LAMPU MERAH (JEDA)
CATATAN : Untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam mengikuti kisah cerpen "LAMPU MERAH" ini, ada baiknya untuk membaca bagian awal secara berurutan dari "PROLOG" terlebih dahulu.
TERIMA KASIH :)
"LAMPU MERAH"
(JEDA)
Ilham Ramadhan
Motorku berhenti di halaman rumah, pintu rumah
kututup perlahan, memastikan bunyinya tidak terlalu keras, seolah ada seseorang
di dalam yang sedang tidur. Padahal tidak ada siapa-siapa. Lampu ruang tamu
kunyalakan sekadarnya, cukup untuk melihat lantai dan bayangan tubuhku sendiri
yang tampak lebih panjang dari biasanya. Pemandangan biasa dalam rumahku, kaos-kaos
bersih menumpuk di sudut sofa, bercampur dengan celana yang belum tentu akan
kupakai minggu ini. Beberapa masih tergeletak di keranjang, rapi dalam bersihnya,
berantakan dalam penempatannya. Aku tahu semuanya bersih. Aku hanya tidak punya
tenaga untuk membuatnya tampak teratur. Ironi dari rumah seorang pegawai
laundry yang tiap hari merapikan pakaian
orang-orang.
Tas kerja kutaruh di kursi tanpa dirapikan. Sepatu
kulepas begitu saja, tidak sejajar, tidak peduli. Rumah ini tidak pernah
menuntutku rapi. Ia hanya menerima, diam-diam, seperti aku menerima hidup
belakangan ini. Saat melewati dinding dekat kamar, pandanganku tersangkut pada
satu titik kecil bekas paku. Dulu, di situ tergantung kalender lama dengan
coretan tangan ayahku. Ia suka menandai tanggal, entah untuk apa. Sekarang,
yang tersisa hanya lubang dan ingatan tentang kebiasaan kecil yang tidak pernah
sempat kuanggap penting.
Aku masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuh ke kasur
tanpa mengganti pakaian. Pegasnya berdecit pelan, lalu sunyi. Di meja kecil
samping tempat tidur, masih ada jam tangan ayah. Tali kulitnya sudah retak,
jarumnya mati sejak lama, tapi aku tidak pernah memindahkannya. Seolah jika jam
itu tetap di sana, waktu ayah juga ikut tinggal.Langit-langit kamar menatap
balik, kosong, dan aku membiarkannya. Tidak ada yang perlu kupikirkan malam ini
setidaknya begitu yang selalu kukatakan pada diri sendiri.
Mataku baru saja terpejam ketika layar ponsel di samping bantal menyala. Getarnya singkat, tapi cukup membuat dadaku ikut bergetar. Aku membuka mata setengah malas, lalu meraih ponsel itu. Nama Dina, adik perempuanku muncul. Pesannya masuk tanpa basa-basi, seolah ia ingin cepat selesai.
"Kak, hari ini capek banget tapi seru kok.
Tadi pulang agak malam. Aman. Jangan khawatir
ya."
Aku membaca pesannya sekali. Lalu sekali lagi.
Tidak ada emotikon berlebihan, tidak ada cerita panjang seperti biasanya. Aku
mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik ulang versi yang lebih sederhana.
"Syukur kalau gitu. Jaga diri. Jangan lupa makan."
Beberapa detik berlalu sebelum tanda centang berubah. Ia membalas cepat.
"Iya kak"
Pesan itu kututup. Seperti biasa. Seperti seharusnya. Aku meletakkan ponsel
kembali di kasur. Layar menggelap, kamar kembali sunyi. Entah kenapa, aku
merasa sedikit lega. Mungkin karena aku memang ingin percaya bahwa semuanya
baik-baik saja. Aku menarik selimut sedikit lebih tinggi, memejamkan mata lagi.
Menikmati setiap lelah yang memang seharusnya ku lepaskan saat ini.
~
Pagi datang tanpa permisi. Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden
yang tak pernah kututup rapat. Hangatnya jatuh tepat di wajahku, memaksaku
membuka mata. Kepalaku masih berat, seperti ada sisa mimpi yang tertinggal tapi
tak bisa kuingat bentuknya. Aku duduk perlahan di tepi kasur. Ponsel masih
tergeletak di tempat yang sama seperti semalam. Tak ada notifikasi baru. Entah
kenapa, itu membuatku menghela napas lebih panjang dari yang seharusnya.
Lantai terasa dingin saat kakiku menapak. Aku berjalan ke dapur kecil,
menyeduh kopi instan dengan gerakan otomatis. Air panas mengepul, aromanya
tipis—cukup untuk mengingatkanku bahwa hari ini tetap harus dijalani. Seragam
kerjaku tergantung di belakang pintu. Rapi. Bersih. Aku memakainya satu per
satu, mengancingkan baju sambil menatap pantulan diri di cermin kusam. Wajahku
terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Atau mungkin hanya lelah yang
menumpuk. Pagi di luar masih basah oleh sisa hujan semalam. Jalanan sepi, udara
dingin menempel di kulit. Aku menaiki motor, menyalakannya, lalu melaju
perlahan seolah hari ini tak perlu diburu. Di kejauhan, lampu lalu lintas masih
menyala kuning. Berkedip pelan. Aku menatapnya sebentar lebih lama dari
biasanya, lalu melanjutkan perjalanan.
Pintu laundry terbuka dengan bunyi lonceng kecil yang nyaris tak terdengar.
Aku datang lebih awal dari biasanya. Lampu masih setengah menyala, udara di
dalam bercampur antara bau deterjen, pelembut pakaian, dan sisa lembap dari
mesin yang belum sepenuhnya kering. Aku meletakkan tas di bawah meja kasir,
lalu menggulung lengan baju. Mesin cuci mulai berputar, suaranya mengisi ruang
seperti dengung yang tak pernah benar-benar berhenti. Satu per satu, pakaian masuk
ke dalam siklus yang sama, direndam, diperas, dikeringkan, dilipat. Rapi.
Pasti. Tak pernah meleset.
Tanganku bergerak otomatis. Kemeja, celana, sprei. Aku tahu mana yang harus diperlakukan lembut, mana yang boleh ditarik lebih keras. Ada kepuasan kecil setiap kali lipatan jatuh pas di telapak tangan, seolah hidup memang seharusnya sesederhana ini: kotor datang, lalu bersih kembali. Tapi pikiranku tidak ikut bekerja.
Sesekali, mataku melirik ponsel di meja. Layarnya mati. Tak bergetar. Aku
membiarkannya begitu, mencoba fokus pada tumpukan pakaian di depanku. Seorang
pelanggan masuk, menyerahkan dua kantong besar. Aku tersenyum, mencatat nama,
tanggal, harga. Semua berjalan seperti biasa.
“Mbanya capek ya?” tanya ibu itu sambil
menunggu kembalian.
Aku menggeleng ringan. “Nggak kok, Bu.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat, terlalu
terlatih.
Saat ibu itu pergi, aku kembali sendiri. Mesin
pengering berbunyi nyaring, menandakan satu siklus selesai. Aku membuka
pintunya. Uap hangat menyeruak, menyentuh wajahku. Aku berhenti sejenak.
Terlalu lama. Sampai suara mesin lain menegurku dengan bunyi pendek. Aku
menarik napas, lalu kembali melipat. Jam dinding di atas kasir berdetak pelan.
Detiknya terasa panjang. Setiap bunyi seperti mengingatkanku bahwa waktu terus
berjalan, meski aku diam di tempat yang sama. Aku melirik jam itu, lalu tanpa
sadar berpikir apakah adik-adikku juga menjalani pagi yang sama biasa-nya
seperti ini?
Ponselku akhirnya menyala. Satu notifikasi masuk. Aku menatap layar itu beberapa detik, sebelum menyentuhnya. Ponselku bergetar sekali lagi, pendek. Aku menghentikan lipatan di tanganku. Kemeja itu kutaruh rapi di meja, lalu meraih ponsel. Kali ini dari adik laki-laki ku, Rendi. Aku sedikit terkejut. Rendi jarang mengirim pesan pagi-pagi, apalagi di jam kerjaku. Biasanya Dina yang lebih dulu muncul dengan cerita kampus, jadwal, atau sekadar menanyakan kabarku. Kubuka pesannya.
"Kak, Maaf
baru ngabarin. Aku aman. Kuliah lancar kok. Jangan khawatir."
Aku membaca kalimat itu perlahan. Aman. Jangan khawatir. Dua kalimat yang terdengar seperti penutup, bukan pembuka. Seperti jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah kutanyakan. Alisku mengernyit tipis. Aku menatap layar lebih lama dari seharusnya, menunggu mungkin ada pesan lanjutan. Tidak ada. Aku mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Akhirnya kukirim yang paling singkat.
Iya. Jaga diri baik-baik. Fokus kuliah. Titik. Selesai.
Layar kembali padam, tapi rasa ganjil itu tertinggal. Aku menoleh ke arah mesin cuci yang masih berputar. Suaranya konstan, seperti menolak ikut campur. Tanganku kembali melipat pakaian, kali ini sedikit lebih lambat. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri. Mungkin Rendi hanya capek. Mungkin ia cuma ingin memastikan aku tidak kepikiran. Mungkin aku terlalu sensitif. Lagipula, selama uang kukirim tepat waktu, selama kabar datang walau singkat, peranku sebagai kakak rasanya sudah cukup. Setidaknya, itu yang selalu kupilih untuk dipercaya.
Bel pintu laundry berbunyi lagi. Pelanggan berikutnya masuk, membawa kantong
plastik besar. Aku mengangkat wajah, siap dengan senyum kerja yang sama seperti
sebelumnya. Namun senyum itu berhenti setengah jalan. Di balik pintu, seorang
ibu berdiri sambil menggenggam tangan seorang anak kecil. Jaket kelinci itu
lagi. Rambut dikuncir dua, sedikit berantakan. Matanya langsung menyapu
ruangan, lalu berhenti tepat ke arahku.
“Onty!” serunya nyaring, suaranya memantul di antara mesin-mesin yang
berdengung.
Aku terdiam sesaat, lalu tertawa kecil tanpa
sadar. “Eh… Rani?”
Bu Dewi tersenyum canggung. “Maaf ya, Mbak. Dari
rumah dia yang maksa ke sini. Katanya mau ketemu onty hujan kemarin.”
Rani mengangguk cepat, seolah itu pembelaan yang
sah. Ia menarik tangan ibunya sedikit ke depan. “Soalnya onty kerjanya di sini
kan?”
“Iya,” jawabku, jongkok sedikit agar sejajar
dengannya. “Kok Rani inget?”
Rani mengangkat bahu kecilnya. “Soalnya bau
bajunya wangi.”
Aku terkekeh. Bu Dewi ikut tertawa, lalu meletakkan kantong plastik besar itu di meja. “Ini cucian kami, Mbak. Minta tolong ya, sekalian nyoba mau laundry disini, hehehe.”
Aku mengangguk, mencatat nama dan jumlahnya. Sementara itu Rani sibuk memperhatikan mesin cuci yang berputar, matanya mengikuti gerakan air di balik kaca seolah sedang menonton sesuatu yang penting.
“Rani suka lihat bajunya muter,” kata Bu Dewi
pelan, seakan sedang menjelaskan kebiasaan anaknya.
Aku melirik Rani lagi. Ia tersenyum kecil,
puas, seolah dunia sedang baik-baik saja di matanya. Sederhana. Bersih. Tidak
ada yang disembunyikan. Aku memperhatikan Rani yang masih menempelkan hidungnya
di kaca mesin cuci. Ia tampak kagum pada pusaran air yang menghilangkan noda,
aku tersenyum. Di sisi lain, pesan Rendi tadi kembali hinggap dalam kepala,
"Aku aman," katanya. Namun di laundry ini aku belajar satu hal: baju
yang terlihat paling bersih di luar, terkadang menyimpan noda paling membandel
di sela jahitannya, noda yang kau tahu ada di sana, tapi kau pilih untuk tidak
melihatnya agar kerjamu cepat selesai.
Rani menunjuk ke arah mesin yang airnya mulai keruh berbusa. "Onty, bajunya nggak capek ya diputer-puter terus?"
Aku tertawa kecil, menganggapnya hanya imajinasi
anak kecil yang lucu.
"Enggak dong, kan biar bersih. Kalau nggak
diputar, nodanya nggak mau hilang."
Tapi Rani justru cemberut, dia memiringkan
kepalanya menatap tabung mesin itu. "Tapi
kalau Rani diputer-puter terus sama ayah pas main, Rani suka pusing, Onty.
Terus Rani bilang 'Stop, Ayah! Rani mau duduk dulu'. Emang baju-bajunya nggak
boleh duduk dulu ya? Nanti mereka muntah lho kalau pusing terus."
Aku tertegun. Tanganku yang
sedang menggenggam kerah kemeja mendadak kaku.
"Rani, ayo pulang,
Onty-nya mau lanjut kerja," ajak Bu Dewi sambil menarik lembut tangan
kecilnya.
Rani melambaikan tangan ke
arahku. "Onty juga jangan muter
terus ya, nanti pusing!"
Pintu tertutup. Bunyi lonceng
kecil itu menyisakan sunyi yang lebih berat dari sebelumnya. Aku menatap mesin
cuci di depanku. Masih berputar. Konstan.
"Nanti mereka muntah lho kalau pusing terus."
Kalimat polos itu tiba-tiba berubah jadi suara
Rendi dan Dina di kepalaku. Aku hanya peduli mereka harus bersih dari noda
kemiskinan, tanpa peduli kalau mungkin mereka sudah mual dan ingin muntah
karena ritme yang kupaksakan.
Sejauh ini, aku baru sadar
bahwa kedua adikku selalu kupaksa untuk keluar dari jalur kemiskinan dengan
nilai bagus dan kuliah yang rajin. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, dunia
yang hanya berfokus pada uang untuk mereka berdua, tanpa memikirkan bahwa
mungkin mereka juga butuh seorang 'kakak' secara nyata. Sosok yang hadir, bukan
sekadar pengirim saldo tiap bulan. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali
aku benar-benar mengunjungi mereka, duduk di sebelah mereka, dan bertanya
apakah mereka baik-baik saja tanpa membahas soal uang kuliah.
Aku berjalan perlahan ke
arah mesin itu. Jari-jariku yang masih lembap menyentuh tombol Pause. Klik. Hening.
Aku membiarkan mesin itu berhenti, membiarkan diriku diam dalam sunyi yang
menuduh." Untuk sesaat, rasa ganjil dari pesan Rendi yang tadinya hanya di
sudut pikiran, kini menyeruak maju, menuntut jawaban.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja
kasir dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pikiranku yang biasanya penuh
dengan daftar cucian, kini hanya tertuju pada satu nama: Rendi. Aku membuka
galeri foto di aplikasi pesan kami. Selama ini, aku hanya melihat foto-foto
sertifikat atau bukti transfer yang aku kirim.
Namun, saat aku menggulir lebih
jauh ke foto profilnya yang baru diperbarui dua hari lalu, ada sesuatu yang
membuat dadaku sesak. Pipinya tirus, tulang pipinya menonjol tajam, dan sorot
matanya... kosong. Itu bukan sorot mata seorang mahasiswa yang hanya kelelahan
belajar.
Aku beralih ke kontak Dina. Tidak ada foto profil, hanya layar hitam. Statusnya pun hanya titik. Rasa ganjil yang tadi hanya secuil, kini tumbuh menjadi bola salju yang menghantam dadaku. Aku sadar, aku tidak bisa hanya diam di balik mesin cuci ini dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Aku harus melihat matahari mereka, seperti kata Rani. Bukan lewat layar ponsel, tapi dengan mataku sendiri. Aku menarik napas panjang, lalu berjalan menghampiri ruang pemilik laundry.
"Bu," panggilku saat
melihatnya sedang mengecek stok detergen. "Saya... saya mau minta izin
cuti dua hari. Mulai besok."
Bu pemilik laundry menoleh heran. Selama
tiga tahun, aku adalah orang yang paling jarang minta libur. "Ada urusan
mendadak, Cit?"
"Iya, Bu. Ada hal penting
yang harus saya urus di kota sebelah," jawabku tegas, meski di dalam hati
aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di sana.
Aku tidak akan memberi tahu
mereka. Biarlah ini jadi rahasia. Aku ingin melihat bagaimana mereka hidup saat
aku tidak sedang "memutar" dunia untuk mereka. Aku ingin tahu, apakah
mereka benar-benar 'aman' seperti yang selalu mereka ketik di layar ponsel.
Malam itu, saat aku mengunci
pintu ruko, aku menatap lampu lalu lintas di persimpangan jalan. Warnanya
kuning, berkedip pelan. Peringatan untuk berhati-hati. Tapi bagiku, ini adalah
sinyal bahwa jeda ku sudah
berakhir. Besok, aku akan melaju, menembus kabut yang selama ini kubiarkan
menyelimuti adik-adikku.
~
Matahari belum sepenuhnya bangun saat aku mengeluarkan motor dari halaman. Pagi ini terasa ganjil; tidak ada seragam laundry yang kaku, tidak ada aroma deterjen yang menusuk hidung. Aku mengenakan jaket flanel tua yang warnanya sudah mulai menyerah pada cuaca. Rasanya asing, seolah aku sedang menyamar menjadi orang lain, bukan Citra si tukang cuci yang biasa duduk di balik meja kasir.
Sepanjang perjalanan menuju
kota sebelah, angin terasa lebih tajam menembus pori-pori. Aku melewati deretan
pohon mahoni yang meranggas di sepanjang jalur provinsi. Di jok belakang, aku
mengikat sebuah tas plastik berisi bika ambon kesukaan Dina yang kubeli di
pasar subuh tadi masih hangat, sedikit berminyak, dan beraroma pandan. Setiap
kilometer yang terlewati terasa seperti hitung mundur yang melelahkan. Aku
melewati kafe-kafe estetik dengan jajaran motor anak muda di depannya. Aku
melihat mahasiswa-mahasiswi yang berjalan berkelompok sambil tertawa.
Aku berhenti di depan pagar kosan Dina pukul
sembilan lewat sedikit. Cat pagarnya sudah banyak yang mengelupas, tapi tanaman
lidah mertua di depannya tampak terawat. Aku mematikan mesin motor, membiarkan
helm tetap terpasang, dan memilih berdiri di bawah pohon kersen yang rindang.
Aku ingin menjadi bayangan sejenak. Aku ingin menenangkan jantungku yang mendadak
berdegup jauh lebih kencang daripada suara mesin pengering di ruko.
Tak lama, pintu kamar di lantai
bawah terbuka. Seorang gadis keluar membawa keranjang cucian plastik—ironi yang
hampir membuatku tersenyum pahit. Itu Dina. Dia memakai kaos kebesaran yang
tampak nyaman dan celana pendek rumahan. Langkahnya santai, tapi kepalanya
menunduk, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Aku melepaskan helm, membiarkan rambutku yang
berantakan diterpa angin. "Dina?"
Gadis itu mendongak.
Langkahnya terhenti seketika. Matanya yang tadinya layu tiba-tiba membelalak
lebar. Keranjang cucian yang dia pegang hampir saja merosot kalau dia tidak
segera memeluknya kuat-kuat.
"Kak... Citra?"
suaranya parau, nyaris tidak terdengar.
Aku melangkah mendekat, dan
saat itulah aku benar-benar melihatnya. Bukan lewat
kamera depan yang sering kali menipu dengan filter, tapi wajah aslinya di bawah
sinar matahari pagi. Dina sudah banyak berubah. Pipinya sudah tidak sekabul
dulu, ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan dia sering
begadang mengejar tugas. Tapi di balik kelelahannya, wajah itu tetap bersih.
Dia masih 'Dina'-ku yang rajin.
Melihat wajah itu secara
nyata, aku mendadak merasa bodoh karena selama ini hanya mengirimkan saldo
bank. Ada garis-garis kedewasaan yang tumbuh di wajahnya tanpa kehadiranku. Aku
merasa seperti pencuri yang baru saja melihat kembali barang berharga yang
kutinggalkan terlalu lama.
"Kak Citra kok... kok
nggak bilang-bilang?" Dina menghambur ke arahku, mengabaikan keranjang
cuciannya yang kini tergeletak di teras.
Saat dia memelukku, bau
matahari dan sedikit aroma sabun mandi menyeruak. Di detik itu, aku tersadar
bahwa rindu bukan hanya tentang kata-kata di pesan singkat. Rindu adalah berat
tubuhnya yang bersandar padaku, dan hangat napasnya yang menyentuh bahuku.
"Kakak cuma kangen, Din," bisikku pelan. Aku memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa sempat kucegah. "Kakak cuma pengen liat kamu sebentar."
Kami duduk lesehan di lantai kosannya yang sempit
namun rapi. Aroma bika ambon yang masih hangat memenuhi ruangan, bercampur
dengan bau kertas tugas dan buku-buku yang tertumpuk di sudut. Dina makan
dengan lahap, sesekali menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, persis
seperti saat dia masih kecil dulu.
"Kakak beneran nggak
apa-apa? Kok tiba-tiba muncul di depan pintu?" tanya Dina sambil
mengunyah. Matanya menyipit, seolah sedang mencari jawaban di wajahku.
"Nggak apa-apa, Din. Kakak cuma... kepikiran aja," jawabku jujur. "Kemarin chat kamu singkat banget. Terus, Kakak lihat status kamu cuma titik doang. Kakak pikir ada masalah gede."
Dina tertegun sejenak, lalu
tiba-tiba dia meledak dalam tawa sampai hampir tersedak.
"Ya ampun, Kak! Itu tuh gara-gara aku habis putus sama si Bagas! Kakak ingat kan cowok yang pernah aku ceritain itu? Yang gayanya selangit tapi ternyata kelakuannya zonk!"
Aku terdiam sejenak, lalu ikut tertawa. Rasa sesak di dadaku perlahan menguap, berganti dengan rasa geli yang meringankan beban.
"Ya mana Kakak tahu, Din. Kakak sudah mikir
yang macam-macam, takut kamu depresi karena kuliah atau gimana."
"Ih, Kakak mah kejauhan
mikirnya," Dina menyenggol bahuku pelan. "Aku mah kalau galau paling
cuma hapus foto, ganti status jadi titik, terus tidur seharian. Habis itu ya
makan banyak lagi kayak sekarang, hehe."
Aku menatapnya dalam-dalam,
mensyukuri binar matanya yang masih sama. "Syukurlah kalau cuma gara-gara
cowok."
Tawa Dina mendadak surut. Dia membalas tatapanku,
lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Kak... makasih ya sudah mau datang. Aku tahu Kakak
sibuk banget kerja di sana. Tapi jujur, aku juga kangen disamperin Kakak kayak
gini. Bukan cuma ditanya butuh uang berapa lewat telepon."
Kalimat itu menghantamku lebih
keras dari kelelahan mana pun yang pernah kurasakan. Aku hanya bisa mengangguk
pelan, menyembunyikan wajah di balik gelas plastik air mineral agar dia tidak
melihat mataku yang mulai memanas.
"Oiya, Kakak mau ke
tempat Rendi habis ini?" tanya Dina tiba-tiba, memecah keheningan.
"Iya. Kenapa? Kamu tahu
kabar dia?"
Dina menggeleng, raut wajahnya
berubah sedikit ragu.
"Terakhir dia ke sini dua minggu lalu.
Orangnya makin tertutup, Kak. Kayak lagi banyak pikiran, tapi tiap ditanya
bilangnya 'aman' terus. Kakak hati-hati ya, Rendi kan kalau pusing nggak pernah
mau cerita."
Aku terdiam. Tawa yang sempat
menghidupkan ruangan ini seolah tersedot kembali ke dalam sunyi. Perasaan lega
karena melihat Dina baik-baik saja memang menyuntikkan sedikit ketenangan,
namun peringatannya tentang Rendi justru membuat firasat buruk itu kembali
berdenyut, lebih tajam dari sebelumnya.
~
Aku melirik jam di dinding kosannya. Masih terlalu
pagi untuk mengakhiri pertemuan ini.
"Hari ini kamu ada jadwal kuliah nggak, Din?"
Dina menggeleng antusias sambil membereskan plastik bika ambon.
"Kosong, Kak! Dosennya lagi ada seminar di luar kota. Kenapa? Kakak mau aku temenin jalan-jalan?"
Aku tersenyum, sesuatu yang jarang kulakukan dengan lepas belakangan ini.
"Iya. Mumpung Kakak di sini. Kita jalan-jalan
bentar yuk? Cari makan siang atau apa gitu."
Wajah Dina langsung cerah. Kami
pun menghabiskan siang itu dengan sederhana. Berboncengan di atas motor tuaku,
membelah jalanan kota yang panas, makan bakso di pinggir jalan, sampai sekadar
duduk di taman kota melihat orang-orang lewat. Untuk beberapa jam, aku lupa
soal tumpukan cucian, lupa soal tagihan listrik ruko, dan lupa soal rasa lelah
yang biasanya menempel di pundak.
Namun, setiap kali aku merogoh
ponsel di saku, layarnya tetap bisu. Chat terakhirku ke Rendi masih menunjukkan
tanda centang dua abu-abu. Belum dibaca.
"Rendi belum bales ya, Kak?" tanya Dina saat kami duduk di bangku taman, dia sepertinya sadar aku terus-menerus mengecek ponsel.
"Belum. Biasanya jam segini dia sudah balas," gumamku.
Dina terdiam sebentar, lalu mengusulkan ide.
"Biasanya Rendi itu baru benar-benar santai
kalau malam, Kak. Kalau sore gini mungkin dia lagi ada urusan organisasi atau
ngerjain tugas di perpus. Gimana kalau kita ke sana habis magrib aja? Biar
pasti ada di kontrakannya."
Aku menimbang sejenak. Ada benarnya juga. Datang tiba-tiba di siang hari mungkin malah akan mengganggu jadwal kuliahnya—atau lebih buruk, aku tidak akan menemukannya di sana.
"Yasudah, kita ke sana
malam saja. Kakak juga mau istirahat bentar di kosan kamu boleh, kan?"
"Boleh banget, Kak! Kakak
tidur aja dulu, nanti malam kita langsung berangkat bareng ke tempat
Rendi."
Kami pun sepakat. Tapi jauh di
dalam lubuk hatiku, setiap detik yang berlalu menuju malam terasa seperti tarikan
napas yang makin berat. Kenapa Rendi tidak kunjung membalas? Apa yang sedang
dia lakukan sampai tidak sempat menyentuh ponselnya sama sekali?
-BERSAMBUNG-
.png)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar