DUSUN JANGKUNG | BAG III
Dusun Jangkung (Bagian
3)
Cerita ini adalah fiksi yang dikembangkan dari peristiwa nyata. Nama
tokoh dan lokasi disamarkan untuk menjaga privasi dan kenyamanan bersama.
Malam tiba.
Sesuai dugaan, rintik yang tak kunjung reda. Amar terbaring gelisah di tempat
tidurnya. Sudah malam kedua sejak ia datang ke desa ini namun belum saja merasa
nyaman. Amar tidak memiliki tempat lain selain rumah ini, ditambah Ibunya yang
tiba-tiba pergi entah kemana. Jangan tanya, Amar sendiri khawatir setengah
mati, tapi dirinya sendiri mati kutu tanpa Ibunya, ia tak tahu harus bagaimana
saat keluarganya secara terang-terangan mengatakan semua terkendali. Alhasil
Amar tetap di perannya menjadi cucu yang baik; tinggal dan mengurus Mbahnya.
Pun Ajeng dan Iru membuat pernyataan yang
menyudutkannya mengenai kejadian misterius yang dialaminya semalam. Meski apa
yang Amar alami terasa tidak masuk akal, ia yakin itu bukanlah sekadar mimpi.
Oleh karena itu, malam ini Amar telah memutuskan untuk mengikuti saran Ajeng;
ia akan menghadapi sosok misterius itu dan mencari tahu apakah pengalaman yang
ia alami nyata atau hanya imajinasinya semata.
Berbeda dengan malam sebelumnya, Amar tidak lagi tidur
di kamar yang sama dengan Mbahnya. Ia tak ingin mengambil risiko Mbahnya
berperilaku aneh seperti sebelumnya. Kali ini, Amar tidur sendirian di kamar
seberang dari kamar utama. Ia mematikan lampu agar lebih mudah tidur dan juga
untuk memantau, karena cahaya dari luar akan masuk melalui celah pintu dan
membangunkannya jika ada yang mencoba masuk. Amar juga tidak lupa
menyembunyikan benda tajam di bawah bantalnya, sebagai tindakan pencegahan
Akhirnya, Amar tertidur. Entah bagaimana tapi yang
pasti ia mampu melupakan kegelisahannya dan terlelap. Namun, seperti déjà vu,
ia tiba-tiba terbangun dan melihat jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi.
Sial, kejadian ini sama persis dengan yang dialaminya semalam. Amar berusaha
keras untuk tidak mengeluarkan suara apa pun.
Tak lama kemudian, tepat ketika jarum jam menunjukkan
pukul tiga pagi, Amar kembali mendengar suara yang ia gambarkan sebagai desahan
dan hisapan mirip suara angsa. Jantung Amar berdegup kencang. Ia tahu bahwa
kali ini ia akan menghadapi hal yang sama seperti semalam.
Amar memperhatikan tingkah laku sosok Mbahnya itu
melalui celah di dinding kayu, persis seperti yang ia lakukan kemarin. Mbahnya
mengendus, terus mengendus hingga ia merangkak perlahan ke kamar yang amar
tempati.
Amar menggenggam erat pisau yang ada di tangannya.
Satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya adalah membunuh sosok misterius
itu. Jika kata-kata Iru benar, maka setelah sosok itu mati, ia akan terbangun
di dunia nyata. Segalanya akan kembali normal seperti sebelumnya. Dalam
ketegangan yang menghimpit, tiba-tiba Amar mendengar suara serak yang membuat
bulu kuduknya merinding.
“Mestine aku ora pernah mloboni badan tua iki, mergo
karno si tuo bangka iki wani ngalangi aku nganggo ngerebot nyowo pendatang. Yo
harus tak tindas,” desis suara itu dengan nada serak. (Seharusnya aku tidak
pernah memasuki tubuh tua ini, tetapi karena si tua bejat ini berani
menghalangiku untuk merebut nyawa pendatang. Maka, ia harus kutindas)
Amar mendengar dengan seksama, meski kata-kata itu
diucapkan dalam bahasa Jawa, ia bisa memahaminya karena keluarganya sebenarnya
berasal dari keturunan Jawa yang tinggal di Sumatera Selatan.
"Kamu—" Amar terhenti, napasnya tercekat. “Mestine
awakmu yang harus tak jupuk limang taun yang lalu, dudu menuso bejat iki seng
ngalangi aku. Tapi, nyowone bangsat tuo iki ga iso tak jupuk mergo perjajian
sialan itu ARGHHHH!” (Seharusnya kaulah yang kuambil lima tahun yang lalu,
bukan manusia sialan ini yang menghalangiku. Padahal, kalian berdua hanyalah
pendatang busuk. Tapi nyawa si tua ini tidak bisa kuambil karena perjanjian
sialan itu)
Dengan setiap kata yang diucapkan, Amar merasakan
kebingungan dan kepanikan yang semakin melanda dirinya. Apa yang sedang
terjadi? Kenapa sosok itu menargetkannya? Rasa takut dan amarah berkecamuk
dalam dirinya, membuatnya semakin mantap untuk menghadapi sosok itu, siapapun atau
apapun itu.
Terdengar bahwa sosok itu berusaha membuka pintu, Amar
menunggu di belakang pintu. Sesaat sosok itu berhasil mendobrak masuk. Amar,
yang siap menusuknya dengan pisau yang ia pegang, terkejut ketika ia mendengar
suara Mbahnya yang merintih kesakitan.
"Mbah?" seru Amar dengan penuh kebingungan.
"Amar, janganlah bunuh Mbah," ucap Mbah
dengan suara serak. "Mbah seharusnyo lah mati, tapi Mbah nunggu kau balek
kesini, ngorbanke nyawo kau. Itulah satu-satunyo caro yang biso nyelamatke
keturunan Jawo di dusun ini.” (Amar, janganlah membunuh Mbah. Mbah seharusnya
sudah mati, tapi Mbah menunggu kedatanganmu kembali ke dusun ini dan
mengorbankan nyawamu. Itulah satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan
keturunan Jawa di dusun ini.)
Amar terpaku, terperangah di sudut ruangan yang gelap.
Ia berusaha mencerna segala informasi yang baru saja ia dengar, berusaha
memahami situasi yang kompleks. Sesaat kemudian, hening menyelimuti ruangan.
“Jadi, Amar sengajo dibawa balek ke dusun ini untuk
nyelesaike apo yang harusnyo diselesaike limo tahun lalu?” Ucap Amar dengan
suara bergetar yang dibalas anggukan antusias dari Mbah. “Berarti Amar harus
mati biar Mbah biso tenang?” (Jadi, Amar sengaja dibawa kembali ke dusun ini
untuk menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan lima tahun silam? Apakah
Amar harus mati agar Mbah bisa menemukan ketenangan?)
"Iya, iya, iya,” jawabnya menggema.
Amar mengangguk, mengangkat pisau di tangannya,
tampaknya ia akan mengarahkannya ke tubuhnya sendiri. Namun, dalam pergerakan
yang tak terduga, pisau itu tiba-tiba berubah arah dan menghujam leher Mbah
berkali-kali.
“MATI KAU! KAU KIRO AKU DAK TAHU TIPU MUSLIHATMU!”
Amar menusukkan pisau berulang kali, menghasilkan
semburan darah yang mewarnai ruangan dengan nuansa merah yang mencekam. Gemeretak
tulang dan rintihan kesakitan mengisi udara. Namun, seiring waktu berlalu, Amar
mulai merasa bahwa gerakan Mbahnya semakin lemah dan terhenti. Ia menganggap
bahwa Mbahnya telah pergi ke alam yang lain.
Tubuh Amar gemetar ketika ia keluar dari ruangan,
mengamati sekelilingnya; rumah mbah yang dulu dipenuhi oleh kehangatan. Namun
kilatan masa lalu itu tidak mendinginkan emosinya yang terbakar oleh kata-kata
sosok itu yang mengisyaratkan bahwa dirinya sengaja dibawa kembali sebagai
korban. Marah yang membara melanda dirinya, dan dengan cepat ia menyalahkan
keluarganya atas situasi ini. Amar merencanakan untuk mengakhiri nyawa setiap
anggota keluarganya. Rasa dendam yang memenuhi pikirannya menjerumuskan dirinya
ke dalam jurang kegelapan yang mengerikan.
Di bawah langit yang menangis, Amar keluar dan seolah
rencanannya direstui ia melihat keluarganya berdiri melingkar di sekeliling
rumah Mbah. Melihat itu Amar semakin yakin bahwa memang ini semacam ritual yang
sudah mereka siapkan untuk menghabisi Amar. Mereka tampak kebingungan dan
takut, tidak menyadari niat jahat yang tengah dipeluk oleh Amar.
"Bajingan kalian!" seru Amar dengan suara
gemetar, tatapan matanya yang penuh dengan amarah memancarkan ancaman yang tak
terelakkan. "Kalian semua harus nerimo akibat dari perbuatan kalian!
Kalian yang nyebabke semua ini terjadi!"
Tangis dan seruan ketakutan menggema di antara suara
hujan yang memenuhi udara. Anggota keluarga yang terkejut berusaha mencari
pemahaman tentang situasi mengerikan ini.
“NGAPO AMAR MASIH HIDUP? APO INI?!” Teriak Bibinya.
"Ngapo?" desis Amar dengan suara yang penuh
kekecewaan dan duka. “Bajingan!"
"Maafkan kami, Amar," seru Iru dengan suara
gemetar. “Kami cuma berusaha melindungi keluarga kito dan dusun ini."
“Menyelamatkan? Dengan ngorbanke aku?” Mereka terdiam.
Namun, kata-kata mereka hanyalah suara yang terhanyut
di tengah hujan deras bagi Amar. Tanpa pikir panjang mulai mengeksekusi
rencananya. Satu per satu, anggota keluarganya menjadi korban kebencian dan
dendamnya yang tak terbendung. Tindakannya yang mengerikan dan dingin terjadi
di tengah hujan yang semakin deras, menciptakan suasana yang mencekam dan
tragis di lingkungan sekitar.
Ajeng duduk di samping Amar yang terkejut mendengar
cerita yang dia paparkan. Suasana di sekitar mereka terasa tegang, dengan
rintik hujan yang terus membasahi tanah dan menciptakan suasana yang semakin
suram.
Iru hingga Ibu Ajeng tergeletak mengenaskan. Amar
menatap Ajeng dengan pandangan yang penuh kebengisan. Wajahnya mencerminkan
kemarahan dan ketidakpercayaan yang mendalam. Ajeng, yang melihat ekspresi itu,
merasakan ketakutan menggelayut dalam dirinya. Dengan hati yang berdebar, ia
memohon untuk diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Amar, mohon, dengarkan aku," desak Ajeng
dengan suara yang gemetar. Tatapan matanya penuh kecemasan dan rasa takut.
"Aku tahu terlihat mengerikan dan tak termaafkan apa yang telah terjadi.
Tapi, ada alasan yang mendalam di balik semua ini. Biarkan aku menjelaskan,
memberikanmu gambaran yang lebih lengkap."
Amar masih mempertahankan ekspresi kerasnya, tetapi
ada kilatan rasa ingin tahu di matanya. Ia memberikan sedikit ruang untuk Ajeng
menjelaskan dirinya.
Ajeng mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan
dirinya sendiri sebelum melanjutkan. "Buyut kita, nenek moyang keluarga
kita, datang ke dusun ini pada masa program transmigrasi di tahun 1987. Mereka
membawa keluarga besar kita dari Jawa ke Sumatera Selatan untuk membuka kebun PTPN
dan memulai kehidupan baru di sini. Namun, kedatangan suku Jawa ini tidak
disambut dengan baik oleh penduduk lokal. Mereka merasa terancam oleh kehadiran
kita, dan persaingan antar suku pun tak terhindarkan."
Amar menarik nafas panjang, berusaha untuk tetap
tenang saat mendengarkan cerita Ajeng. Hatinya masih penuh dengan kebencian dan
amarah, tetapi dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ajeng melanjutkan, suaranya bergetar dengan ketakutan
yang tak terelakkan. "Perasaan iri hati dan permusuhan antara suku Jawa
dan penduduk lokal semakin memanas. Hingga akhirnya, terjadi pembunuhan antar
suku yang tragis. Orang Jawa menjadi korban serangan, dipaksa meninggalkan
tanah yang sudah menjadi tempat kami tinggal. Tapi, buyut kita tidak menyerah
begitu saja. Mereka bersatu, menggunakan pengetahuan warisan leluhur untuk
melindungi diri dari serangan pribumi. Namun, dalam perjalanan itu, kesalahan
terjadi dan kekuatan gelap yang dikandalkan menjadi kutukan yang tak
terbendung."
Amar, meskipun masih penuh dengan ketidakpercayaan,
merasa tertarik dengan kisah ini. Ia menatap Ajeng dengan tatapan tajam yang
meminta penjelasan lebih lanjut.
Ajeng berusaha menenangkan dirinya sejenak sebelum
melanjutkan. "Orang Jawa memang menggunakan ilmu hitam dan mengandalkan
roh jahat yang bersemayam di Tanjakan Danau Simpuh. Pada awalnya, kami hanya
ingin menegaskan keberadaan kami dan memberikan peringatan bagi mereka yang
ingin melukai kami. Tapi, semuanya berubah ketika roh jahat itu meminta korban
setiap lima tahun sekali. Aku tahu ini terdengar mengerikan, tapi kita
keturunan jawa malah terjebak dalam perjanjian yang gelap."
Amar mendengarkan dengan perasaan campur aduk. Ia
merasa terganggu oleh kegelapan yang menyelimuti cerita ini, tetapi juga
penasaran dengan alasan di balik semua ini, “Kengerian itu dimulai sejak tahun
1987, 1992, 1997, 2002, 2007, dan sekarang tahun 2012."
Amar merasa bulu kuduknya merinding mendengarkan
cerita ini. Ia merenungkan apa yang telah dia alami dan mengapa ia menjadi
sasaran roh jahat tersebut. "Jadi, pada tahun 2007, roh itu memilihku
sebagai tumbal, tetapi Mbah menyelamatkanku dari kebakaran sehingga target
tumbal berpindah ke orang lain. Namun, karena aku telah menjadi target roh itu,
keluarga kita menjadi incaran roh?"
Ajeng mengangguk dengan sedih. "Benar, Amar. Dan
inilah sebabnya sosok yang kita lihat tadi memasuki tubuh Mbah. Awalnya, mereka
ingin membunuhmu malam ini dan melepaskan keluarga kita dari belenggu ini. Oleh
karena itu, aku mendorongmu untuk membunuh sosok itu."
Semuanya mulai jelas, kemarahan amar mulai mereda. Setidaknya
ini sudah berakhir kan, ia sudah membunuh sosok itu. karena bagaimanapun ia
tidak bisa menapik bahwa kejadian yang terjadi di sini tidak lepas dari campur
tangannya.
Amar menatap Ajeng dengan perasaan campur aduk.
"Ajeng, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku?" tanyanya dengan
suara yang penuh kecemasan.
Ajeng menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan
keberanian untuk memberikan penjelasan yang sulit. Suaranya terbata-bata saat
ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.
"Sosok yang memasuki tubuh Mbah adalah bagian
dari rencana yang lebih besar," ungkap Ajeng dengan suara yang gemetar.
"Mbah seharusnya telah meninggal pada tahun lalu, tetapi tubuhnya diisi
oleh sosok jahat itu. Bapak dan Mamak membujuk Ibumu untuk kembali ke dusun
dengan alasan Mbah ingin bertemu denganmu, Amar. Ibumu tak curiga, walaupun ia menyadari
risiko trauma yang bisa muncul padamu. Namun, malam itu saat kau dikejar sosok
itu, Ibumu juga ikut terbangun dan melihat ritual keluarga dan tanpa sengaja terbunuh
saat berusaha memberitahumu.”
Amar merasa pingsan mendengar pengakuan tersebut.
Hatinya terasa hancur oleh kebenaran yang mengejutkan ini. Kilatan amarah itu
kembali lagi, Amar maju amat pelan mendekati Ajeng, membuat sepupunya merangkak
mundur di atas genangan air.
“Kau bilang ini hanya mimpi kan?” Tanya Amar. “Jadi
jika aku bunuh kau disini, toh kau akan masih bisa bangun kapanpun engkau mau.”
Tubuh Ajeng gemetar ketakutan, mencoba untuk
berbicara, tetapi suaranya tercekat oleh kepanikan dan rasa takut yang melanda.
Amar dengan cepat menarik pisau di tangannya dan dalam gerakan yang tiba-tiba,
menghujamkannya sekali ke ulu hati Ajeng, membiarkan pisaunya menancap di sana
dan menyaksikan Ajeng mati perlahan-lahan.
[]
Hujan berhenti, suasana di Desa Jangkung mulai terasa
hidup. Namun warga dihebohkan dengan penemuan pria tenggelam di Danau Simpuh.
Mengambang tanpa luka namun dipenuhi bercak darah.
“Astagfirullah, ini cucunyo Mbah Aya. Aku ingat dari
bekas luko bakar di mukonyo.”
--------------.
.jpg)

Komentar
Posting Komentar