AKU HARUS APA? SEASON 2 (KANALA)

CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen season ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara urutan dari "PROLOG", "GELEBAH", dan "GAMA" terlebih dahulu. 


TERIMA KASIH :)






AKU HARUS APA? 

SEASON 2



Ilham Ramadhan


"KANALA" 





Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu untuk melindungi privasi narasumber. 



Mataku terbelalak melihat pandangan ibu yang sedari dulu ku kenal selalu penuh dengan rasa hangat dan suportif, kini justru berbalik 180° penuh. Aku seperti melihat orang asing yang sedang berusaha mengungkap tabir kepalsuan dan dengan penuh kesiapan untuk menghabisiku. Matanya memerah, tak ketinggalan dengan air mata yang belum ia seka. Tangannya kembali menggenggam pergelanganku dengan kuat, kali ini lebih kuat dari dua genggaman sebelumnya.

 

“Mas, kenapa kamu ngelakuin ini semua, mas?!” Tanya ibu dengan nada bicara yang naik.

 

Aku tidak bisa mengeluarkan seuntai kata pun, aku masih bingung dengan apa yang terjadi disini.

 

“Ibu? Ibu ini ngomong apa? Lukman ngelakuin apa, bu?” Tanyaku dengan penuh kebingungan yang makin menjadi-jadi.

 

Disaat itulah ibu mulai mengutarakan semua yang sebenarnya terjadi, dengan duduk bersimpuh penuh penyesalan dan mata yang kembali menatap ubin rumah sakit, ibu berkata

 

“Ibu sudah diceritain semua sama Gery, semalam waktu kamu dan Gery berhenti di lampu merah, Zidan sebenarnya mendekati kalian berdua, sudah bilang minta uang untuk makan.”

“Sebentar, bilang??? Maksudnya apa sih, bu? Zidan kan gabisa ngomong.” Aku memotong cerita ibu, karena memang aku bersaksi bahwa Zidan tidak bisa bicara.

“Naaakkk, Zidan itu bisa ngomong naaaak, Zidan ga bisuuuuu...” Jelas ibu dengan tangis kuat yang tidak lagi tertahan.

Seluruh badanku sama sekali tidak bergerak, aku terpaku dengan penjelasan aneh dari ibu. Ibu melanjutkan

“Zidan ga bisu, justru kamu yang bisu waktu Zidan meminta uang kalian. Zidan udah berkali-kali minta uang sama kalian. Karena Gery kasian, akhirnya Gery yang ngajak kamu untuk makan bertiga dengan Zidan semalam. Gery bilang ke ibu kalau dia ngeliat kamu diam membisu mulai dari didekati oleh Zidan sampai di rumah makan semalam. Gery takut banget karena di dalam rumah makan semalam, kamu justru menyendiri di pojok dan malah keliatan kayak ngobrol sama orang lain yang entah dimana dan siapa.”

“Sebentar, sebentar. Maksudnya apa, bu? Kan memang aku ngomong sama bapak-bapak yang justru ngasih nasihat sama aku. Aku juga kan udah cerita semuanya ke ibu. Aku pun masih inget kok, apa yang diomongin sama bapak itu, ga mungkin aku ngomong sendiri, bu. Mungkin Gery salah ga ngeliat atau salah liat mungkin, bu.”

“Engga nak, Gery ga salah liat. Justru Gery sampai ditanya sama kasir rumah makan semalam. Bahkan sampai kasir heran dan menganggap kamu kerasukan, nak. Tapi Gery membela kamu, dia bilang kalau mamasnya lagi capek.”

Ibu tidak memberi aku kesempatan untuk memotong ceritanya kali ini, ia melanjutkan

“Gery bilang ke ibu kalau kamu tiba-tiba teriak dan keluar untuk mengambil batu dan melemparnya dari luar ke arah Zidan, mas. Dan Gery ngeliat sendiri dengan matanya kalo batu itu kena mata Zidan, dan yang kamu liat di dalem itu hasil tangan kamu, nak.”

Hati kecil ku mencoba terus menampik semua yang dikatakan ibu. Ini bukan ibu, ibu yang aku kenal akan selalu berada disampingku dan mendukung semua yang aku lakukan dan katakan, kenapa ibu jadi seperti ini?

“Ibu.. Ibu bercanda kan ya?” Aku mencoba menghadirkan senyum penuh ketidaknyamanan. Sembari mencoba memastikan kembali, kali ini giliran aku yang menggenggam pergelangan tangan ibu dengan kuat.

“Ibu, bercanda kan ya, bu. Itu semua bohongan kan, bu. Itu kan apa namanya, ya memang Lukman ngeliat sendiri, t...te...teruus ya memang itu...” Sial, kenapa aku terbata-bata seperti mengamini ucapan ibu bahwa aku adalah orang yang menutupi kesalahan.

 

Perlahan tapi pasti, hati sekeras batu yang enggan menerima cerita penuh ibu tadi mulai mencoba menerima kenyataan. Mungkin saja memang aku lah penyebab semua kekacauan ini, aku lah orang yang lebih kejam daripada setan yang telah aku bayangkan selama ini, mungkin semua pikiran yang semrawut tentang pekerjaan dan kehidupan mulai mengubahku menjadi iblis berwujud manusia. Kepala ibu yang masih menghadap lantai mulai menggeleng perlahan namun terlihat dengan jelas. Gelengan kepala ibu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Yang tetap aku percaya selama ini adalah bahwa ibu tidak mungkin berbohong, apalagi mengarang cerita yang tidak semestinya ia karang.

Ku tarik kedua tanganku dari ibu. Sembari kedua mataku menatap tajam ke arah tangan-tangan yang telah melakukan dosa besar ini, aku berdiri dan bergegas meninggalkan ibu. Aku bahkan tidak lagi peduli jikalau aku seperti anak perempuan, tapi percayalah, berlari entah kemana untuk kabur dari kekacauan besar yang ada di depan mata adalah satu cara yang paling nyaman untuk dilakukan. Di tengah lariku, aku terus berpikir betapa bejatnya hal yang sudah ku lakukan, entah dengan cara apa aku memulihkan kembali jutaan serpih hati ini. Rasa bersalah, sedih dan amarah terus bercampur dalam hatiku.

Semua rasa seperti menari tanpa henti di dalam hati ini. Sial, sudah sejauh apa aku berlari, hingga rasa letih di kaki karena berlari sampai mengaburkan untaian abstrak di sanubari. Aku merasakan letih yang luar biasa, mungkin benar kata orang, menangis saja sudah menghabiskan tenaga, dengan sangat pintar aku malah mencampurnya dengan berlari. Mata ku mulai berkunang-kunang dan suara sekitarku sayup-sayup perlahan mulai menghilang. Tapi ada satu suara yang mengganggu telingaku, tak hilang termakan waktu, justru semakin lama, suara itu semakin nyaring mendakat ke arahku. Ku lihat ke sebelah kiri, dengan sekejap aku menyadari ada sebuah fuso bermuatan kayu melaju ke arahku, kaki ini seperti terpaku di atas aspal hitam ini, kini lirik dalam hati berubah menjadi “inilah akhir dari hidupku yang menyedihkan ini.”

Dengan lantang aku berteriak “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!”

 

 

 

PLAK!!! PLAAKKK!!!

“Maaaass. Mas Lukman!!!”

“MAS LUKMAAAAAAAAAAAAAAAANNNN!!!!!!”

“BANGUUUUUUUNNNNN!!!!”

“Hih, susah amat si dibangunin dari tadi.”

 

Aku membuka mata ditemani dengan rasa sakit di punggung. Aku melihat Fajar, adik bungsuku berusaha membangunkanku.

 

“Ibu dah marah tuh. Mas Lukman tidur dari siang sampe jam 5 gini ga bangun-bangun. Ibu nyuruh Mas Lukman shalat ashar.” Ucapnya dengan nada dan mimik kesal.

Aku melihat sekeliling, segera mataku tertuju kepada pintu kamar mandi ruangan itu yang terbuka, dan dari dalam kamar mandi itu, aku melihat Gery yang sedang dibantu ibu memegang infus nya untuk kunjungan kamar mandi entah yang ke berapa hari ini. Aku menarik nafas sangat-sangat dalam dan menghembuskan nafas lega sekencang-kencangnya. Aku bisa merasakan keringat yang membasahi dahi ini. Ternyata semua perjalanan selama ini adalah mimpi.

 

Tapi kalau mimpi, kenapa semua kejadiannya terasa begitu nyata? Kalau mimpi, kenapa banyak sekali kejadian menyayat hati di dalamnya? Lantas, kalau memang benar hanya mimpi, siapakah Zidan atau bahkan bapak-bapak yang memberikan aku wejangan malam itu? 







// BERSAMBUNG //


Komentar

Postingan Populer