ENDLESS

Semesta itu luas. Tanpa Batas. 


Karena itu Malik tidak akan pernah bisa mengarunginya sendiri. Sampai kapan pun, ia tidak akan sanggup. Mungkin itu alasannya, kenapa saat ia ditawari lembaran kecil untuk ditempelkan ke lidahnya, Malik setuju. Tak lama, mahasiswa tingkat akhir itu melayang menjelajah galaksi.

 

Tidak dipaksa, Malik memang suka sensasinya. Cowok dengan rambut sedikit kecokelatan itu, percaya, bahwa penelitian akhir miliknya akan bisa selesai selama ia mengonsumsi barang tersebut. 


Namun, Malik salah.

 

"Sejak kapan?" Suara paruh baya itu bergetar, membuat yang ditanya menunduk, menyembunyikan kerlipan sesal di ujung matanya. 


"Baru satu tahun ini, Ma." 


Menelan salivanya berat, sang mama tak percaya, "kamu cuma pake LSD?" 


Yang ditanya menggeleng, lama terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan suara amat pelan, "LSD yang pertama, setelahnya pernah meth, ekstasi, alkohol." 


Ucapan lugas Malik membuat mama melepaskan tangisan yang sedari tadi berusaha ia tahan. Anak bungsunya total berbeda, benar-benar sulit untuk dikenali. 


"Kenapa Mal?" isak mama. "Kenapa tega nyakitin diri kamu sendiri? Nyakitin mama?" 


Tangis Malik pecah, ia sendiri tidak tahu semua ini bermula dari mana. Muda berpendidikan sepertinya, yang tahu dengan pasti bahayanya, bisa terjerumus narkotika. 


Tidak ada yang mengundang, sekedar ajakan basa basi yang entah kenapa terdengar seperti jalan keluar bagi Malik yang bahkan tidak punya masalah. Malik cuma mencoba, kilahnya. 


Malik menggeleng ia terus menangis sambil mengamit tangan mamanya. Berusaha menenangkan padahal sendirinya histeris. Mama melempar genggaman Malik, mendekatkan kursinya ke ujung ranjang di mana Malik sedang duduk. Dengan wajah merah padam. 


"Kamu nangis karena menyesal atau karena ketauan jadi pencandu Malik?!!" ujar Mama geram ingin menampar anaknya berkali-kali dengan harapan bisa menyadarkannya. Namun hatinya tak kuasa. Bagaimana pun juga, Malik tetap anak laki-laki kecil di mata sang mama.


"Aku ga tau, Ma! Aku cuma merasa lebih hidup kalo pakai itu semua!" Teriak Malik sambil meremat helai rambutnya frustasi. 


"Jadi, jauh sebelum kenal obat, kamu ga pernah merasa hidup?" 


"Ga Ma, bukan gitu," suara mereka bertabrakan tidak ada yang mau mengalah. "Aku cuma ngerasa lebih bahagia kalo pikiran aku lagi ga sadar." Malik menjeda, memandang sendu tatapan nanar perempuan di depannya. “Aku butuh halusinasinya, biar aku ngerasa cukup sama diri aku sendiri. 


Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisannya terus mengalir membasahi kedua pipinya. Ia hanyalah seorang janda yang ditinggal mati dengan tiga anak laki-laki. Membesarkan dua remaja dengan satu balita tentu bukan hal yang mudah. Berulang kali ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri akibat tekanan ekonomi dan stigma buruk dari masyarakat kepada seorang janda. 


Dirinya tidak pernah dilihat lebih dari seorang wanita yang sedang mencari mangsa para lelaki dengan dompet tebal. Padahal tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya untuk membangun rumah tangga baru meskipun keuangannya tidak kunjung membaik. Pikirnya, selama ia memiliki ketiga anaknya ia akan baik-baik saja. 



Mendengar perkataan Malik barusan cukup untuk membuat mama keluar dari kamar, dengan hati yang terkoyak lebar. Meninggalkan ketiga saudara itu di kamar yang kini terdiam. 


Sang sulung, Hakim menatap berang pada Malik, “Lo beneran bangsat, Mal. Kita semua tau gimana susahnya Mama besarin kita bertiga sendirian tanpa bantuan keluarga, apa lagi orang lain. Lo masih bisa bilang ga bahagia?” 


“Gua emang ga bahagia, Mas! Ngeliat lo berdua udah pada sukses bikin gua tertekan.” 


“Terus solusinya narkoba? Mama ga pernah beda-bedain kita bertiga. Kalo gua sama Hafid bisa nyelesain kuliah dan dapet kerja sedangkan elo ga bisa,” Hakim menjeda, “berarti masalahnya bukan dari cara mendidik Mama, tapi dari elo sendiri, Mal.” 


Malik terdiam, rahangnya mengeras. Kesal bukan main, tapi di dalam hatinya, ia sadar bahwa perkataan saudaranya jauh dari salah. Tidak ada pembenaran untuk perbuatannya, bahkan jika Malik memang menderita, narkoba bukanlah solusi. Iya, Malik terlampau sadar.


“Pecandu kaya lo cuma pecundang yang nyari pelarian, padahal lo sadar masalah lo ga bakal kelar dengan lo ngisepin barang itu. Lo perlu ilusinya, biar lo ga perlu berusaha buat memperbaiki hal-hal yang salah di hidup lo secara nyata.” Hafid melempar kotak perhiasan ke arah Malik. “Lo balik ke rumah cuma mau maling perhiasan Mama kan? Sana lo bawa sampe mati, lo beliin sabu sampe lo kenyang. Gua ga sudi lagi ngerangkul orang yang ga mau dirangkul.”


Hakim melanjutkan, “jangan pernah temui Mama lagi kalo lo masih relapse dan belom sober,” Hakim melangkah keluar kamar sebelum berbalik dan kembali berpesan, “inget Mal, kalo lo mau sembuh, gua ada di sini. Tapi kalo lo milih obat-obatan, penderitaan lo ga bakal berhenti. Ga bakal ada ujungnya. Endless.”


Malam itu Malik kembali ke tempat di mana Malik merasa ‘diterima’. Ia rindu perasaan sama buruknya dengan orang-orang di sekitarnya. Dan benar saja, malam itu Malik kembali teler, menghisap serbuk putih itu rakus dengan gelinting kertas brosur yang ia temukan di jalan. Meracau mengutuk Hakim yang sudah membuatnya tampak seperti orang gila yang mencari ujung masalah dengan melayang. Padahal Malik sendiri telah menemukan ujung masalahnya, setidaknya untuk malam ini, selagi obatnya masih ada. Semua masalah akan lenyap, selama Malik tidak keluar dari lingkaran ini.

Komentar

Postingan Populer