LAMPU MERAH (PROLOG)
"LAMPU MERAH"
(PROLOG)
Ilham Ramadhan
Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu untuk melindungi privasi narasumber.
Tik, tik, tik, tik... Rintik hujan yang awalnya datang secara bergantian menemani ku mengendarai motor ini tiba-tiba memanggil seluruh koloni nya dengan segera, ku lihat ada sebuah ruko sedang tutup di seberang arah lajuku, dengan sigap ku tepikan motor ini dan berdiri sembari melipat tanganku, berharap dapat mengundang rasa hangat yang menetralisir keadaan. Samar-samar ku dengar sebuah obrolan lirih antara 2 orang di sebelah kanan ku.
"Bunda, kasihan ayah yaaa, pasti ayah lagi
kedinginan disana" Ucap seorang gadis kecil yang ku taksir umurnya masih
dibawah 8 tahun.
"Iya ya, naak. Pasti ayah lagi sibuk nutupin
dagangannya disana ya, nak?" Seorang ibu menjawab dengan nada lembutnya
sembari merapikan rambut anak gadisnya itu. Ibu itu melanjutkan
"Rani sayang ya sama ayah?"
"Sayang, bunda.”
“Kalau sayang, nanti Rani peluk ayah ya kalo udah
pulang. Mau ga?”
“Mau banget bunda. Tapi sekarang, Rani mau peluk
bunda dulu boleh ga?”
“Boleh, sayang. Sini peluk bunda, Rani kedinginan
ya? Hihihihi...”
Anak kecil tersebut kemudian memeluk erat tubuh
bundanya dan sekarang wajahnya menatap manis ke arahku yang sedang terpaku
menyaksikan momen manis ini. Momen yang sudah lama tidak aku rasakan semenjak
ayahku meninggal 3 tahun lalu. Berat memang jika selalu memikirkan semua
kenangan yang masih bersemayam dalam pikiran ini, selalu saja memori yang kecil namun penuh makna siap
mengganggu setiap kali aku mencoba mengetuk pintu nostalgia dalam kepala. Bukan
tak pernah juga aku menangis semalaman hanya karena merindukan sosok ayah yang
tidak pernah ku rasakan lagi perhatiannya yang hangat, atau bahkan sekedar nada
suaranya ketika memanggil namaku, Citra.
Seketika aku memasukkan tangan kedalam kantong
jaketku, merogoh dua bungkus permen coklat yang aku dapatkan sebagai pengganti
kembalian dari warung tadi, kemudian aku memamerkan permen tersebut ke wajah
gadis kecil yang masih memeluk bundanya itu sembari menunjukkan gestur
menawarkan. Perlahan aku melangkahkan kaki ke arah gadis itu, kemudian bertanya
“Adik mau?”
Namun seperti gadis kecil imut pada umumnya, ia
kemudian menatap penuh harap kepada bundanya.
“Rani mau? Kalo mau, ambil aja gapapa.”
Tangan kecil yang sebagian masih tertutup jaket
kelincinya itu perlahan mendekat ke arah telapak tanganku yang terbuka lebar
menyajikan dua permen coklat. Setelah itu dengan cepat, ia mendekatkan kepalan
tangannya yang sudah memegang permen tersebut ke jaketnya.
“Bilang apa sayang?” Ucap bundanya.
“Makasi ya onty.”
“Sama-sama Rani.” Ucapku sembari melebarkan senyum.
“Hah? Onty tau nama aku?” Tanya nya heran.
“Hebat kan, hahahaha. Sudah, dibuka nih permennya.” Gurauku.
Aku sempat mengobrol dengan ibu Dewi, bundanya Rani.
Namun, belum genap sepuluh menit aku berbincang dengannya, langit menutup
tangisnya, menyisakan sunyi yang basah. Aku kemudian berpamitan dengan bu Dewi
untuk melanjutkan perjalananku. Tak lupa aku juga berpamitan dengan peri kecil
nan jelita yang belum selesai mengunyah permen coklat yang tadi aku berikan,
tidak luput lambaian tangan kecil dan senyum yang memperlihatkan gigi terkena
coklat itu menyertai kepergianku.
Kupacu motorku pulang, menuju rumah yang
mengajarkanku berhenti, meletakkan lelah,
dan mengevaluasi langkah-langkah hari ini dengan jujur. Saking asyiknya aku
mengobrol dengan keluarga kecil tadi, aku baru sadar bahwa earphone ku masih
terpasang di telinga. Lagu dari Letto mengalun merdu. Seakan mengajak kembali
pikiran ini ke percakapan dengan bu Dewi tadi, begitulah aku memanggilnya.
“Mba nya pulang kuliah ya? Di kampus mana?” Tanya bu
Dewi.
“Ah, engga, Bu. Saya pulang dari kerja.” Jawabku.
“Masya Allah, sudah kerja toh? Kerja dimana?”
“Saya pegawai di toko laundry di dekat persimpangan
sana, bu.”
“Oooooh, yang di samping grosir besar itu ya?”
Kepalaku mengangguk memvalidasi.
“Tapi hebat lho, masih muda, wanita, tapi udah
kerja. Mandiri banget.” Pujinya.
“Hehehe, yaaa mau gimana ya, bu. Saya sekarang udah
di posisi menanggung biaya hidup dua adik saya.” Aku menjawab sembari tertawa
kecil.
“Owalah. Lah ayah dan ibu nya??” Ia menaikkan nada
bicaranya sedikit. Dari sini lah aku mulai sadar, ceritaku terlalu jauh.
“Hemmm. Ayah saya sudah meninggal 3 tahun yang lalu,
bu. Kalau ibu, 1 tahun setelah ayah meninggal, lebih milih nikah lagi. Dan dari
situ, ga pernah lagi saya dengar kabarnya.” Jawabku. Aku tidak tahu kenapa
malah ku lanjutkan cerita yang seharusnya tak perlu keluar ini.
“Jadi kamu ini anak pertama perempuan ya? Yang tegar
ya mba. Insya Allah kalau niatnya lurus, pasti bakal ada aja jalannya nanti.”
Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
Lamunanku kembali ke masa lalu. Menjadi anak
perempuan dengan tanggung jawab ini kadang melelahkan, tapi aku memilih
bertahan sebab aku tak ingin dua adikku tumbuh dengan masa depan yang serapuh
milikku. Andai ayah masih di sini, aku ingin belajar darinya cara bertahan
dengan dada yang lapang, saat dunia memilih tak berpihak pada harapan. Lagu di
earphone melantunkan lirik
“Kau
datang dan pergi, oh begitu saja
Semua
ku terima apa adanya
Mata
terpejam dan hati menggumam
Di
ruang rindu, kita bertemu”
Ah sial, hujan turun di luar, tapi yang paling
lembap justru mataku. Laju motorku berhenti di sebuah persimpangan lampu merah.
Di sela-sela lamunanku, pandanganku tersentak oleh lambaian tangan mungil di
ujung jalan searah, itu dia—Rani. Hahahahaha. Batinku berbisik,
kenapa rasanya begitu cepat mereka sampai di sini? Atau justru aku yang terlalu
lama berkendara, larut dalam lamunan sendiri? Apa pun alasannya, lambaian itu
cukup membuat dunia tak terasa seberat tadi. Aku membalasnya dengan senyum
selebar mungkin, berharap Rani menangkap pesan diam dari wajahku.
Jarak antara persimpangan lampu merah tempat aku
bekerja dengan lampu merah dimana aku berhenti sekarang sebenarnya tak sejauh
itu, namun entah kenapa hari ini, jarak yang lumayan singkat itu menghadirkan
berjuta memori dan pengalaman sedih dan bahagia dalam satu wadah.
-BERSAMBUNG-

.jpg)

Komentar
Posting Komentar