May the Flowers Bloom

 


May the Flowers Bloom

Hana J

Sekarang pukul empat sore. Padahal kelas terakhirnya berakhir pada pukul dua siang lalu, tapi pemuda dengan rambut gaya buzz cut itu masih berkeliaran di sekitar kampus.

Sekedar kaos putih dipadukan dengan leather jacket kecokelatan, celana straight cut warna senada; mengunyah permen karet yang sudah kehabisan rasa bersamaan dengan conversenya yang melangkah lambat di sekitar gedung FMIPA.

Kakinya terus melangkah hingga ia berada di lantai dua tepat di gedung D kelas 2.4. Terlihat beberapa mahasiswa sepantarannya keluar dari ruangan dengan wajah luar biasa lelah. Ia lanjut bersandar di kolom dekat tangga, menunggu penglihatannya menangkap perawakan gadis yang akrab bagi netra.

"Eh ada anak FISIP!" Sebuah panggilan jenaka berhasil membuat lamunan pemuda itu buyar, lanjut mendapati gadis yang sedari tadi ia tunggu keluar dari ruangan dengan setumpuk buku di tangan. "Udah lama nunggu?" tanya perempuan dengan rambut sebahu itu, yang langsung dibalas dengan anggukan mantap.

"Lumayan lah, seminggu ada kali."

"Halah tai, lagian gua ngga pernah minta dianter jemput, ya!" jawab sang gadis dengan dengusan kesal, sedang yang diomeli hanya tersenyum tengil sambil langsung mengambil alih beban buku di dekapan Sheya.

"Orang mah dibaikin gini tuh bersyukur, ini malah ngumpat ngga jelas. Aneh." tukas Andra cepat mendahului langkah kecil sang gadis.

Sheya terkekeh, ia berlari mengejar ketertinggalan, hingga bunyi sepatunya yang beradu dengan lantai menggema di sepanjang koridor. Yang dikejar tertawa jahil saat menoleh ke belakang dan mendapati Sheya yang kesusahan menghapus jarak dengan kaki pendeknya dan backpack berat di punggung yang memantul seirama.

Ah, Andra mencintai gadis ini. Sangat.

 

Mereka berteman sejak bangku menengah pertama, saat itu keduanya pengurus organisasi intra sekolah dan entah bagaimana menjadi sangat dekat hingga sekarang. Mungkin karena sikap acuhnya yang membuat empat belas tahun Andra, terpikat. Atau mungkin karena gadis ini satu-satunya perempuan seantero sekolah yang terobsesi pada Fall Out Boy sama seperti dirinya. Atau mungkin sesederhana karena dia adalah Sheya, seseorang yang Andra sukai, kagumi, sayangi— sejak awal mengenal.

Dan seonggok Scoopy butut fashion brown yang selama lima tahun ini membersamai perjalanan kedua insan itu kembali dinaiki. Andra mendapatkan SIM dan motor second-handnya saat usianya menginjak tujuh belas. Sejak hari pertama menyetir ia tidak pernah membiarkan Sheya absen dari jok belakang motornya.

Begitu pula dengan Sheya yang diam-diam menyukai setiap afeksi yang ia terima. Gadis itu susah untuk menafsirkan perasaannya, yang pasti Sheya tidak ingin hal yang ada di antara dirinya dan Andra, berubah. Biarkan seperti ini untuk waktu yang sangat amat lama.

Semilir angin membelai wajah keduanya. Dua lengan melingkar di pinggang Andra dengan sebuah dagu bertengger nyaman di punggung sayap kirinya. Rutinitas biasa di antara mereka, namun kali ini membuat Andra sesak bukan main.

"How was your day?" Tanya Andra memecah keheningan.

"Ya gitu deh, i've been daydreaming so much sampe gua ngga tau, apa yang gua pelajarin di kelas."

Andra tersenyum simpul, "or maybe there's just nothing to learn in class. Soalnya gua juga gitu, cuma dengerin temen presentasi, apa coba."

Sheya tertawa menyetujui pendapat pemuda itu, sambil memajukan wajahnya yang membuat Andra dapat mencium cologne woody dari helai rambut gadis itu yang ditiup angin. Lagi-lagi nyeri menyergap di dadanya.

"Lo aneh deh hari ini," ucap Sheya spontan. Entah apa yang membuatnya melontarkan kalimat itu, tapi yang pasti itu terasa benar.

Andra terdiam, memperbaiki kacamatanya yang bahkan tidak miring satu milimeter pun. Tangannya malah berkeringat karena mendengar pernyataan retoris dari sang gadis. Ia gugup.

"Ada yang mau lo omongin ngga sih? Sumpah insting gua ngga pernah salah. Lo keliatan gelisah dari tadi, you acting suspicious, i can tell!"

Andra tersenyum getir. I really can't hide from Sheya, batinnya.

 

Genggaman pada gas melonggar, motor yang mereka tumpangi melambat secara signifikan. Andra menghela napas panjang sebelum akhirnya bilah membuka suara.

"What if I told you this might be the last time kita bisa motoran berdua sambil ngobrol kaya gini?" tutur Andra dengan nada suaranya yang melembut nyaris tidak terdengar.

Sheya menahan napas, untuk beberapa saat hanya suara mesin motor dan hiruk pikuk lalu lintas yang terdengar. Keduanya terdiam. Bagi gadis itu, ini terdengar seperti hujan di bulan Juli; meleset jauh dari prediksi. She didn’t see it coming, but deep down she knew this could happen anytime. And now, the moment’s here.

Sheya tidak menjawab, pelukannya terlepas. Gadis itu menunggu Andra melanjutkan kalimatnya. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menuntut penjelasan.

"Gua tau, gua kaya pencundang brengsek sekarang. Gua bahkan ngga berani buat berenti dan ngajak lo ngomong face to face. I’m scared my feelings will take over. I don’t want to hide in this confusing relationship anymore. Jadi here I am, semoga gapapa gua ngomong sambil nyetir." Andra mengamit tangan kiri Sheya dari belakang punggungnya, menyatukan jemari lalu menggenggamnya seolah takut terlepas.

"I'm only gonna say this once, jadi denger baik-baik, ya?" Sheya mengangguk pelan meskipun pemuda di depannya tidak bisa melihat itu.

"You know you're my favorite, right? Like deadass! I like you as a friend, as a work partner, as a passenger, as a woman..." Andra menarik napas, melembabkan bibirnya sebelum melanjutkan perkatannya. "I like you Shey, a lot. Gua suka banget sama lo, sampe tiap hari dada gua kaya mau meledak, gua pengen teriak ngasih tau elo, ngasih tau semua orang kalo gua suka sama Sheya."

Mendengar itu, Sheya tersenyum simpul, matanya mendadak basah mengetahui dengan jelas bahwa euforia yang ia rasakan saat ini akan berakhir dengan sangat cepat. Ia membalas genggaman Andra, membuat pemuda itu semakin kelu untuk melanjutkan.

"Tapi lo tau kan we're not gonna make it? Keluarga gua nentang abis-abisan soal fenomena orang yang pindah agama cuma gara-gara cinta. They say trying to reconcile religion and love is like mixing two incompatible things. Jarang ada yang berhasil. Dan lo juga tau orang tua gua salah satu contoh yang ngga berhasil."

Ingatan kisah yang pernah Andra ceritakan kepadanya kembali naik ke permukaan. Kalau Sheya tidak salah ingat, ayah dari sahabatnya itu meninggalkan keluarganya tidak lama setelah Andra lahir.

His love for my mom isn't as big as his faith in his religion. He left everything behind.

Sheya masih mengingatnya dengan jelas, raut Andra saat menceritakan itu dengan penuh kekecewaan. Dia, takut menjadi seperti ayahnya.

"Gua tau gua bukan orang yang agamis, tapi gua takut nyakitin keluarga, nyakitin elo Shey —"

"I know," potong Sheya cepat saat suara Andra mulai histeris, ibu jarinya ia gunakan untuk mengelus permukaan tangan pemuda itu pelan; berusaha memberikan ketenangan. Gadis itu ingin Andra tahu bahwa ia tidak masalah akan semua situasi ini dan keputusan yang sudah pemuda itu buat.

"Jadi... No more ayam pak gembus? Gelato? Netlix-an bareng?" Andra menggeleng pelan ke arah kaca spion membuat Sheya bisa dengan jelas melihat penolakan dari pemuda itu.

"Brengsek lo ah, gua juga udah sayang sama lo taiiii! Kita ngga pernah pacaran tapi gua berasa diputusin anjing," Sheya tertawa sengau dengan suaranya yang meninggi, terlihat kesal meskipun ikatan jemari keduanya tidak berniat ia lepas.

"Gua jadi ngga bisa suka sama cewek lain kalo deket sama lo mulu, tompel. Gua kaya dipelet, gua terjebak delusi kalo gua sama lo bakal ada jalannya. Tapi makin ke sini gua makin pesimis," Andra memberi jeda. "Bayangin tujuh tahun gua nunggu perasaan gua ilang, atau mungkin makin besar biar sekalian gua berani nembak lo dan berani nentang keluarga gua dan keluarga lo. Tapi buktinya apa, gua bahkan ga berani buat mulai."

"YA EMANG LO DOANG YANG TERSIKSA!" Satu jitakan keras mendarat ke helm Andra sebagai bukti kekesalan cewek di belakangnya. "Perlu banget apa ngecut off gua gini?"

"Let's just give each other some space, yeah?"

Dan dengan jawaban Andra, keduanya menutup perbincangan mereka selama sisa perjalanan. Rute yang biasanya memakan waktu sekitar 20 menit dan selalu membuat Sheya mengeluh soal jarak rumahnya yang jauh, kini terasa sangat dekat. Karena Sheya tak mau cepat berpisah, ia berharap rumahnya di seberang pulau agar sahabatnya itu bisa di dekatnya lebih lama.

Because she knew once she got off, their relationship wouldn't be the same again.

Maka saat motor itu berhasil mengantarkan keduanya di depan pos perumahan, Sheya menolak untuk turun dan Andra menolak untuk mematikan mesin motornya. Keduanya berdiam di posisi yang sama tepat di bawah palang pintu masuk komplek.

Sebelum akhirnya Andra melepas ikatan tangan mereka, menurunkan standar motor dan berbalik menatap Sheya, ia berusaha melepas helm yang bertengger di kepala perempuan itu. Rambutnya yang acak-acakan dia rapikan dengan jemari, membuat sang empu nyaris menangis.

"Shey, lo harus tau, lo pantes dapet seseorang yang lebih besar sayangnya dibanding gua. Lo sadar kan, kalo emang rasa sayang gua ke elo sebesar itu, pasti gua udah dari SMA berani nganter lo tepat di depan rumah, sokab sama nyokap lo meskipun ntar gua dijutekin pasti gua ga bakal nyerah. Tapi buktinya gua sampe sekarang ga berani, Shey."

Tangisan Sheya pecah ia meraih telapak tangan Andra yang sedang menghapus pelan jejak air matanya di pipi. Perpisahan mereka semakin nyata.

"Lo juga Ndra, meskipun lo pasti ngga dapet cewek yang lebih baik dari gua, tapi yang penting seiman," canda Sheya yang langsung dibalas kekehan getir dari lawan bicara. "You light up my world," lanjutnya.

Andra menatapnya nanar, memandang wajah gadis yang ia sayangi selama tujuh tahun terakhir dengan saksama. Matanya yang sayu, hidung bangirnya yang sekarang basah, bekas jerawat di pipi, bibirnya yang memerah acap kali menangis. Andra menyukai semuanya. Semuanya.

"But, we're not meant for each other..."

Dan begitulah keduanya selesai bahkan saat belum memulai. Seseorang yang pastinya akan sulit untuk Sheya jelaskan kepada anak-anaknya nanti. Sebuah anomali yang normal di kemajuan dunia, ketika mereka lebih dari teman, tapi dibilang kekasih pun bukan.

"Hope your flowers bloom in the right place, right time, right person."

"Yours too. May the flowers bloom."

Komentar

Postingan Populer