DUSUN JANGKUNG | BAG II

 

Dusun Jangkung

Cerita ini adalah fiksiyang dikembangkan dari peristiwa nyata. Nama tokoh dan lokasi disamarkan untuk menjaga privasi dan kenyamanan bersama.

Penulis : Hana Janatan S

Tengah Malam. Ribut rintik gerimis masih terdengar jelas, tak berhenti bahkan untuk sedetik. Amar heran, padahal Juni identik dengan kemarau, tapi hari ini matahari seolah malas berkilau. Ia kesampingkan pikirannya tentang cuaca, lanjut melirik Ibu dan Mbah yang tertidur pulas di sampingnya, maka Amar turun dari kasur dengan perlahan; takut membangunkan keduanya. Ia berjinjit, sedikit berlari menuju kamar mandi yang terpisah dari rumah, tepatnya di halaman belakang. Keluar rumah setelah bermimpi mengerikan, di tengah gerimis deras, ditambah pada pukul tiga pagi ―jangan ditanya, Amar tentu ketakutan setengah mati. Tapi panggilan alam yang tak tertahankan mengalahkan rasa takut. Anehnya, bahkan setelah urusannya di kamar mandi selesai, tidak terjadi apa-apa, pun suara hewan-hewan yang biasanya mengejutkan Amar tidak terdengar sama sekali. Malam itu sunyi bukan main, hanya tetesan hujan yang terdengar.

Setelah kembali ke dalam rumah, langsung saja Amar melangkah ke kamar utama. Namun saat hampir sampai, sayup-sayup Amar mendengar suara serupa dengan gericau Angsa tapi sangat lamban dan rendah hingga terdengar layaknya desahan atau hisapan yang keras. Kantuknya jadi hilang seketika, Amar rasakan sekujur tubuhnya merinding hebat, jantungnya berdetak kencang karena ia yakin suara itu bukan suara manusia.

Amar menghentikan langkahnya dan memilih berdiri tegak di depan kamar, tepat di samping pintu masuk. Amar memanfaatkan celah sempit antara susunan papan-papan kayu dinding rumah Mbahnya untuk mengintip ke dalam kamar yang gelap. Cahaya samar dari lentera yang redup menyinari ruangan, menciptakan bayangan menakutkan di setiap sudut. Amar terpaku ketika melihat Mbahnya melintasi lantai, seperti hantu yang bergerak tanpa suara.

Dengan gerakan yang lambat, Mbahnya merayap mengelilingi kamar. Setiap sentuhannya diiringi dengan hembusan napas berat yang mengerikan. Amar menahan napasnya saat Mbahnya mulai mengendus setiap sisi kasur dengan penuh antusias, seolah mencari jejak yang tak terlihat.

Mata Amar terbelalak, ia tutup hidung dan mulutnya dengan kedua telapak, berusaha agar hembusan napasnya tak lolos dan masuk ke telinga sosok itu. Ia mulai menangis dalam diam apalagi saat menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda ibunya di dalam kamar itu, meskipun seharusnya dia sedang tidur di sana. Rasa takut melintas di pikiran Amar saat dia mencoba memahami keadaan dan aktivitas mengerikan yang dilakukan oleh Mbahnya di tengah kegelapan tersebut.

Ketika Amar berusaha memastikan sekali lagi apa yang baru saja ia saksikan, ia terperanjat, teriakan yang sedari tadi tertahan sontak terlepas dari mulutnya. Di seberang dinding, dalam celah yang sama, ia lihat mata Mbahnya membulat dengan pupil membesar, memantau setiap gerakan Amar.

“Rupanya njenengan teng riko,” ucap sosok itu dengan suara yang meluncur lambat, disertai seringai mengerikan yang menghiasi wajahnya. (Rupanya kamu di sana).

Amar terhuyung mundur, hatinya berdegup kencang, panik melanda. Tanpa berpikir panjang, Amar berlari sekuat tenaga menuju pintu belakang rumah, berusaha melarikan diri. Namun, tanpa ampun, sosok itu merangkak, mengejarnya dengan cepat, mengikuti setiap langkah Amar.

"Pendatang sialan!" seru sosok tersebut dengan suara serak yang menusuk telinga, meninggalkan jejak ngeri yang sulit dilupakan. Masih merangkak, seolah tak sabar untuk menangkap, membuat Amar sekali lagi menjerit.

Tujuan Amar sekarang adalah rumah Mamang dan Bibinya yang memang masih satu kawasan dengan rumah Mbah. Dalam keadaan basah kuyup, Amar mengetuk pintu keluarganya satu per satu, memohon pertolongan. Namun, Bibi dan Mamangnya hanya mengintipnya dari jendela, tanpa berusaha membantu. Sedang sosok itu semakin dekat saat Amar terus berlari.

"Iruuuu, ini Amar, bukak pintunyo!" teriak Amar sambil memukul pintu dan kaca jendela rumah Bi Atun dengan keras. Tetapi, mereka sekeluarga hanya menatap Amar dari dalam, tanpa menunjukkan reaksi atau berusaha membantu. Amar kebingungan, telapak kakinya terluka parah karena berlari tanpa alas kaki. Amar menangis sejadi-jadinya, menyadari bahwa keluarganya sengaja mengabaikan entah apa alasannya.

Amar merasa terjebak dalam kegelapan, tanpa harapan dan tanpa peluang untuk selamat. Luka-lukanya semakin terasa menyengat dengan air mata yang tak terbendung mengalir di pipinya. Ketika sosok itu hampir mencapainya, tiba-tiba Amar mendengar suara adzan yang memenuhi udara, memecah kesunyian mencekam. Sebelum segalanya berubah menjadi gelap.

 

[]

 

Guncangan pelan di kaki kirinya membuat Amar terbangun dan terduduk dengan terkejut. Ia merasa bingung dan berpikir bahwa mungkin ia sedang berada di suatu tempat yang tak dikenal. Namun, ketika ia melihat sekelilingnya, ia menyadari bahwa hanya ada Iru, Ajeng, dan Mbahnya yang sedang tertidur di sebelahnya. Apakah semua yang terjadi semalam hanya sebuah mimpi?

Dalam kebingungan, Amar mencoba mengumpulkan pikirannya sambil mengusap wajahnya frustrasi. Ia masih dihantui oleh kejadian semalam, bayangan dirinya berjuang tengah hujan sendirian, dan juga sosok misterius serupa Mbah yang menyerangnya. Tak peduli apakah itu mimpi atau kenyataan, Amar merasa seperti tengah kehilangan akal sehatnya.

"Oy ngapo kau, Mar? Mimpi jahat, eh?" tanya Iru dengan nada khawatir, suaranya bergema di dalam kamar yang redup. Sinar mentari pagi lagi-lagi tak menyelinap karena gerimis masih saja mengguyur deras. (Kenapa kamu, Mar? Mimpi buruk, ya?).

 

Amar hanya bisa mengangguk singkat. Lanjut berniat turun dari ranjang dan keluar dari kamar yang membuatnya sesak ini. Namun, saat ia mencoba menginjakkan kakinya ke lantai, seketika rasa sakit merambat dengan cepat ke seluruh kakinya. Ia merasakan sensasi menusuk seperti jarum tajam yang menusuk kulitnya. Ia memeriksa telapak kakinya dengan hati-hati dan terkejut melihat luka-luka yang masih membekas di sana, persis seperti yang ia ingat semalam. Amar semakin yakin bahwa itu bukanlah mimpi semata.

Amar langsung berdiri, melihat sekeliling; ke arah Mbah, Iru, lalu Ajeng berulang kali.  Pikirannya kacau, tubuhnya gemetar. Amar berteriak di hadapan Iru dan Ajeng, suaranya memecah keheningan pagi, “Semalem bukan mimpi, ‘kan? Kamu galo-galo ngeliat, aku dikejar antu mirip Mbah. Tapi kalian ngeliati be, katek niat nak nolongi pilat ini!” (Semalam bukan mimpi, ‘kan? Kalian semua lihat, aku dikejar sosok mirip Mbah. Tapi kalian sebatas melihat tanpa ada keinginan buat menolong, brengsek kalian!”

Iru dan Ajeng memandang Amar dengan kebingungan, “Apo maksud kau, Amar? Mimpi pedio? Sosok apo?” tanya Iru dengan penuh keheranan. (Apa maksudmu, Amar? Mimpi apa? Sosok seperti apa?)

Pemuda itu tertawa, tak percaya dengan reaksi sepupunya. Amar melanjutkan, berusaha mendapatkan jawaban dari semua keanehan ini.  Menurut Amar jika semuanya hanya mimpi, mengapa kakinya terluka? Mengapa saat orang lain melihat Mbah, ia selalu tertidur, sedangkan semalam Amar yakin ia berperilaku aneh dan merangkak di hadapannya? Mengapa hujan tak pernah berhenti di dusun ini, dan di mana ibunya? Keringat bercucuran dari wajah Amar saat ia melepaskan semua kejanggalan tentang serangkaian kejadian aneh yang menurutnya tidak masuk akal.

Iru terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang rumit ini. Ruangan yang remang-remang menambah kegugupan suasana. Cahaya redup dari tungku kayu menyebarkan bayangan menyeramkan di sekeliling mereka. “Kau masih terpengaruh samo kejadian kebakaran itu kalu, Mar,” ujar Iru dengan suara yang gemetar, terdengar samar di tengah keheningan. (Kamu masih terpengaruh oleh insiden kebakaran silam mungkin, Mar)

Iru mencoba menenangkan Amar, menyiratkan bahwa keluarga mereka sudah melupakan kejadian itu, tidak ada yang membahas insiden lima tahun silam itu ke permukaan. Iru juga menjelaskan bahwa Mbah seringkali tertidur lama setelah lumpuh, dan Ibunya sedang berada di rumah rumah Ajeng, untuk membahas masalah keluarga yang mendesak.

Amar masih ragu dan memohon agar mereka mengantarkannya ke ibunya, tetapi Iru menolak dengan tegas, mengangkat alisnya dengan tegas, dan Ajeng tetap bungkam. Suasana tegang semakin terasa di ruangan itu. Mereka berdalih bahwa mereka datang hanya untuk mengganti pakaian Mbah, membersihkan tubuhnya, dan memberinya makan seperti hari-hari biasanya. Amar merasa semakin terjebak dan tidak yakin dengan alasan mereka.

Amar tetap kuat pada pendiriannya, bahkan sepupu yang seharusnya sangat ia percaya kini kata-katanya pun tidak masuk akal bagi Amar. Jawaban Iru tidak menjawab pertanyaannya dan malah semakin melilit pikirannya.

Amar masih berusaha menggali informasi, namun Ajeng akhirnya buka suara. "Sudahlah, Mar, imajinasi kau jangan bikin kami susah," ucap Ajeng dengan tatapan mata kosong. “Men kau yakin nian kalo itu bukan mimpi, cubo kau hadapi, pastike nian men itu bukan mimpi.” (Kalau kamu sangat yakin itu bukan mimpi, coba kau hadapi sosok itu, pastikan kalau itu benar-benar bukan mimpi)

“Ajeng!”

“Ngapo, Ru? Benerlah saran aku, men Amar curiga nian, ngapo dak dio pastike dewek. Ajak sosok itu ngomong kek, apo bunuh sekalian. Kalu be berenti dio didatangi.” (Kenapa, Ru? Saranku bener, kalau Amar curiga sekali, kenapa ga dia pastikan sendiri. Komunikasi coba atau sekalian bunuh aja. Mungkin dengan begitu sosok itu berhenti datengin).

Amar merasa adrenalinnya memuncak saat mendengar ucapan yang sembrono dari Ajeng. Meskipun kata-katanya terdengar tidak masuk akal, namun ada sesuatu yang membangkitkan keberanian dan keingintahuan di dalam diri Amar. Ia merasa dorongan kuat untuk menghadapi sosok misterius dalam mimpi dan mengungkap kebenaran di balik semua kejadian aneh yang terjadi.

Tapi Amar berakhir diam, tidak menanggapi hingga keduanya berpamitan untuk pulang.

[]

 

 

Komentar

Postingan Populer