LAMPU MERAH (LENGANG)
CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen "LAMPU MERAH" ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara berurutan dari "PROLOG", "JEDA" dan "SERPIH" terlebih dahulu.
TERIMA KASIH :)
"LAMPU MERAH"
(LENGANG)
Ilham Ramadhan
Surya sekali lagi kembali mencoba menampakkan
kehadirannya, langit abu-abu, tidak hujan, tidak cerah. Seperti kota mati yang
belum memutuskan mau jadi apa hari ini. Aku kembali ke kos Dina sebelum
matahari benar-benar naik. Dina masih tertidur, wajahnya sembab tapi tenang.
Ada sisa anak kecil di situ. Sisa yang semalam hampir hilang karena ketakutan. Aku
duduk di lantai, memandangi ponselku, ada notifikasi transfer masuk dari
rekening laundry, gajian tambahan lembur kemarin. Angkanya cukup untuk membayar
cicilan mesin baru, atau cukup untuk menambal semester Rendi, atau cukup untuk
bertahan hidup sebulan lagi.
Biasanya aku akan langsung menghitung, membagi, merencanakan,
menyusun semuanya seperti cucian yang harus dipilah. Tapi pagi ini aku tidak
membuka kalkulator, aku membuka kontak Rendi. Jariku berhenti di atas namanya,
bukan untuk memarahi, bukan untuk menagih, bukan untuk menyuruhnya pulang.
Aku hanya mengetik:
“Kita ngobrol sore ini. Tanpa marah. Tanpa uang. Cuma ngobrol.”
Kukirim. Tidak ada
centang biru, tidak ada balasan. Lengang. Tapi kali ini lengang yang kupilih.
Dina terbangun beberapa menit kemudian.
“Kak… kamu nggak tidur?” tanyanya pelan.
“Tidur sedikit,” jawabku. Bohong kecil yang tidak
menyakitkan siapa-siapa.
Dina duduk, memeluk lututnya. “Kak… semalam aku
takut kamu pergi.”
Aku menoleh. “Pergi
ke mana?”
“Pergi jadi kuat lagi. Jadi kayak biasa.”
Kalimat itu menusuk
lebih dalam dari omelan Rendi semalam, Aku tersenyum kecil, bukan senyum yang
tegar, senyum yang jujur.
“Kakak capek jadi kuat sendirian, Din.”
Dina bangkit, lalu duduk lebih dekat. Bahunya
menyentuh bahuku.
“Kita kuatnya gantian aja ya, Kak.”
Aku mengangguk sembari memegang tangan halusnya
yang kini berada di celana kotor dingin milikku yang ku pakai semalaman di
halte. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus berdiri paling depan.
Siang bergontai, Rendi belum membalas, aku tidak mengejarnya,
tidak ke gang itu, tidak ke teman-temannya, aku memilih datang ke kampusnya. Bukan
untuk membayar, bukan untuk memarahi dosen, bukan untuk mempermalukan siapa
pun. Aku hanya duduk di bangku taman kampus yang sepi, menunggu seperti dulu
aku menunggu mereka pulang sekolah. Dulu aku selalu menunggu, dan hari ini aku
mengulang itu.
Sore menjelang, langkah yang kukenal muncul dari
kejauhan, Rendi berjalan lambat, tidak sempoyongan, tidak marah, hanya… kosong.
Rendi berdiri beberapa meter dariku. Angin sore membuat ujung rambutnya
bergerak tipis, ia tidak lagi membentak, tidak lagi menantang, bahunya turun,
tidak setegang semalam.
“Kakak serius nggak marah?” tanyanya pelan.
Aku menatap wajahnya lama. Ada sisa bengkak di
bawah matanya. Ada lelah yang tidak sempat ia sembunyikan.
Aku masih marah, jawabku dalam hati. Tapi itu bukan yang paling besar.
“Aku masih marah,” kataku akhirnya. “Tapi aku lebih
takut kehilangan kamu.”
Rendi menggeser berat
badannya dari satu kaki ke kaki lain. Gerakan kecil yang sangat kukenal. Sejak
kecil, setiap kali ia sadar melakukan kesalahan, ia selalu berdiri seperti
itu—tidak berani mendekat, tapi juga tidak lari. Dan tiba-tiba, seperti kilat
yang sunyi, ingatan itu datang.
Rendi kecil berdiri di depan pintu dapur dengan
wajah penuh tepung. Ia baru saja menjatuhkan toples gula karena ingin
membuatkan aku “teh manis kejutan”. Lantainya lengket, Dina menangis karena
semut mulai berdatangan.
“Aku cuma mau bikin
Kakak senyum,” katanya waktu itu, suaranya gemetar.
Ia tidak pernah
pandai berbohong. Ia selalu ketahuan dari matanya. Dan sekarang, di hadapanku,
mata itu masih ada, merah dan lelah.
“Maaf…” gumamnya pelan. Hampir tak terdengar.
Kata itu kecil, rapuh, tapi nyata. Dadaku
menghangat dan perih bersamaan.
“Masih Rendi yang itu”, gumamku dalam
hati. “Masih anak yang kalau salah, akhirnya menunduk. Masih adik yang
tidak sungkan bilang maaf, meski telat.”
Ia mengusap
tengkuknya canggung. “Aku nggak tahu kenapa jadi begini.”
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan.
Senyum lega yang hati-hati.
“Karena kamu manusia,” jawabku.
Ia terkekeh kecil, hambar. Tapi itu tawa pertamanya
hari ini.
Sekelebat lagi memori datang, malam disaat listrik
padam. Rendi duduk paling depan, pura-pura berani, tapi saat petir menyambar,
ia refleks menarik ujung bajuku.
“Kak, jangan jauh-jauh,” bisiknya waktu itu.
Sekarang ia berdiri lebih jauh dari itu. Tapi untuk
pertama kalinya, jarak itu tidak terasa mustahil.
“Aku nggak janji langsung berubah,” katanya pelan.
“Aku nggak janji langsung percaya penuh,” jawabku
jujur.
Ia mengangguk, tidak tersinggung, tidak melawan. Aku
sadar sesuatu dengan pelan: semalam dia marah bukan karena membenciku. Dia
marah karena malu. Karena takut gagal. Karena merasa sendirian terlalu lama.
Dan mungkin… aku juga begitu.
“Ren,” panggilku.
Ia menoleh.
“Kita pelan-pelan aja. Tapi jangan lari lagi, ya.”
Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil.
Anggukan yang sama seperti waktu ia berjanji tidak akan memanjat pohon mangga
tetangga lagi, meski besoknya tetap memanjat. Aku hampir tertawa mengingat itu.
Masih Rendi yang sama, batinku. Bandel, keras kepala, tapi tidak sepenuhnya
hilang.
Belum sempat habis waktu untuk bergumam, langkah
kecil berlari mendekat.
“Kak!” suara Dina,
sedikit terengah. Ia membawa kantong plastik putih yang sudah agak berminyak di
bagian bawah.
“Aku mampir dulu,” katanya, duduk di samping Rendi
tanpa banyak tanya. “Takut keburu tutup.”
Rendi melirik sekilas. “Apaan?”
Dina menyodorkan plastik itu pelan. “Martabak
telur. Kesukaan kamu, dari dulu.”
Rendi membeku, tangannya tidak langsung menerima.
Ia hanya menatap plastik itu lama, seolah benda itu lebih berbahaya dari apa
pun yang pernah ia sentuh belakangan ini.
“Aku nggak lapar,” katanya kaku.
Dina membuka tetap membuka plastiknya, aroma bawang
daun dan telur hangat menyebar tipis di udara sore.
“Yaudah, aku yang makan,” katanya pura-pura santai.
“Tapi dulu kamu selalu marah kalau aku ambil duluan.”
Rendi menelan ludah,
ia akhirnya mengambil satu potong, tangannya masih gemetar sedikit. Gigitan
pertama kecil, ragu, lalu diam, matanya berkaca, bukan karena dramatis, tapi karena
kenangan datang bagai badai di siang bolong.
“Kok enak banget rasanya…” gumamnya.
“Iyalah! Siapa dulu yang nyari martabaknya,” jawab
Dina cepat.
~
Aku memandangi adikku, bau kimia itu masih samar
menempel di jaketnya, tapi sekarang bercampur dengan aroma martabak hangat. Dan
di situlah aku sadar sesuatu.
“Ren,” panggilku pelan.
Ia tidak menatapku.
Tapi tidak juga menghindar.
“Kamu tahu nggak kenapa Kakak bisa tahan kerja
laundry lama banget?”
Ia mendengus kecil.
“Karena Kakak keras kepala.”
“Bukan,” aku tersenyum tipis. “Karena Kakak belajar
satu hal.”
Ia akhirnya melirik.
“Semua baju yang datang ke tempat Kakak itu kotor.
Ada yang kena lumpur, kena darah ayam, kena minyak, bahkan bau apek yang nggak
enak banget. Tapi nggak ada satu pun yang Kakak buang cuma karena kotor.”
Rendi terdiam.
“Kadang nodanya nggak
langsung hilang sekali cuci. Kadang harus direndam dulu. Kadang harus diputar
dua kali. Kadang seratnya rusak sedikit. Tapi bukan berarti bajunya nggak layak
dipakai lagi.”
Dina ikut diam. Mendengarkan. Rendi menatap
tangannya sendiri. Seolah membayangkan noda di sana.
“Aku bukan baju, Kak,” katanya pelan. “Aku udah
rusak.”
Aku menggeleng pelan.
“Rusak itu kalau kamu
berhenti dicuci.”
Ia mengerutkan kening.
“Kotor itu bukan identitas, Ren. Itu kondisi.
Kondisi bisa berubah.”
Ia tertawa kecil,
hambar. “Tapi aku belum bersih.”
“Siapa yang minta kamu langsung bersih?” tanyaku
lembut. “Di laundry Kakak aja, prosesnya lama. Airnya kotor dulu sebelum jadi
jernih.”
Ia tidak menjawab. Matanya basah sekarang, tapi
tidak jatuh.
“Aku masih bau,” katanya lirih. “Aku sendiri nggak
tahan sama diri aku.”
Dina tiba-tiba menyenggol bahunya pelan. “Yaudah,
mandi.”
Rendi terkekeh kecil, refleks, spontan, tawa yang
jujur. Dan di tawa kecil itu, aku melihatnya, masih Rendi yang lama, masih adik
yang kalau tersinggung, tetap bisa tertawa kalau Dina bercanda. Ia menghela
napas panjang.
“Aku takut Kakak cuma sabar karena kasihan.”
Aku menatap lurus ke
arahnya.
“Kakak sabar karena
kamu adik Kakak. Bukan proyek. Bukan beban. Bukan kegagalan.”
Rendi menggenggam plastik martabak itu lebih erat,
seperti sedang memegang sesuatu yang hampir hilang.
“Aku nggak janji bisa
langsung berhenti,” katanya akhirnya.
“Aku juga nggak janji
nggak capek,” jawabku.
Ia menatapku lama.
“Kenapa kalian masih
mau duduk di sini?” tanyanya lirih.
Aku tersenyum kecil.
“Karena dari awal,
kita nggak pernah buang kamu.”
Angin sore bergerak pelan. Lampu parkiran mulai
menyala satu per satu.
Dan untuk pertama
kalinya sejak semuanya retak, kami tidak sedang mengejar siapa pun.
Kami hanya duduk, tidak
bersih sepenuhnya, tidak utuh sepenuhnya, tapi tidak lagi sendirian.
~
Martabak tinggal satu potong terakhir, sore itu
mulai turun pelan, parkiran kampus semakin sepi, aku menatap dua adikku lama.
“Kita bertiga aja sekarang,” kataku pelan.
Dina berhenti
mengunyah. Rendi juga. Kalimat itu sederhana, tapi berat.
“Ibu…” Dina menggantung.
Aku menggeleng pelan,
bukan pahit, hanya realistis.
“Kita bertiga.”
Angin sore membawa suara kendaraan jauh di jalan
utama, dunia tetap berjalan, tapi di bangku taman kampus itu, kami seperti baru
sadar satu hal yang selama ini kami hindari.
Rendi menunduk. “Harusnya aku yang jagain Dina,
bukan malah.....”
“Stop,” potongku lembut. “Ini bukan soal siapa
paling gagal.”
Aku menarik napas panjang.
“Kakak juga salah.”
Mereka berdua langsung menatapku.
“Ayah dulu bilang apa?” tanyaku.
Dina menjawab pelan, hampir refleks, “Kalau hidup
jangan ngebut terus.”
Aku mengangguk.
“Kakak ngebut.
Ninggalin kalian di belakang. Itu salah Kakak.”
Rendi menggeleng
cepat. “Bukan.”
“Tapi,” lanjutku
sebelum ia menolak lagi, “kita nggak bisa terus berdiri di kesalahan.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Kita sama-sama
bantu, ya.”
Rendi mengerutkan
kening. “Bantu apa?”
“Kakak bantu kamu
keluar dari jurang ini. Pelan-pelan. Nggak pakai teriak. Nggak pakai
pura-pura.”
Aku menoleh ke Dina.
“Kalian juga bantu
Kakak.”
“Bantu apa?” Dina
ikut bertanya.
“Bantu Kakak bayar
kesalahan ke Ayah.”
Mereka terdiam, aku menelan ludah, tenggorokan
terasa seperti sedang kemarau.
“Ayah percaya sama Kakak waktu dia nggak ada. Tapi
Kakak malah sibuk jadi mesin uang. Kalau kita mau bangun lagi, kita bangun
bareng. Nggak ada lagi yang jalan sendirian.”
Rendi mengusap
wajahnya kasar. Matanya memerah lagi.
“Aku nggak tahu bisa
jadi apa sekarang,” gumamnya.
“Jadi adik dulu aja,”
jawabku pelan. “Itu cukup.”
Dina tiba-tiba menyelipkan tangannya ke tangan
Rendi. Gerakan kecil. Tapi tidak canggung.
“Kalau kamu jatuh
lagi, aku cerewetin,” katanya.
“Kita pulang.” Kataku memecah keheningan sejenak.
Rendi mengerutkan
kening. “Ke kos Dina?”
Aku menggeleng.
“Ke rumah.”
Dina langsung
menatapku. “Rumah yang itu?”
“Iya.”
Rendi terlihat ragu.
Bahunya sedikit kaku lagi.
“Buat apa, Kak?”
tanyanya pelan.
Aku menatap mereka
bergantian.
“Karena kita bertiga
sekarang. Dan kita nggak bisa sembuh di tempat yang cuma jadi tempat numpang
tidur.”
Aku melanjutkan, sedikit sengaja dibuat ringan.
“Lagipula… di sana
banyak juga kok tempat main.”
Dina berkedip. “Main?”
Aku mengangguk kecil.
“Dan Kakak mau
nunjukkin kalian sama seseorang.”
Rendi dan Dina saling
pandang.
“Seseorang?” ulang
Rendi.
Degup kecil terasa di
udara.
“Siapa?” Dina
bertanya hati-hati.
Aku tersenyum tipis.
Tidak menjawab.
“Pokoknya kalian
bakal suka.”
Rendi langsung defensif kecil. “Kak, jangan bilang
Kakak udah—”
“Udah apa?” aku
menahan tawa.
Ia menggaruk
tengkuknya. “Nggak tahu… pokoknya jangan aneh-aneh.”
Dina justru makin
tegang. “Kak… kamu nggak sakit kan? Atau… ada masalah lagi?”
Aku menggeleng pelan.
“Nggak. Justru ini
bukan masalah.”
Mereka tetap terlihat
waspada.
Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa selama ini
kami bertiga sudah berfikir bahwa kami berada pada jalur dan kecepatan yang
sesuai. Hingga pada sore ini, kebenaran menampar diriku terutama, untuk
mengingatkan bahwa telah ada lampu merah yang sudah dilanggar terlalu jauh.
Kami belum benar-benar berdiri dari bangku taman
itu, Rendi membuka ponselnya.
“Rabu aku kosong sampai jam dua,” katanya pelan.
“Kamis ada kelas pagi doang.”
Dina ikut melihat
jadwal di layar ponselnya sendiri.
“Aku bisa kapan aja. Semua
presentasi udah lewat.” Aku mengangguk.
“Oke. Kita atur. Pelan-pelan. Nggak usah buru-buru.
Kakak kerja lagi besok, jadi kita cari waktu yang nggak bikin kalian
keteteran.”
Rendi mengangguk. Dina
tersenyum kecil.
Tidak ada lagi nada defensif, tidak ada lagi nada
menyerang, hanya tiga orang yang sedang belajar menyesuaikan langkah.
“Kita pulang
habis ini ya. Jangan kelamaan.”
Rendi berdiri lebih
dulu. Dina menyusul.
Aku masih duduk
setengah detik lebih lama.
Ayah…
kali ini kami nggak ngebut.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu gerbang
kampus, awalnya biasa saja, banyak orang lalu-lalang sore hari. Tapi langkah
itu berhenti, tidak jauh dari kami, aku tidak langsung menoleh, Sampai Dina
yang pertama kali melihatnya, wajahnya berubah lebih dulu.
“Kak…” suaranya pelan. Terlalu pelan.
Rendi mengikuti arah
pandang Dina.
Tubuhnya membeku, baru
kemudian aku menoleh, seorang perempuan berdiri beberapa meter dari kami, tas
besar tergantung di bahunya. Wajahnya tampak lebih tua dari yang kuingat, rambutnya
tidak lagi serapi dulu. Tapi tatapan itu.............. aku mengenalnya.
“Ibu....”

.jpg)

Komentar
Posting Komentar