DUSUN JANGKUNG | BAG I

Dusun Jangkung

Cerita ini adalah fiksi yang dikembangkan dari peristiwa nyata. Nama tokoh dan lokasi disamarkan untuk menjaga privasi dan kenyamanan bersama.

Penulis : Hana Janatan S

Juni 2012

Perasaan hina yang Amar tanggung lima tahun lalu, langsung menyergap; saat lirikannya tanpa sengaja menangkap gapura kuning berlumut, dengan nukilan timbul berbunyi "Selamat Datang di Dusun Jangkung" —demi Tuhan, gerbang masuk itu nyaris tak berubah, padahal satu lustrum sudah berlalu. Sontak Amar buang pandangannya. Wajahnya memanas bersamaan dengan sekelebat memori yang enggan ia ingat. Traumanya malah kembali terpatri dengan jelas. Sial, Amar tidak pernah berpikir untuk kembali ke sini.

Pertanyaan yang sudah lama tidak muncul kembali bergumul; kenapa, kenapa, kenapa. Kenapa lima belas tahunnya tidak ia jalani selayaknya remaja normal? Apa yang dulu ia pikirkan saat menerobos masuk ke toko tua itu dalam keadaan mabuk, lanjut mencuri sejumlah cerutu dan menghisapnya dengan rakus? Dan lagi, seberapa mabuk dirinya hingga dengan gagah memasukan puntung yang masih terjilat oleh api ke dalam jeriken penuh bensin? Kenapa kebakaran hari itu tidak ikut melahapnya habis? Kenapa sang Mbah bersikeras menutupi kelakukan cacatnya?

Matanya memicing, hidungnya berkerut. Otaknya memutar perkara itu layaknya kaset rusak; bukan hiperbola, kepalanya memang jadi pening luar biasa. Ia tentu tak ingin membuat Ibu merasa bersalah karena sudah memaksanya berkunjung ke rumah Mbah. Tapi demi Tuhan, Amar tidak bisa menyembunyikan keresahannya.

"Dak apo, Nang, wong lah lupo galo pasti," Ibunya menjeda. "Jenguk Mbah bentar, terus balek kito. Janji. Ibu janji." (Gapapa, Nak, semua pasti sudah lupa. Temui Mbah, lalu kita pulang. Janji. Ibu janji).

Penekanan dalam ucapan Ibu, membuat Amar sedikit tenang, lanjut menyunggingkan senyum tipis. Rasa getir ia telan lumat-lumat. Baiklah, sudah sepantasnya Amar menanggung perasaan gelisah ini, yang bahkan sebenarnya tidak sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lampau. Luka bakar di wajahnya bahkan tak sebanding dengan korban kebakaran yang kehilangan harta bendanya. Mungkin ini sudah saatnya ia berhenti jadi pengecut.

Amar menata pikirannya bersamaan dengan menipisnya jarak yang sudah mereka tempuh. Namun lamunannya buyar saat mobil melambat, lalu total berhenti. Amar kira supir travel ingin menaikkan penumpang lain, karena memang yang tersisa di dalam mobil hanya ia dan Ibunya. Namun ternyata bukan, bukan itu.

"Maaf Bu. Ado kerumunan di depan, dak berani aku nerobos, ngeri gek dicegat samo wong sini." Ujar sang supir sambil melepas sabuk pengamannya. (Maaf Bu. Ada kerumunan di depan, saya ga berani nerobos, takutnya dicegat orang desa).


"Aku wong asli sini, Pak. Ramah galo, dak katek yang cak keras di sini. Jalan bae, Pak." Jawab Ibu meyakinkan. (Saya orang asli desa ini, Pak. Warganya ramah, ga pernah agresif. Jalan saja, Pak).

 

Supir itu menoleh ke kursi belakang, "Alhamdulillah, Bu, men aman. Tapi maseh nak izin tulah, Bu, ke warga. Sekalian nanyo kalu itu rame-rame oleh wong tabrakan apo pedio, kalu be butuh pertolongan." (Alhamdulillah, Bu, kalau aman. Tapi saya tetap mau izin dulu ke warga, Bu. Sekalian nanya mungkin ada kecelakaan lalu lintas atau apa dan mereka butuh pertolongan).

 

"Oy, Pak—"

 

"Tunggu, Bu, eh. Dengat bae ini." Pria paruh baya itu langsung keluar dari mobil, tak menghiraukan permintaan Ibu. (Ditunggu ya, Bu. Sebentar saja).

Ibu yang merasa diacuhkan, kesal. Berakhir menggerutu tak jelas. Amar bingung dengan reaksi berlebihan dari Ibunya. Sang supir hanya berusaha bertindak sopan di tanah orang lain, apa salahnya?

Menyadari supir travel yang tak kunjung kembali, Amar menurunkan kaca jendela di sampingnya. Rinai hujan menciprat wajah, namun tetap ia keluarkan kepalanya dari jendela agar bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Rumah merah jambu, tanpa pagar, berdiri tepat di samping jalan sebelum tanjakan, dikerumuni warga desa juga beberapa figur berseragam, dan yang paling mencolok adalah garis kuning polisi yang melingkari sisi samping rumah. Amar menatap datar, tak tertarik lebih jauh dengan apa yang terjadi, apalagi karena rumah itu terasa asing baginya; bukan salah satu dari puluhan rumah yang ia ingat lima tahun silam.

Menaikkan jendela, Amar kembali geming di kursinya. Matanya menjelajah seisi mobil untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengelap tetesan air di wajah. Lalu perhatiannya tertuju pada tisu yang ada di dasbor depan —tepatnya samping kiri. Amar berusaha meraih, namun atensinya teralihkan saat manik mata tak sengaja menyorot danau di sebelah kiri jalan. Danau yang kerap menjadi 'taman bermainnya', tempat ia dengan sejawat masa kecilnya berenang, memancing, hingga mandi, sekaligus danau yang menyaksikan kecelakaan malam itu; Danau Simpuh.

"Ibu! Samping kito nih Danau Simpuh?" Histeris Amar meninggikan suaranya ia baru menyadari sesuatu. "Warung yang tebakar dulu, posisinyo pas nian 'kan seberangan Danau Simpuh? Berarti rumah merah jambu yang dikerumuni wong ini, dulunyo warung itu?" (Ibu! Di samping kita, itu beneran Danau Simpuh? Toko kelontong yang terbakar dulu, posisinya persis di seberang Danau Simpuh 'kan? Berarti rumah merah jambu yang dikerumuni orang ini, dulunya toko kelontong itu?)

Ibunya tak langsung menjawab, ia jemput tangan anaknya, ia genggam seolah menyalurkan kekuatan. Sedang Amar masih hanyut dalam pikirannya, tubuhnya bergetar hebat, potret kejadian lawas itu kembali tergambar jelas, rasa bersalah langsung menyelimuti dirinya.


Amar tenggelam dalam perasaan, bahkan saat sang supir mengetuk jendela keras; meminta Ibu menurunkan jendela mobil, Amar tetap geming. Tapi ketika telinganya menangkap informasi itu, Amar terperanjat.

"Ado yang betujahan di rumah itu, Bu. Sikok mati" (Ada pembunuhan di rumah itu, Bu. Satu tewas ditusuk).

 

 

[]

 

 

"Pede nian, kau nih!" Ucap Iru dengan nada jenaka sambil menyodorkan teh hangat, bahunya bergetar menahan tawa. "Dak segalo kejadian ado kaitannyo samo kau." (Narsis banget sih! Ga semua kejadian ada kaitannya sama kamu).

Amar jadi kikuk, berakhir mengulum senyum dan menyeruput tehnya. Kenangan baiknya di desa ini memang melebur bersamaan dengan dirinya yang bertambah umur. Yang tersisa hanyalah impresi kelam dari peristiwa kebakaran malam itu. Jangan salahkan Amar bila ia jadi menaruh sangka dengan dirinya sendiri.

"Bener, rumah yang kau jingok tadi emang dibangun di atas tanah bekas warung tebakar itu. Tapi yang tinggal di sano wong pendatang. Katek kaitannyo samo pemilik warung yang dulu," Iru menghela napas. "Mano itutuh kejadian kemarin malam, bukan pas nian dengan kau datang ke sini." (Benar, rumah itu dibangun di atas reruntuhan toko kelontong tempat kejadian dulu. Tapi yang tinggal di sana orang pendatang. Ga ada kaitannya sama pemiliki toko yang dulu. Lagi pula kejadiannya terjadi kemarin malam, bukan bertepatan saat kamu datang ke sini)

“Cak mano ceritonyo, Ru?” (Apa yang terjadi, Ru?)

“Aku dak terlalu kenal samo keluargo itu, oleh mereka baru pindah 2010 kemaren, yang pasti anak paling tuonyo yang nujah si Bapak.” (Aku ga begitu kenal sama keluarga itu, karena mereka baru pindah tahun 2010 kemarin, yang pasti anak sulungnya yang menikam si Bapak).

Amar tersedak teh mendengar penjelasan Iru, “Hah? Serius? Anak kandong?” (Hah? Seius? Anak kandung?)

Iru mengangguk, “tapi jujur be, aku salah satu wong yang tepuk tangan di atas kematian tuo bangka mesum itu.” Alis Amar berkerut bingung, membuat Iru melanjutkan, “Bejat, bejat nian bapaknyo tuh. Memang lah terkenal kanji, lah tau galo wong tabiat dio. Enggok cak itu warga dak pernah tepikir taunyo dio galak gaweke anaknyo dewek. Mano istrinyo tuh, lah lamo tau, dari setaon yang lalu malah, diam be tapi dio.” (Tapi jujur aku salah satu orang yang merayakan kematian tragis tua bangka mesum itu. Bapaknya bejat, kepalang bejat. Sudah terkenal mesum di seluruh penjuru dusun. Tapi siapa sangka si brengsek itu malah sering menyetubuhi anak kandungnya yang masih SMA secara paksa. Terlebih istrinya, padahal sudah mengetahui kelakuan bejat itu dari satu tahun yang lalu, tapi malah memilih bungkam).

Mata Amar terbelalak, tak percaya insiden sebiadab itu bisa terjadi di desa kecil ini, “kacau nian, Ru” (kacau banget, Ru).


“Teros tuh…” Iru memberi sela, “ini lah korban keenam—AW!” Perkataanya terpotong saat Bi Atun, ibunya Iru, tiba-tiba datang mencubit bahu anaknya dengan keras. (Dan lagi...ini sudah korban keenam—AW!)

“Hus kau ini, empai betemu sepupu, malah ngomong dak keruan agok. Dak usah dengeri ye, Mar.” (Hus kamu itu, baru ketemu sepupu malah meracau yang aneh-aneh. Jangan didengerin ya, Mar).

"Hah? Ah, iyo, Bi!" Jawab Amar sekenanya. Jujur ia grogi berinteraksi dengan Bi Atun. Bukan apa, tapi sejak kejadian lima tahun silam, semua sanak keluarga berubah sinis, hanya Iru yang selama ini tetap bersikap baik kepadanya. Padahal Amar pernah berharap keluarganya bisa melupakan tragedi itu dan memaafkannya. Tapi saat mendengar nada ramah dari bibinya tadi, ternyata bukan rasa lega yang Amar temui melainkankan —janggal.

“Mar, kau lah ketemu Mbah?” (Mar, kamu udah ketemu Mbah)

 

 

[]

 

 

Amar berakhir sendirian di rumah Mbah. Interaksinya dengan keluarga besar tadi terasa dipaksakan. Maka saat Ibu membujuknya menjemput Mbah yang sudah tidak bisa berjalan lagi, Amar menolak dengan mantap. Memilih menunggu di rumah. Dulu, semua Bibi dan Mamangnya tinggal di rumah Mbah. Delapan bersaudara, di mana enam di antaranya sudah memiliki keluarga, membuat rumah Mbah dahulu terasa sangat hangat. Tapi entah apa yang ia dan Ibu lewatkan, saat kembali ke rumah gedong yang biasa ramai oleh suara anak kecil itu, hanya tersisa kekosongan.

Semua saudara Ibu memutuskan membangun rumah sendiri dan Mbah ikut diboyong ke rumah Mang Hamdan —si sulung. Sehingga rumah Mbah sepenuhnya tak berpenghuni.

Amar berbaring di kasur kamar utama; dulunya ini milik Mbah. Gerimis di luar tak berhenti sama sekali. Rumah dengan dinding kayu membuat udara dingin masuk dan langsung menusuk ke kulit. Puncak rumah yang tersusun dari genting tanah liat, meredam gema titik-titik hujan yang jatuh. Bunyi tonggeret menemaninya di sana. Dahulu ia takut dengan bunyi khas serangga itu, tapi sekarang iramanya yang konsisten membuat Amar terlampau nyaman. Padahal ia berencana menyambut Mbahnya saat beliau sampai, tapi matanya sangat berat, lalu perlahan terpejam ke bawah alam sadar.

Amar terbangun saat mendengar ketukan keras dari pintu depan. Entah sudah berapa lama ia terlelap, namun melihat belum ada tanda-tanda Ibu maupun Mbah di sekeliling rumah, Amar yakin yang mengetuk pintunya pasti mereka. Langkahnya ringan, ia terlalu bersemangat menemui Mbah. Keresahan yang sedari tadi ia rasakan, menguap tak bersisa. Amar yakin meski seluruh keluarganya menganggap dirinya sebagai aib, Mbahnya tetap akan menyambutnya hangat.


Dibukanya pintu kayu itu. Berdiri sosok familiar yang selama ini ia rindukan, tersenyum lebar dengan lengan yang terbuka.

"Mbah!" Amar menenggelamkan tubuhnya ke pelukan ringkih itu. Ia rasakan elusan lembut di punggungnya. "Amar kangen nian, Mbah. Amar lah lamo pengen ketemu, Mbah, tapi atek rai lagi ntok ketemu langsung. Malu.” (Amar kangen banget, Mbah. Amar udah lama pengen nemuin, Mbah, tapi ga ada muka buat ketemu langsung. Malu).

Tak menjawab, Mbahnya hanya menggumamkan sesuatu sambil terus memeluk Amar. Celoteh Amar berlanjut menceritakan soal kuliah, magangnya, hingga perempuan yang ia sukai. Pelukan keduanya tetap tak terlepas hingga saat Amar memperhatikan sekitar ia baru sadar bahwa langit sudah terang benderang, matahari rasanya sangat panas. Ini bukan subuh, teriknya benar-benar seperti siang bolong. Amar jadi berpikir ulang; sudah berapa lama dia tidur?

Berusaha melepaskan pelukan erat Mbahnya, Amar bertanya, “Mbah, kesini dewekan? Mano Ibu?” (Mbah kesini sendirian? Ibu mana?)

Tetap sama, tak ada jawaban, pelukannya tak mengendur hingga sesak mulai Amar rasakan. Amar tertawa sambil bercanda, “Mbah, kangen nian eh? Sampe meluk dak lepas-lepas?” (Mbah, sebegitu kangennya kah? Sampai peluknya ga dilepas-lepas?)

Tak menjawab, gumaman Mbah semakin terdenger jelas, Amar menahan napasnya saat pendengarannya mulai menangkap apa yang sejak tadi wanita tua ini rapalkan.

“Pendatang sialan, pendatang sialan, pendatang sialan.”

Amar mulai merasa ada yang tak beres, ia berusaha melepas dekapan Mbahnya dengan pelan, namun semakin ia berusaha, pelukannya semakin erat. Erat sekali hingga membuatnya terbatuk beberapa kali. Amar menunduk mencari celah, hingga pandangannya terfokus pada kaki penuh kerutan itu. Amar baru menyadari sedari tadi Mbahnya datang ke rumah sendirian, berdiri dengan kokoh tanpa bantuan siapapun. Padahal dari yang pemuda itu dengar,

“Mbah,” Amar menelan salivanya tegang. “Kakinyo lah sembuh?”

Ia rasakan pergerakan di lehernya, kepala wanita itu menyamping hingga dagunya bersentuhan dengan daun telinga Amar, memegang tengkuk pemuda itu sebelum berteriak,

“WES MAREM TURUMU BOCAH SETAN!” (Sudah puas tidurmu, anak setan!)

Amar tersentak bangun, telinganya berdenging, melihat sekeliling; ini masih di kamar Mbah. Ia hanya bermimpi. Keringat di pelipisnya Amar seka, sedikit linglung dengan keadaan namun saat memeriksa jam di ponselnya, ternyata masih pukul 19.30. Pemuda itu hanya terlelap sebentar. Sial, mimpinya tadi masih mengulang-ulang di ingatan. Teriakan serak yang tak pernah Amar dengar keluar dari mulut Mbahnya, entah kenapa terasa nyata.

Saat ia masih berusaha menenagkan diri, dari pintu depan terdengar ketukan; ketukan yang sama seperti yang ia dengar dalam mimpi. Ragu, Amar tak langsung menggubris ketukan itu sampai ada suara yang bisa Amar konfirmasi bukan dari sesuatu yang mengerikan.


“AMAR! BUKA PINTU!” Ah, itu Ajeng. Tak Amar harapkan datang, tapi lebih baik daripada setan.

Bergegas membukakan pintu, yang Amar lihat adalah Mbah di kursi roda, Ajeng dibelakangnya, beserta Ibu di sampingnya. Amar sungguh jadi lega, meskipun kecewa melihat kondisi Mbahnya yang terlihat parah. Belum sempat Amar terucap sesuatu, Ibunya dengan cepat masuk dan menyuruh Amar bersama Ajeng untuk cepat membaringkan Mbah ke kasur. Sepupunya itu masih sama ketusnya, di saat keluarga yang lain seperti sudah memaafkan kesalahan Amar, Ajeng terlihat tidak melupakan sedikit pun rasa bencinya terhadap Amar.

“Baguslah kemaren kau dak balek-balek lagi kesini,” Ajeng membuka suara. “Luso besok tanggal 18 Juni, dak malu kau? Masih pacak napas di tanggal yang samo pas kau bakar warung wong itu?” (Udah bagus kamu ga usah balik lagi kesini. Lusa besok tanggal 18 Juni, kamu ga malu apa? Masih bisa bernapas di tanggal yang sama persis sama kejadian kebakaran toko itu dulu?)

Amar hanya diam, ia tahu betul karakter sepupunya yang satu ini; pemilihan katanya sadis dan tak pernah meleset menyakiti hati Amar. Maka setelah Mbah terbaring nyaman, dirinya langsung angkat kaki dari kamar itu.

“Katek yang nyambut kau di sini, Mar!” lanjut Ajeng saat Amar masih di ambang pintu hendak keluar. “Men kau sadar, sebenernyo wong muak galo samo kau. Baleklah sebelum tanggal 18 dan malam ini kalo kau ngeliat ado yang dak biaso, langsung keluar bae.” (Ga ada yang menyambut kamu di sini, Mar! Kalo kamu sadar, sebenernya semua orang masih muak terhadapmu. Pulanglah sebelum tanggal 18 dan malam ini jika melihat sesuatu yang ga biasa, cepat keluar dari rumah).

Ajeng keluar kamar mendahului Amar, meninggalkan pemuda itu dalam kebingungan.

 

 

[]

Komentar

Postingan Populer