AKU HARUS APA? Bag II
AKU
HARUS APA?
Karya : Ilham Ramadhan
2
Catatan : Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Penulis menyamarkan nama tokoh, tempat dan waktu demi melindungi privasi narasumber.
Sabtu malam pekan pertama di bulan natal merupakan hari yang menjadi saksi pertemuanku dengan kak Indah, sosok bidadari berduri di kampus yang saat ini sedang ku targetkan untuk menduduki sebuah kursi kosong dalam sanubari. Aku merasakan ada sebuah chemistry yang terbangun dari oborolan kami malam itu. Rasa nyaman yang aku rasakan makin menjadi-jadi dari malam itu, sampai pada akhirnya di malam berikutnya, sebuah panggilan mampir di handphone milikku. Kak Indah menghubungiku malam itu, menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungi, dia mengucapkan terima kasih atas makanan dan minuman yang telah aku traktir. Hal kedua yang ingin ia sampaikan padaku adalah tentang nasib kelanjutan hubungan antara kami berdua, dia mengatakan bahwa dia benar-benar tidak bisa melanjutkan lebih jauh lagi dari apa yang sudah ada sekarang. Aku tergemap mendengar ucapannya, mengapa kak Indah bisa selucu ini, apa dia sangat lapar sampai-sampai dia bisa memakan kembali omongannya sendiri? Tepat 2 hari yang lalu dia yang memberikan lampu hijau untukku agar tetap terus berjuang, tapi kenapa seakan-akan keabsahan dari sinyal itu menjadi bias sekarang? Aku merasa dipermainkan. Sebuah lagu berputar di radio kesayanganku menyajikan lagu "Ku Katakan Dengan Indah" Peterpan, mestakung dalam hati aku berbicara.
"Kau beri
rasa yang berbeda, mungkin ku salah mengartikannya yang kurasa cinta." Aku
ingin kak Indah tahu bahwa lirik berikutnya adalah apa yang ingin aku katakan
padanya benar-benar untuk saat ini.
"Tetapi
hatiku selalu meninggikanmu, terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu"
Belum selesai
obrolan kami di telepon saat itu, aku kembali dikejutkan oleh sebuah pesan
singkat yang masuk ke WhatsApp milikku.
"Nak, Gery
masuk rumah sakit." Ibu memberikan kabar bahwa adik pertamaku masuk rumah
sakit.
Aku tutup
sambungan teleponku dengan kak Indah yang saat itu sedang membahas sesuatu
namun sama sekali tidak aku gubris. Sigap aku menyiapkan tas yang aku isi
dengan pakaian, aku segera mencari tiket kereta untuk pulang kerumah besok.
Kalut adalah kata yang tepat untuk menggambarkan isi pikiranku malam itu, mulai
dari kak Indah yang seenaknya mengatur jalan cerita laksana sutradara, hingga
adik pertamaku yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit. Malam itu aku
tidak tidur sama sekali, pikiranku sangat penuh. Bukan lagi tentang kak Indah,
justru kali ini aku sangat memikirkan bagaimana keadaaan Gery yang sedang
melawan leukemianya. Aku adalah sosok pejuang yang tak tahu apa arti menyerah,
semua hambatan dan rintangan yang ada di hadapanku akan aku lewati. Tapi jika
sudah berkaitan dengan keluarga, apalagi mendengar ada keluarga yang menderita,
aku bisa merasakan lemas yang tak terhingga. Aku sayang ibuku, aku sayang
adik-adikku yang dulu sering aku jahili, aku tak mau lagi kehilangan sosok
penting dalam keluarga, cukup ayah yang sudah pergi meninggalkan keluarga ini,
jangan ditambah yang lain, aku belum siap. Kemana aku selama ini? Apa aku
terlalu sibuk dengan urusan dunia dan cinta hingga keluarga yang aku sayangi
sampai tak terlihat? Semoga saja sifat gigih dan pantang menyerah milikku ini
juga turun ke Gery, adikku tersayang.
Matahari
menyingsing, pagi menyapa diriku yang sampai saat ini belum bertemu dengan rasa
kantuk. Aku segera membersihkan diri, meminta bantuan salah satu teman kost
yang sudah bangun sekarang. Lempuyangan adalah stasiun awal keberangkatan,
Joglosemarkerto adalah kereta yang akan mengantarkanku ke kampung halaman,
perjalanan selama 7 jam sangat membuatku tak nyaman, bukan karena fasilitas di
dalam kereta yang aku rasakan, namun isi pikiran yang bercelarulah yang tak
bisa ku tepikan. Tak berhenti lisan ini mengucapkan dan mengirimkan doa untuk
adikku disana. Setiap stasiun yang disinggahi oleh kereta ini menghadirkan
sebuah pemandangan yang sangat membuatku terpukul, banyak sekali pasangan,
teman bahkan keluarga yang mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, atau
bercengkerama dalam kereta. Sebuah kehangatan yang sebenarnya sudah aku miliki,
namun seakan terhalang oleh kata "cinta" yang menghalangi tabir murni
bahwa aku adalah manusia kafi.
Sampailah aku di
stasiun Tawang, sial aku baru ingat bahwa aku lupa membawa charger yang mungkin masih ada di kamarku sekarang. Aku memutuskan
untuk memesan ojek online melalui gawai
yang sudah menunjukkan baterai di level lima persen, karena aku paham tidak
akan ada yang menjemputku di stasiun siang ini, mengingat ibu pasti sedang
menunggu Gery di rumah sakit, sedangkan adikku yang lain belum bisa mengendarai
sepeda motor, aku tujukan arah pesananku ke salah satu rumah sakit terkenal di
kota kelahiranku. Sesampainya disana aku ingin menghubungi ibu untuk menanyakan
di ruang apa Gery dirawat, tapi sayangnya handphoneku
sudah mati total, bergegas aku bertanya kepada salah satu suster di meja
resepsionis. Setelah mendapatkan arahan dari suster bahwa Gery dirawat di kamar
anggrek di lantai tiga, aku segera berlari menuju ruangan yang dimaksud.
Berdirilah aku di depan sebuah pintu bertuliskan "Anggrek". Ini dia
kamarnya, aku buka pintu itu secara perlahan, aku mengucapkan salam secara
perlahan dan melihat seisi kamar, seketika lemas menjalar dari otak hingga
lututku.
~
.jpg)

Komentar
Posting Komentar