PERSEMBAHAN
Persembahan
Oleh: Irhan Aja
Bagian
1
Angin
malam yang berhembus, berusaha mengusir hangatnya suhu tubuh ku yang tengah
asik menuliskan berbagai ingatan dan cerita perjalanan hidup yang penuh dengan
dinamika suka dan duka, satu hal yang sangat ku ingat ialah kisah perjalanan
seorang laki-laki yang sangat gigih tanpa mengharapkan balasan dari apa yang ia
usahakan, mungkin kalian mengira ini adalah kisah tentang seorang laki-laki
yang gigih dalam mengejar cita-citanya, namun kisah itu masih terlalu terjauh
untuk pemuda yang di anggap sebagai kutu buku di Kampusnya, bahkan banyak yang
menganggap laki-laki ini tidak dapat sedikit pun ini di andalkan. Namun kisah
ini lebih tepat bila di sebut sebagai kisah Pengorbanan dan perjuangan
laki-laki dalam mengejar cinta, dengan cara yang mungkin tidak akan pernah
terpikirkan oleh seorang pun di luar sana, akan ku mulai kisah ini dengan
mengingat kenanganku dua (2) tahun yang lalu.
“Bu….,
Ibu……!”
“Iya
nak, ada apa?”
“Ibu
liat, kue yang udah aku sisain di kulkas ngak?”
“Oh
kue yang tinggal sepotong itu, udah di makan adek mu tadi”
“Ih
kok di biarin sih ibu, itu kan buat sarapan khusus ku, sebelum berangkat ke
kampus”
“Ini
kan ibu udah siapin nasi goreng nak, lagian aneh masa sarapan pake sepotong
kecil kue bolu, nanti yang ada kamu lemes”
“Oke
deh, makan nasi goreng aja, besok larang adek iya bu, itukan kue bolu paling
enak di kampus, walaupun aku makan cuma sepotong tapi bakal ngebuat aku kuat
seharian, hehehee….!”
“Iya
deh, besok-besok ibu larang kalo adekmu mau makan kue bolunya”
Ibu
menjawab celetukanku tersebut dengan sedikit senyuman dan ia berjanji untuk melarang
adikku memakan kue bolu yang memang selalu ku simpan di kulkas, kue bolu itu
memang sangat enak sekali, menurutku sih, jadi terkadang aku beli lebih banyak
dari biasanya dan ku simpan di dalam kulkas untuk di makan paginya.
“Adek
udah berangkat ya bu?”
Pertanyaan
ini muncul ini sebab, tidak biasanya, adik laki-laki ku sudah berangkat ke sekolah
padahal ia sering sekali terlambat berangkat ke sekolah.
“Iya
Nis, adek mu udah berangkat tadi, adek mu bilang makan sepotong bolu yang di
simpen kak Nisa udah cukup buat kenyang seharian, mirip banget sama yang kamu
bilang tadi”
“Hahahaha…,
masa sih bu, dia juga bilang gitu”
“Iya
Nis, Sumpah deh, Suwerrrr”
Tawa
ku lepas, seketila ibu menunjukan pose dua jari sambil mengatakan Suwer.
“Heheheee…,
iya deh percaya sama ibu aku, yang paling berani kalo udah sumpah”
“Iya
dong, yaudah kamu udah selesaikan sarapannya, cepet gih berangkat nanti
terlambat lagi”
“Tega
banget ngusir anaknya, becanda ya ibu aku…”
“Astaghfirullah,
Nisa gak boleh becanda kayak gitu lagi yaa”
“Iya
ibu aku tersayang, yaudah Nisa berangkat ya bu” sambil ku cium tangan ibu.
“Iya
nak, jangan lupa pintu depan di tutup yaa”
“Siap ibu Komandan” dengan posisi hormat menghadap ibu.
###
Itu
adalah sedikit gambaran kehidupan ku dua tahun yang lalu, saat itu aku seorang mahasiswi
semester lima (5) di Lampung, oh ya ini memang kisah ku, namun dalam kisah ini
ada seorang mahasiswa yang juga menjadi karakter penting dan ia paling berarti
dalam hidup ku hingga saat ini, saat ku ingat Kembali sosoknya, hati ku mulai
terhanyut akan kenangan yang begitu berarti yang akhirnya dapat mengubah jalan
hidupku.
Sesampainya
di kampus, saat sedang asyiknya menikmati suasana di sekeliling, jantungku
seakan terbang bahkan hampir tubuhku juga terjungkir.
“Nisaaa…!,
Selamat Pagi…!”
“Ya
Allah, Kunyuk dari mana iniii….!”
“Teganya
aku di bilang kunyuk sama Nissaa” dengan nada sedihnya ia menjawab celotehan
tajamku
“Ya…
iya lah, kalo mau nyapa jangan pake ngagetin segala, kalo aku mati gimana?”
balasku juga dengan nada yang jengkel
“Iya
aku salah Nisaa, Maaf yaa”
“Iya…!,
yaudah aku masuk dulu ke kelas, jangan ikutin aku pokoknya” tegasku kepada mahasiswa
laki-laki itu.
Suasana
hati yang tadinya sangat cerah, seketika menjadi mendung berpetir, tak
terpikirkan bila Kembali ada yang mengagetkan ku seperti Laki-laki tidak jelas
tadi, pasti akan langsung ku tonjok wajahnya, oh iya lupa sampaikan mahasiswa
Laki-laki yang tadi mengangetkanku adalah Yusuf Fajar, ia di kenal sebagai
Mahasiswa kutu buku, ia kerap membahas sejarah pada setiap orang yang ia ajak
bicara, dan satu lagi ia sudah enam (6) kali menyatakan perasaannya kepada ku, saat
awal-awal ia mendekatiku, aku masih dapat membalasnya dengan sikap ramah, namun
lama-kelamaan ia mulai melunjak, dan menganggap bahwa kami telah berpacaran,
dan benar saja, telah banyak Mahasiswa lain yang mengira bahwa kami memang
berpacaran, sejak saat itulah aku sangat mengutuk laki-laki tidak jelas itu.
“Ciee.......!”
Tiba-tiba
di tengah Lorong kampus Hampir semua mahasiswa yang berada di Lorong ini
mengatakatan kalimat yang paling tidak suka ku dengar, sepertinya mereka memang
ingin mendapat piring cantik dari seorang Nisa Putri (gumamku), di saat aku
ingin menanyai ada apa sebenarnya, ternyata benar seperi dugaan ku.
Laki-laki
tidak jelas, yang memakai kaca mata bulat, dengan rambut tebal yang di tata rapi,
telah berada di hadapan ku, dengan posisi merendah sambil memegang bunga, namun
sebelum mulutnya mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan kepada ku, tanpa sedikit
pun menahan diri.
“Kunyukk,
sialannn….!”
Pakkkkkkkk!,
langsung ku layangkan pukulan yang ku tahan sedari pagi, seketika semua orang
yang berada di sana terdiam dan Kembali ke aktifitas masing-masing.
“Aduhhhh!,
Sakit banget, Nisssa kok kamu tega banget” Sambil memegang hidungnya yang
mimisan karena terkena pukulan ku
“Kelakuanmu
itu, bener-bener bikin malu,norak banget....!”
Tanpa
membalas sedikit pun ucapanku yang tajam, Yusuf beranjak dari lantai tempatnya
tersungkur, dengan sedikit menundukan kepala ia berjalan pelan menuju kotak
sampah, dan tanpa sedikit pun mengucapkan kalimat di buangnya bunga tersebut, siapa
pun yang berada di tempat itu tidak bersuara semuanya masih tertuju menatap
yusuf yang pergi menghilang di telan banyaknya dinding kampus.
“Penolakan
bukan akhir dari perjuangan, namun perjuangan akan semakin kuat bila adan
penolakan, Perjuangan ini masih berlanjut”
-Irhan
Aja-
.jpg)

Komentar
Posting Komentar