TAK ANEH | BAG III
TAK ANEH BAG 3
Karya : Ilham Ramadhan
BRAAKK!!!! Aku memukul meja dengan keras, meluapkan amarahku saat mendengar semua cerita yang disampaikan Fahri, bersamaan dengan ibu penjual kopi yang agak terkejut mendengar gebrakan meja.
"Jadi si keparat itu dalangnya...?!" Tanyaku dengan nada tinggi.
"Iya, Rud. Semuanya dimulai dari sebuah rencana yang disampaikan Pak Joni setelah dia mengetahui bahwa toko kita dulu hampir bangkrut." Fahri menjelaskan dengan gestur tak nyaman.
"Pokok utama dari drama Pak Joni adalah pengurangan karyawan tanpa mengeluarkan pesangon, Rud." Tambahnya.
Rasa penasaranku semakin membuncah setelah kata-kata tambahan darinya. Hingga tanpa sadar, lisanku mengucap "Hah? Serius kamu??"
"Iya, Rud. Serius. Tapi karena regulasi kesejahteraan pekerja itu tidak boleh langsung memecat karyawan tanpa alasan, maka Pak Joni menyuruhku untuk memainkan sebuah drama dan memfitnahmu. Dengan bubuhan janji dari Pak Joni bahwa kalau aku berhasil memalsukan laporan keuangan dan memfitnah bahwa kamu yang melakukannya, maka aku akan diangkat menjadi admin gudang menggantikanmu." Fahri mulai membuka sebuah kenyataan.
"Kalian berdua sama-sama kurang ajar." jawabku sambil tersenyum sinis memandang ke arah gelas kopi yang makin sedikit isinya.
"Tapi tidak hanya itu yang dijanjikannya, Rud. Pak Joni juga menjanjikanku sejumlah uang cash pada saat itu. Kamu mengerti kan, saat itu hutangku dimana-mana, itu semua belum terhitung kewajiban mengirim uang ke keluargaku di kampung." Jelasnya sedikit memelas.
"Tapi aku bingung, kenapa kamu sampai hati menggadaikan persahabatan kita hanya demi uang?" Tanyaku heran.
"Mungkin bagimu sebatas kata 'hanya', tapi bagiku itu sangatlah bermanfaat dan jujur saja, itu semua bisa membantuku untuk menyelesaikan semua masalahku, terutama tentang finansial." Jawabnya pelan.
"Tidak pantas kamu mengucapkan kata bermanfaat jika cara mendapatkannya seperti itu, Ri." Tegasku.
"Mungkin kamu juga merasa bahwa drama waktu itu sempat tidak berjalan mulus. Aku pun sempat beberapa kali menemui Pak Joni di ruangannya. Membahas berbagai rencana yang sudah dan akan kami jalankan. Pak Joni sempat ketar ketir ketika dia tahu bahwa kamu mulai merasakan sesuatu yang aneh, karena dia paham bahwa kamu adalah orang yang sangat cermat dan teliti. Jadi dia sangat takut ini semua terbongkar sebelum kamu pergi dari toko kita dulu."
Belum sempat aku melanjutkan amarahku yang kian membesar, Fahri melanjutkan
"Nasib Pak Joni saat itu sudah di ujung tanduk, karena dia makin paham bahwa kamu sudah mencium adanya niat busuk untuk dirimu. Maka Pak Joni segera menyuruhmu untuk mengemasi barang-barang milikmu tanpa keabsahan bukti yang sampai saat ini masih abu-abu."
Aku menyajikan irisan senyum tipis di ujung bibir sembari menghela nafas yang sangat dalam. Sekejap aku melirik gelas yang saat ini sudah kosong, sebelum aku kembali melihat Fahri dan berkata
"Lalu..? Sekarang..? Apa yang dijanjikannya ke kamu sudah kamu rasakan toh? Kenapa saat ini kamu tidak lagi bekerja disana?"
"Naaah, ini Rud." Jawabnya. Disusul diriku yang mengangkat sebelah alis mataku.
"Singkat cerita, setelah kamu pergi dari toko itu, hari demi hari aku tidak pernah mendapatkan apa yang dijanjikan Pak Joni kepadaku. Aku tidak pernah diangkat menjadi penggantimu disana, sampai aku keluar dari toko itu, aku tetap saja menjadi karyawan biasa yang selalu mengangkut barang masuk, tak berbeda dari yang sudah ada." Lengkapnya.
"Sebentar, sebenarnya aku masih ada pertanyaan yang dari awal mau ku tanyakan padamu." Aku mencoba mengusir rasa penasaranku bersama dengan siku yang saat ini kutaruh di meja. Aku melanjutkan
"Jadi apa yang membuatmu keluar dari toko itu? Padahal kamu kan sudah berhasil menyingkirkanku"
"Begini, Rud. Suatu hari, ketika aku sedang fokus bekerja, aku dipanggil menghadap Pak Joni. Di ruangannya, aku langsung ditodong dengan tuduhan bahwa aku telah menyelundupkan barang di bawah standar ke toko. Sejujurnya aku tahu bahwa hari itu pasti akan terjadi, karena aku sudah sangat paham bahwa aku difitnah, dan sudah terlalu lelah berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa, maka aku segera keluar dari toko kita dulu."
Disinilah bagian klimaksnya, ternyata teman seperjuanganku dalam membangun karir di kota orang ini juga menemui jalan terjal, aku sangat kasihan dengannya karena aku tahu sekali rasanya difitnah itu seperti apa. Tapi di sisi lain, aku sangat ingin tertawa, ternyata usahanya selama ini tidak membuahkan apa-apa. Tapi semua tawa itu kembali berbagi panggung dengan rasa sedih dan kasihan dengan temanku ini, sampai pada akhirnya...
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA." Fahri tertawa dengan keras, aku melihat ada sedikit air di ujung matanya.
"Ternyata hidup memang sangat liar ya, Rud. Orang-orang rela berperilaku sebagai hewan, hanya demi uang, pangkat dan jabatan." Dia menarik benang merah dari kisah toko itu. Aku sempat membersamainya dalam tertawa kecil, sebelum ku tambahkan
"Memang, Ri. Semua manusia akan berubah dan seolah transparan, jika dia sedang berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku minta maaf ya, Ri, sudah membencimu. Kalau saja kamu tidak cerita kepadaku hari ini, mungkin rasa sayang kepada sahabatku ini masih akan tertutup oleh rasa benci yang tak bertepi." Tutup ku. Disambut oleh kepalan tangan yang hangat darinya.
Kami menikmati keindahan gedung-gedung tinggi kota, sembari sama-sama tersadar bahwa setiap anomali duniawi mungkin kini sudah tak aneh lagi.
~
.jpg)

Komentar
Posting Komentar