapi punggungnya tertahan kusen pintu. Dina di belakangku mulai terisak, suara tangisnya pelan namun menusuk, seperti serpihan kaca yang baru saja pecah di dalam ruangan ini.

 

"Itu... itu bukan punya aku, Kak. Temen aku tadi titip"

 

"Bohong!" suaraku meninggi satu oktaf, memotong kalimat klasiknya. Aku melemparkan surat peringatan dari kampus yang tadi dipegang Dina ke arahnya. Kertas itu melayang lemas sebelum jatuh di kakinya. "Uang semesteran yang Kakak kirim setiap bulan, Ren... uang yang Kakak cari sambil nahan encok tiap malam di depan mesin panas... ke mana semuanya?"

 

Rendi menatap kertas di bawah kakinya, lalu menatapku. Tapi itu bukan tatapan Rendi yang kukenal. Matanya liar, pupilnya melebar, dan ada ketakutan yang berubah menjadi kepanikan akut. Ia tidak menjawab. Napasnya memburu, tangannya yang gemetar mencoba meraih saku jaketnya.

 

"Ren, jawab Kakak!"

 

Bukannya menjawab, Rendi justru melakukan hal yang tak kuprediksi. Ia menyentak bahuku dengan kasar, mendorongku hingga aku terhuyung menabrak meja belajar.

 

"Rendi! Kamu mau ke mana?!" teriak Dina histeris.

 

Tanpa sepatah kata pun, Rendi berbalik dan lari tunggang langgang menuruni tangga kayu. Suara langkah kakinya yang serampangan terdengar berdebam, menjauh, disusul suara mesin motor yang dipacu paksa di bawah sana. Hening.

 

Kamar itu mendadak terasa sepuluh kali lebih luas dan seratus kali lebih dingin. Aku masih terpaku memegangi pinggangku yang menghantam sudut meja. Di pojok ruangan, Dina ambruk. Ia duduk bersimpuh di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah, suara isakan yang parau dan sesegukan, seolah seluruh dunia yang ia banggakan baru saja runtuh di depan matanya.

 

"Kak... Rendi, Kak... kenapa Rendi jadi begitu?" rintih Dina di sela tangisnya.

 

Aku mendekatinya dengan kaki yang terasa seperti semen. Berat sekali. Kuraih tubuh kecil Dina, kupeluk dia erat-erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan dan bahunya yang terguncang hebat.

 

"Ssst... sudah, Din. Ada Kakak di sini," bisikku, meski sebenarnya aku sendiri butuh seseorang untuk mengatakan kalimat itu padaku.

 

Aku mencium rambut Dina, mencoba mencari sisa-sisa aroma sabun mandi yang tadi siang terasa begitu menenangkan. Tapi di kamar ini, bau kimia itu terlalu kuat. Ia seolah menertawakan usaha keras kuku selama ini. Aku menatap plastik klip di lantai. Serpihan hidup kami benar-benar ada di sana.

 

"Kita cari Rendi sekarang, Kak?" tanya Dina dengan wajah sembab saat ia mulai bisa mengatur napas, meski matanya masih penuh ketakutan.

 

Aku menyeka air matanya dengan ibu jariku. Aku harus kuat. Karena kalau aku ikut hancur sekarang, tidak akan ada yang tersisa untuknya.

 

"Kita nggak bisa nyari dia dalam kondisi begini, Din. Dia lagi nggak sadar. Kita tunggu sebentar, kita kumpulin tenaga," kataku, mencoba logis padahal dadaku rasanya mau meledak. "Setelah ini, kita cari dia ke tempat teman-temannya. Kakak nggak akan biarin dia hilang lebih jauh lagi."

 

Aku berdiri, meraih jaket flanelku yang tergeletak di kasur. Kami tampak seperti dua orang asing yang tersesat di sebuah tempat yang seharusnya bernama rumah.

"Ayo," ajakku sambil menggenggam tangan Dina kuat-kuat. "Kita jemput dia. Mau bagaimanapun kotornya dia sekarang, dia masih adik kita. Kita harus bawa dia pulang sebelum lampunya benar-benar jadi merah selamanya."

 

Kami menuruni tangga kayu itu dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat kami naik tadi. Motor tuaku masih terparkir di sana, dingin dan basah oleh embun malam. Dina naik ke jok belakang tanpa suara, tangannya melingkar erat di pinggangku, kepalanya bersandar di bahuku. Aku bisa merasakan sisa isakannya yang masih menggetarkan tubuhnya.

 

"Kita ke mana, Kak?" tanyanya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan suara mesin motor yang kunyalakan.

"Kita cari di tempat dia biasa nongkrong. Kamu ingat alamat kafe atau warung yang sering dia sebut di chat?"

 

Dina menyebutkan sebuah nama daerah di pinggiran kota, area yang dipenuhi ruko-ruko tua dan gang sempit yang remang. Aku memacu motor menembus angin malam yang tajam. Jalanan kota sebelah ini terasa berbeda. Jika di kotaku lampu jalanan terasa hangat, di sini semuanya tampak pucat dan mengancam.

 

Setiap kali berhenti di lampu merah, jantungku berdegup kencang. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, berharap, sekaligus takut melihat jaket Rendi di antara kerumunan motor. Di persimpangan jalan, lampu merah menyala lama, memaksaku untuk diam dan berpikir. Di bawah cahaya merah yang menyiram aspal basah, aku melihat bayanganku dan Dina. Kami tampak kecil, rapuh, dan tersesat.

 

"Kak, itu motor Rendi bukan?" Dina tiba-tiba menunjuk ke arah sebuah gang di samping gedung biliar yang lampunya berkedip-kedip mati segan hidup tak mau.

 

Aku menajamkan mata. Di sana, di antara tumpukan sampah dan bayangan gelap gedung, motor bebek dengan stiker kampus yang terkelupas itu terparkir miring. Itu motor Rendi. Aku memarkirkan motorku agak jauh, tidak ingin suara mesinnya mengejutkan siapa pun yang ada di dalam. Kami berjalan mendekat, menyusuri tembok yang penuh coretan pilox. Dan di situlah indra penciumanku kembali memberikan sinyal. Bau itu lagi. Aroma kimia yang terbakar, bercampur dengan bau pesing selokan dan asap rokok murahan.

 

 

~

 

 

Di ujung gang, di balik beton yang runtuh, aku melihat beberapa siluet orang. Suara tawa yang dipaksakan terdengar serak.

 

"Ayo lah, Ren. Masa segitu aja udah teler. Kakak lu kan kaya, minta lagi lah!" suara seorang pria yang berat dan kasar terdengar memprovokasi.

"Gua.... gua nggak bisa. Tadi dia datang..." itu suara Rendi. Lemah, gemetar, dan penuh ketakutan.

 

Aku melangkah maju, keluar dari bayangan gelap. Dina mencengkeram lenganku kuat-kuat, kukunya hampir menembus kulit jaket flanelku. Aku tidak berhenti.

 

"Wah, siapa nih? Kakak yang kaya itu ya?" salah satu pria itu berdiri, badannya bau apek dan alkohol murahan. Ia membuang ludah ke samping. "Cakep juga. Mau ikutan?"

 

Aku mengabaikan mereka. Mataku terkunci pada sosok yang duduk di atas beton pecah. Rendi. Dia sedang mencoba memasukkan sesuatu ke dalam sakunya dengan tangan yang gemetar hebat, sampai-sampai ia hampir terjatuh dari duduknya.

 

"Rendi. Berdiri. Kita pulang sekarang," suaraku tidak lagi tinggi, tapi dingin dan penuh penekanan.

 

Rendi mendongak. Matanya yang merah tidak fokus, ia mengerjap berkali-kali seolah sedang berusaha mengenali siapa wanita yang berdiri di depannya. Saat sadar itu aku, bukannya mendekat, dia justru menyusut ke belakang, mencoba menempelkan punggungnya ke tembok yang berlumut.

 

"Ngapain ke sini, Kak?" suaranya serak, penuh nada terganggu. "Pergi aja. Jangan di sini."

 

"Rendi, ayo pulang!" Dina berteriak di sampingku, suaranya pecah karena tangis.

 

"Pulang ke mana?!" Rendi tiba-tiba membentak, membuat Dina tersentak mundur. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya goyah.

Rendi menatapku dengan tatapan yang sangat asing. Tidak ada lagi sapaan hangat. Hanya ada rasa frustrasi yang meluap.

 

"Pergi, Kak. Pergi!" dia mendorong udara di depannya dengan kasar. "Uang yang dikirim tadi siang sudah habis. Sudah nggak ada. Jadi nggak usah sok jadi pahlawan di sini. Balik aja sana ke tempat kerja Kakak!"

 

Kalimat itu jauh lebih tajam daripada tamparan mana pun. Uang yang kukumpulkan dengan memeras keringat di tengah uap panas ruko, ternyata hanya mampir beberapa jam di tangannya sebelum berpindah ke tangan orang-orang ini. Duniaku benar-benar berhenti berputar. Di gang gelap ini, aku sadar: noda di baju Rendi bukan lagi noda yang bisa luntur. Ini sudah meresap, menghancurkan seratnya.

 

"Rendi, pulang!" aku mencoba meraih lengannya, tapi dia menyentak tanganku begitu keras hingga aku hampir jatuh ke arah selokan.

 

"Pulang ke mana?!" Rendi membentak, matanya merah menyala, menatapku dengan kebencian yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Ke rumah kosong itu? Buat apa? Biar aku bisa liat Kakak sibuk sama cucian orang lagi? Biar aku bisa dengerin Kakak pamer soal berapa banyak uang yang Kakak dapet hari ini?"

 

"Kakak kerja buat kamu, Ren! Buat kuliah kamu!" dadaku sesak, suaraku mulai parau karena menahan tangis yang sudah di tenggorokan.

 

"Tapi Kakak nggak pernah tanya aku sanggup apa nggak!" Rendi maju selangkah, matanya yang merah menatapku dengan kebencian yang murni. "Kakak cuma peduli aku harus lulus, harus sukses, biar Kakak nggak malu punya adik mahasiswa. Kakak nggak pernah tahu kalau aku pengen muntah tiap liat buku karena tekanan dari Kakak!"

 

Dina yang sedari tadi terisak di belakangku tiba-tiba menarik ujung jaketku. Tangannya dingin, gemetar hebat.

 

"Sudah, Kak... ayo pulang," bisik Dina lirih. “Ayo pulang, Kak... aku takut di sini."

 

Aku menatap Rendi sekali lagi. Dia memalingkan wajah, kembali duduk di beton pecah itu seolah aku dan Dina tidak lagi ada di sana. Teman-temannya mulai tertawa mengejek di kegelapan. Dengan hati yang remuk, aku terpaksa berbalik. Mengikuti tarikan tangan Dina yang ketakutan.

 

 

~

 

 

Malam itu, di kosan Dina yang sempit, aku tidak bisa memejamkan mata. Dina sudah tertidur karena kelelahan menangis, tapi aku? Aku duduk di lantai, bersandar pada dipan kasur, menatap kosong ke arah langit-langit. Ingatanku melompat ke tiga tahun lalu. Ke hari di mana Ayah masih duduk di kursi kayu depan rumah, menyesap kopi sambil mengelus rambutku.

“Cit, hidup itu jangan cuma soal ngebut. Kadang kamu harus ngerem, biar tahu siapa yang ketinggalan di belakang,” suara Ayah terngiang begitu nyata di telingaku.

 

Air mataku jatuh tanpa rencana. "Maafin Citra, Yah..." bisikku ke arah gelap. "Citra sok kuat. Citra pikir dengan nyari uang sebanyak-banyaknya, Citra sudah jaga adik-adik. Ternyata Citra malah ninggalin mereka di belakang."

 

Aku merasa gagal total. Aku terlalu fokus menjadi "lampu hijau" yang terus melaju tanpa henti, memburu rupiah demi rupiah, sampai aku lupa bahwa adik-adikku butuh "lampu merah" untuk berhenti dan bernapas. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bau detergen yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan, mengingatkanku pada setiap jam yang kuhabiskan di depan mesin cuci, sementara adiku perlahan hancur di kota sebelah.

 

"Maafin Kakak, Ren... maafin Kakak..."

 

Malam itu, di kamar kosan yang asing, aku baru benar-benar sadar bahwa serpihan yang paling tajam bukanlah narkoba itu, melainkan egoku sendiri yang merasa sudah melakukan segalanya, padahal tidak memberikan apa-apa selain uang. Kamar Dina terlalu rapi untuk malam itu. Seprai tertata, kipas berputar pelan, gelas kosong di meja. Semua tampak utuh, namun tidak denganku. Aku duduk di tepi kasur, punggung kaku, menyadari satu kesalahan kecil yang rasanya besar: aku sudah memperlihatkan kakak yang rapuh.

 

Bukan karena Dina tak boleh tahu. Tapi karena aku terbiasa berdiri, dan malam ini aku duduk terlalu lama. Tanpa pamit, aku keluar dari kamar dina, pintu menutup, bunyinya terdengar terlalu berlebihan. Di luar, malam basah dan lengang. Aku berjalan tanpa tujuan, karena diam terasa seperti mengkhianati sesuatu.

 

Kesalahanku ke Dina jelas: aku membiarkannya melihat aku retak.
Kesalahanku ke Rendi lebih berat: aku tahu adikku sedang rusak, dan aku memilih diam.

 

Aku sampai di halte kecil di ujung jalan. Bangku besinya dingin. Catnya mengelupas. Tidak ada jadwal, tidak ada bus, hanya tempat singgah yang lupa fungsi. Aku duduk dan menunduk, menunggu apa pun yang tidak kunjung datang. Langkah kaki berhenti di depanku. Aku mendongak. Rendi.

 

“Kok di sini?” katanya.

 

“Capek jalan,” jawabku. Suaraku terdengar asing.

 

Ia mendengus kecil. “Biasanya Kakak nggak pernah capek.”

 

“Biasanya aku bohong.”

 

Kami duduk terpisah satu bangku. Jarak yang cukup aman untuk bicara tanpa harus menyentuh. Lampu jalan berkedip, lalu stabil.

 

“Aku kira Kakak bakal marah,” katanya.

 

“Aku kira aku masih punya hak itu,” kataku. “Ternyata nggak.”

 

Ia menatap aspal. “Aku nggak tahu cara berhenti.”

 

Aku menutup mata sebentar. “Aku nggak tahu cara jadi kakak yang cukup.”

 

Kalimat itu jatuh tanpa rencana. Tidak ingin diselamatkan.

 

“Aku takut bangun dan tahu semuanya keburu hancur,” katanya.

 

Aku membuka mata. “Aku takut bangun dan tahu aku telat.”

 

Tidak ada janji. Tidak ada solusi. Hanya dua orang yang akhirnya duduk, setelah terlalu lama berlari.

 

Rendi berdiri lebih dulu. “Aku balik dulu.”

 

“Iya.”

 

Ia pergi. Langkahnya pelan, tapi tidak ragu. Aku masih duduk di bangku besi itu. Dingin. Malam belum selesai. Untuk pertama kalinya, aku tahu satu hal dengan jelas bahwa diam bukan lagi pilihan, tapi aku belum tahu ke mana harus melangkah.

 

 

~

 

 

Aku masih duduk di bangku besi itu saat ingatanku bocor seketika.

Rendi kecil pernah tertidur di punggungku, kepalanya berat, air liurnya membasahi kaosku. Dina waktu itu berjalan sambil menarik ujung bajuku, takut ketinggalan. Kami bertiga pulang dari warung, tertawa karena hujan datang tiba-tiba. Aku ingat sekali saat rasa kesal saat itu, karena jalan mereka yang lambat lah yang jadi alasan kami bertiga terjebak hujan, tapi aku tetap menunggu mereka. Dulu aku selalu menunggu.

 

Aku ingat malam-malam saat listrik padam. Kami bertiga duduk melingkar, aku membacakan cerita dari buku tipis yang sudah sobek di bagian belakang. Rendi sok berani, Dina bersembunyi di balik lenganku. Aku merasa penting. Dibutuhkan. Sekarang aku hanya merasa… sibuk.

 

Aku menunduk. Tanganku kosong. Tidak ada apa-apa di sini selain ingatan yang telat.

 

“Aku kira dengan kerja keras, semuanya bakal aman,” gumamku ke udara.
“Aku kira selama aku bayar sekolah, kirim uang, nutup kebutuhan… aku sudah jadi kakak.”

 

Padahal tanpa sadar, aku menyuruh mereka mengejarku.
Padahal tanpa sadar, aku berjalan terlalu cepat dan tidak pernah menoleh.

Aku tidak pernah benar-benar bertanya apakah Rendi masih sanggup.
Aku tidak pernah sadar Dina belajar menjadi dewasa lebih cepat karena aku jarang ada.

 

Aku sibuk jadi penopang, sampai lupa jadi tempat pulang. Dada terasa sesak. Bukan karena tangis, tapi karena sadar.

 

“Aku ninggalin kalian,” bisikku pelan.

 

Sejauh ini aku berjuang. Aku pikir aku sedang membangun masa depan untuk kedua adikku. Setiap jam lembur, setiap uang yang kukirim, kupikir itu adalah bukti cinta. Ternyata aku keliru. Tanpa sadar, di setiap langkah cepatku, aku meninggalkan serpih kecil, bukan di jalan, tapi di hati mereka. Serpih yang tidak berdarah, tidak bersuara, tapi pelan-pelan membuat mereka belajar menahan sendiri.

 

Aku terlalu sibuk menyiapkan esok, sampai tak sempat duduk di hari ini bersama mereka. Aku menghela napas panjang. Lampu di kejauhan masih merah. Dan kali ini,
aku memilih berhenti, bukan berhenti peduli dan lepas tanggung jawab, tapi berhenti untuk ngebut sendirian. Aku berdiri. Kaki terasa berat, tapi kali ini aku tahu ke mana harus melangkah, meski belum tahu caranya.

 

Aku tidak bisa mengulang waktu. Aku tidak bisa membersihkan semua serpihan yang sudah pecah. Tapi aku bisa berhenti lari. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak ingin jadi kakak yang kuat. Aku ingin jadi kakak yang hadir.

 




-BERSAMBUNG-


Komentar

Postingan Populer