AKU HARUS APA? SEASON 2 (KONKLUSI)

   


  CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen season ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara urutan dari "PROLOG", "GELEBAH",  "GAMA", dan "KANALA" terlebih dahulu. 


TERIMA KASIH :)






AKU HARUS APA? 

SEASON 2



Ilham Ramadhan


"KONKLUSI" 







Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu untuk melindungi privasi narasumber. 



Malam ini, di rumah sakit tempat Gery dirawat, aku menghabiskan waktu kembali di balkon lantai teratas bangunan ini. Radiasi hangat nan nyaman yang disuguhkan oleh sang bulan kembali ku rasakan. Layaknya tak ada satupun manusia lain disini, aku menatap bulan dengan mesranya. Menikmati setiap detik kebahagiaan yang aku dapat dari sekedar bercumbu angan dengannya, mengagumi sinar yang diberikan olehnya, mendamba semua keajaiban yang mungkin bisa terjadi karena keberadaannya, juga tak lupa aku bertanya tentang semua yang telah terjadi pada meganya. Bukan aku tak percaya pada manusia, tapi rasanya tak ada yang bisa menjawab semua pertanyaanku.

Sebuah suara dari langkah kaki yang mendekat tak sengaja aku dengar. Bergeser bola mata ini dari atas langit malam ke arah kiri lobi penderitaan. Samar tapi aku yakin bahwa itu adalah ibu, sedang mengayunkan kakinya ke arah anak laki-laki nya yang sedang berduka lara ini. Dengan senyum semanis mungkin, aku menyambut kedatangan ibu yang langsung mengelus kepalaku.

 

“Udah mandi belum?” Tanya ibu membuka obrolan.

“Udah kok, bu.” Jawabku singkat.

“Ibu boleh duduk disini?” Ibu meminta izin.

Tanpa menjawab, aku membuka telapak tanganku dan mengarahkannya ke kursi di depan pandanganku dengan maksud mempersilakannya. Setelah duduk, ibu tidak langsung membuka kembali percakapan denganku, tapi ibu justru seperti mengafirmasi dan mengkonfirmasi apa yang sedang aku rasakan.

 

“Bulan malem ini lagi bagus ya, nak?” Ibu mencoba membuka perbincangan.

“Iya, bu. Beberapa hari ini Lukman ngeliat bulan lagi di wujud paling bagusnya.” Aku mencoba memvalidasi pertanyaan sekaligus pernyataan ibu, sembari mataku terus memandang lurus ke arah bulan itu.

“Apa ini alesan kenapa mas Lukman jarang banget di dalem kamar tiap malem? Ibu perhatiin terus mulai dari mas Lukman dateng jenguk Gery, mas Lukman jarang banget nemenin ibu dan Gery di dalem.” Tanya ibu dengan penuh rasa penasaran namun tetap tenang.

Sembari menghela nafas, aku menjawab

“Engga si, bu. Beberapa hari ini Lukman emang ngerasa lebih tenang, lebih tenteram kalo duduk diluar sendirian gini. Eh, tapi bukan berarti di dalem ga tenang yaaa.”

“Ibu paham kok.” Jawabnya sembari ditemani tawa kecil khas yang selalu jadi favoritku.

Ibu kembali bertanya

“Kalo ibu boleh tau, tadi waktu kamu dibangunin Fajar, kok kayaknya kaget dan capek banget? Memang tadi mimpi apa?”

Pandangan yang sedari tadi memandang indahnya bulan, kini berganti ke tatapan ibu nan permai.

“Lukman tadi abis mimpi buruk, bu. Mimpi yang bahkan di kehidupan nyata ini, sama sekali gabisa Lukman bayangin.” Jawabku sembari memproses kembali berbagai emosi yang ku rasakan siang tadi.

“Boleh ibu tau mimpinya tentang apa, mas?” Ibu mencoba menggali informasi.

Kembali aku menceritakan secara detail dan runtut kepada ibu. Sembari bercerita, aku merasakan bongkahan dejavu yang amat besar menghantamku secara keras. Perasaan dan keadaan saat ini persis seperti kejadian dalam mimpiku ketika aku bercerita kepada ibu di sofa hijau ruang tamu. Raut wajah ibu ketika meyimak ceritaku, kerutan di dahi nya ketika mendengar hal yang tak masuk akal. Bedanya kali ini cerita tidak berhenti di kejadian rumah makan, namun aku tuntaskan di kejadian truk bermuatan kayu. Dan seperti biasanya, reaksi yang disajikan ibu akan berupa senyuman terlebih dahulu, baru kemudian menyampaikan titahnya. Dan perbedaan yang lain untuk kali ini, ibu tidak hanya tersenyum seperti saat aku bercerita dengannya di sofa hijau, kali ini ibu menghujam hati dengan sebuah kalimat tanya.

 

“Mas Lukman percaya ga kalo semua yang terjadi dan yang datang di hidup kita ini pasti ada maksud dan artinya?”

Hatiku yang sedari tadi sudah ingin mengacuhkan setiap keping mimpi itu, kini kembali menyala karena ada api penasaran yang ibu hidupkan dengan sengaja. Dengan nada lugas  aku menjawab

“Percaya, bu.”

“Nah, itu. Termasuk semua kejadian yang ada di mimpi mas Lukman tuh pasti ada artinya. Pertama ibu mau tanya dulu, mas Lukman memang lagi banyak pikirannya ya? Lagi pusing ya anak ibu ini?”

Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan ibu, tapi aku memberikan sinyal yang aku tahu pasti ibu akan memahaminya. Iya, dengan sedikit anggukan kepala. Senyum ibu kembali tampil di ujung pentas wajahnya.

“Sudahlah, mas. Masalah jodoh kayak mba Indah itu nanti pasti bakal datang sendiri, yang penting mas Lukman sekarang harus tetep berusaha nyusun kehidupan mas Lukman sendiri ya. Kerja yang bener, ada uang lebih ya ditabung, karena kita gatau kapan dan berapa kita perlu uang itu sewaktu-waktu. Kalau hidupnya mas Lukman sudah tertata, semua sudah di titik pantas, pasti yang lain bakal ngikut, apalagi cuma masalah jodoh. Inget, Allah tuh gapernah salah waktu buat ngasih sesuatu ke kita. Allah bakal ngasih apapun ke kita kalo kita memang udah siap nerima itu semua. Jadi, sabar ya, nak.” Ibu menyampaikan amanatnya yang pertama.

Anggukan dari kepala ini berlanjut, mencoba menerima petuah yang sebenarnya bukan masalah utama dari isi pikiran ini. Dengan sangat tidak puas, aku kembali bertanya.

“Tapi gimana dengan keadaan di mimpi itu yang kondisinya aku gaada pekerjaan, bu? Terus kenapa aku bisa kayak iblis disitu? Dan yang paling penting, kok aku bisa ngerasa kejadian rumah makan bisa senyata itu? Semua pesan yang dikasih bapak itu pun aku masih inget sampe sekarang”

“Nak. Yang pertama, gaada di dunia ini yang bersifat abadi. Semuanya bakal hilang, bakal pergi, bakal habis. Mau itu berbentuk manusia, barang, atau bahkan pekerjaan. Mungkin Allah mau ngasih tau kamu itu, Allah mau ngingetin kamu jangan sombong terhadap apa yang kamu punya sekarang, karena bisa jadi suatu hari nanti, itu bukan punya kamu lagi, nak.”

Mendengar itu, aku sedikit merinding. Jauh pikiranku melayang mengingat bagaimana kehidupan diri ini di kampus. Mungkin selama ini aku punya pikiran bahwa “Tidak semua hal di hidup ini tentang perlombaan, skripsi tidak perlu buru-buru, buat apa aku menyelesaikan skripsi? Ingin dapat pekerjaan? Aku sudah punya.” adalah salah total.

“Hal apapun yang sudah kita punya selama ini itu semua adalah titipan, nak. Yang namanya titipan yo pasti bakal diambil lagi toh nantinya sama yang punya? Makanya, selagi kita masih dipercaya sama yang diatas untuk dititipin sesuatu, maximalin semuanya. Usahain apa yang kita punya sekarang bisa jadi bekal yang nanti kita pakai ketika itu udah diambil.” Ibu menambahkan.

Kepala ini sedikit demi sedikit mulai menghadap ke bawah. Betapa lancangnya aku selama ini menyombongkan segala sesuatu yang bersifat “titipan” ini. Tangan ibu menepuk lembut pundak sebelah kananku.

“Ndapapa, nak. Ibu ini paham pasti kamu begitu, ibu maklum. Tapi, kan malam ini sudah tau, mulai singkirin itu semua yaaa. Sombong itu pakaian Allah, lucu banget kan kalau kita pake pakaian yang terlalu besar buat kita, ga pantes.”

Kembali aku menarik nafas lebih dalam. Mengakui dosa besar yang selama ini ku perbuat, tapi di sisi lain, ada sosok bahagia dan bangga hadir menyapa, karena belum lebih jauh lagi aku melangkah ke jalan dosa, sudah ada ibu yang mengingatkanku untuk cukup berhenti di pintunya. Ibu melanjutkan dengan sedikit tawa yang bisa aku dengar.

 

“Yang kedua, tentang kamu yang malah jadi pelaku kejahatan ya? Hahahaha... Jujur ibu ngerasa itu lucu banget, malah kayak di film-film gitu ya jalan ceritanya, ibu pun sampe bingung cara nanggepinnya gimana. Tapi mungkin yang mau ibu sampein begini. Kadang kita terlalu sibuk nyari-nyari kesalahan orang lain, yang bahkan bisa jadi memang gaada. Cuma karena kita terlalu fokus untuk itu, kita jadi lupa untuk ngeliat balik ke dalam diri kita. Kita jadi lupa bahwa kesalahan yang perlu diliat dan dihakimi itu justru kesalahan diri kita sendiri, nak.

Hidup ini terlalu singkat untuk sibuk nyari kesalahan orang lain. Jauh lebih baik kalo kita fokus, kita introspeksi diri kita sendiri, salahnya dimana, apa yang perlu kita buang, apa yang perlu kita ganti, supaya nanti bisa ngasih efek yang terbaik ke orang-orang di sekitar kita yang kita sayang.”

 

Kepala ini kembali mendongak ke arah wajah ibu. Sembari aku menatapnya, aku merasa sangat bersyukur karena memiliki sosoknya. Bukan hanya sosok yang memberikan aku makan dari kecil, tapi juga sosok yang bisa jadi teman dan support system disaat seperti ini. Tapi kini aku melihat perubahan mimik yang ditampilkan di depan wajahku, senyum lucu yang sedari tadi berdansa di bibir ibu, kini perlahan berganti menjadi kekuasaan sendu yang datang tanpa aba-aba. Belum sempat aku bertanya alasan kenapa si murung itu menampilkan dirinya, ibu sudah berbicara.

 

“Untuk yang ketiga, Ibu ngerasa kayaknya doa ibu selama ini dijawab deh. Selama ini, ibu gapernah ngerasa ngasih wejangan yang cukup untuk kamu yang memang lagi sangat-sangat perlu berbagai macam pendapat, ide, atau bahkan sekadar saran untuk hidup yang lagi kamu jalanin sekarang. Ibu ngerasa semua nasihat yang kamu dapet di rumah makan malam itu adalah titipan dari bapak disana. Jadi jangan ngerasa aneh atau malah mau kamu lupain ya semua ucapan yang kamu denger di rumah makan itu. Bisa jadi itu nasihat yang bisa kamu pake untuk kamu buat ngejalanin kehidupan kamu yang sekarang.”

“Udah ah, ibu mau masuk lagi. Disini dingin, terus takutnya nanti si Gery butuh ibu lagi.” Ibu menutup percakapan malam ini. Disusul anggukan kecil dari kepalaku.

“Iya, hati-hati, bu. Makasih ya udah mau nemenin Lukman duduk disini.” Ucapku.

“Iya, sama-sama. Udah, kamu juga jangan lama-lama duduk disini,  nanti ke dalem ya, istirahat, nongkrong dan bengongnya besok lagi dilanjut.” Pungkasnya.

Aku hanya meringis malu, sembari ku lihat ibu berjalan pelan ke arah asal pertama kali aku melihatnya tadi.

 

Sibuk sekali rasanya otakku memproses semua ini. Semua perjalanan semu yang bermuara pada sebuah pelajaran mutlak. Mengungkap perjalanan panjang yang sesak dengan agregat. Baik, buruk, putih, hitam, abu, bercampur hingga sukses mengguncang akal sehat. Sangat sulit melihat semuanya tanpa memahami ada hukum sebab-akibat, untuk sampai di titik merasakan hikmah yang akurat.  Terkadang memang jiwa ini piawai menyampingkan amanat, tak jarang otak dan sanubari menghabiskan waktu untuk bergulat dan berdebat, hingga membuat nurani cerah dalam pribadi justru terisolasi berkarat.

Bulan saat ini seakan mengedipkan sebelah matanya kesini, memberikan cahaya bermuatan adiksi tanpa henti. Pribadi yang sulit beradaptasi, kini mulai dituntun kembali untuk mengambil peran menebarkan fungsi. Yang kini tak hanya menekan dan mengendalikan arogansi, tetapi juga melaksanakan berbagai bakti yang bersifat abadi. Dari sang yang selalu bergelut dengan kenyataan tanpa reaksi, berubah untuk mencoba menghindar dari jahatnya dekadensi.

Tak berhenti aku mengucap syukur atas semua perjalanan ini, dan syukur paling besar adalah mempunyai sosok ibu yang selalu ikut serta untuk mengatur ritme nadi. Besar harapanku untuk bisa berguna bagi keluarga kecil nan bahagia tanpa perlu secuil diksi berbentuk deskripsi, dan juga tanpa harus kemanapun hanya untuk mengumbar sebuah deklarasi. Karena bagi diri ini, ibu adalah sosok manusia berhati suci, yang berjaya membantuku menemukan konklusi yang menenangkan hati. Hidup tenang saat ini bukan hanya hal yang harus dipersiapkan sepenuh hati, tapi juga harus ditemani oleh tulusnya dedikasi.

 

 

Terima kasih Tuhan, terima kasih Ibu, terima kasih Malam, terima kasih Bulan. 





// TAMAT //


Komentar

Postingan Populer